Hallo Tuan, tidak terasa ya dalam
waktu yang tak singkat ini ternyata kita masih bisa bertahan dalam kebisuan.
Mungkin lebih tepatnya bukan kita tapi kamu. Jujur, aku tak pernah siap dengan
keadaan seperti ini, apa lagi harus bertahan dalam kebisuan itu sendiri. Kau
tahu, rasanya begitu menyakitkan. Ohya aku lupa, kamu tidak tahu kan apa itu
rasa sakit, karena yang kamu tahu hanya bagaimana cara menyakiti. Benar bukan?
Iya benar, karena kamu tidak pernah tahu rasanya bertahan dalam ketidakpastian
seperti ini. rasanya benar-benar tidak adil bagiku, tapi apa daya semua sudah
menjadi pilihan.
Tuan, maaf karena kini aku harus
pergi. Bukan karena tak lagi cinta, tapi aku berusaha mengalah demi
kebahagiaanmu. Maaf karena aku membiarkan awan menjadi kelabu, membiarkan bumi
kembali menangis lagi, aku membiarkan setiap tetes air yang terjatuh meresap
mejadi sebuah senyuman kecil dalam kepingan kenangan yang dulu pernah kita
ukir. Tuan, kini biarkan aku berjalan sejenak. Aku lelah jika harus terus
berlari marathon untukmu. Karena aku merasa semua hanya akan menjadi sia-sia . Ketulusan,
pengorbanan, semua melebur begitu saja.
Cukup, kini biarkan kesendirianku
menjadi keindahan yang mampu memperbaiki setiap luka yang kau goreskan. Ku kira
awalnya kebersamaan kita akan menjadi kejutan terindah, tapi nyatanya menjadi
kejutan yang begitu menusukku. Aku sudah terlalu jauh bermimpi tentangmu, di
langkahmu rasa ini tumbuh dan membeku. Sekali lagi, maaf Tuan. Aku tak bisa
membunuh rasa ini meski telah berulang kali kucoba.
Aku tak bisa kemana-kemana tuan.
Secepat apapun, sejauh manapun aku berlari nyatanya Cuma kamu yang menjadi
tujuan abadiku dan tak perlu ada alasan apapun, karena kamu tetap akan menjadi
alasan untuk membuatku bahagia. Maaf, jika pada akhirnya aku menjadikanmu sebagai
objek pencarian terakhirku. Maaf karena aku akan tetap memperjuangkanmu. Maaf
karena cinta ini selalu ada. Aku tak peduli jika kau menganggap ku telah hilang
kewarasan. Tidak masalah , karena aku
akan jadikan ini sebagai kesakitan yang paling membahagiakan.
Untukmu,
oksigen yang menguatkanku
Untukmu , darah yang tak yang tak
pernah berhenti mengalir
Dan untukmu yang abadi dalam rindu
penasbihanku dalam doa

0 komentar:
Posting Komentar