Kamis, 14 Juli 2016

Sabtu, 09 Juli 2016

"Menahan diri untuk tidak jatuh cinta mungkin tidak lebih berat daripada menahan rindu saat cinta terlanjur ada. Fokuskan diri dulu dalam perbaikan, dalam niat yang senantiasa diluruskan, dalam persiapan dan perbekalan, dalam visi dan cita-cita yang kelak akan diperjuangkan, serta dalam doa-doa yang dilantunkan. Semoga yang Allah tetapkan adalah yang terbaik nan membawa kebaikan." -  MAMA

Perihal Melepaskan

Perjuangan yang mungkin paling sulit dilakukan bukanlah memperjuangkan apa yang ingin dicapai/dimiliki, melainkan melepaskan apa-apa yang disenangi dan dicintai. Perjuangan untuk melepaskan segala bentuk kecintaan pada hal-hal yang memang tidak selayaknya mendapatkan lebih banyak cinta selain kepada Tuhan. 
Perjuangan untuk melepaskan orang yang didambakan demi meraih keridhaan, perjuangan untuk melepaskan pagi demi bangun dan berjajar rapi di barisan jamaah subuh, perjuangan melepaskan gadget demi lebih bisa memerhatikan orang lain. Dan aneka bentuk kecintaan dan kecenderungan manusia yang lain. 
Semakin hari, semakin tumbuh pemahaman baru yang membuatku semakin menyadari bahwa makna perjuangan itu bukanlah diukur dari apa yang didapatkan, melainkan apa yang menjadi tujuan dan bagaimana cara meraih tujuan itu.Aku hanya khawatir tentang niat dan tujuan, ketika ternyata aku salah meletakkan niat dan tujuan itu. Maka, bagaimana Dia melihat perjuanganku bila demikian?

Video jadul



Lagi buka-buka folder, ketemu video djaman doeloe. iseng2 belajar main gitar suara entah gimana maksa bgt wkwk,, 
sekarang udah jadi mahasiswi semester akhir, buat cari waktu luang agak susah hehe

Karena Terbiasa

 Semakin sering berkomunikasi, maka akan semakin meningkat pula kadar kecenderungan hati yang dirasakan dari dua lawan jenis yang bertautan  hati. Semakin besar kadar kecenderungan hati yang dirasa, maka akan semakin susah mengontrol hati tersebut.Jagalah apa yang dirasa di hati agar tidak sampai melalaikan cinta  tertinggi kepada-Nya.
                      -firrart-

“Ya Allah, jika seluruh ibadahku ini karena mengharap surgamu, maka kumohon jauhkan ia dariku,jika ibadahku ini karena takut akan nerakamu, maka dekatkan aku kepadanya,namun jika ibadah dan hidupku ini karena kecinta-an kepadamu, maka terimalah persembahan cintaku ini” 
-Rabi’atul adawiyah dalam doanya-
“Ya Rabb, sesungguhnya engkau maha mengetahui bahwa hati-hati kami telah berhimpun dalam kecintaan kepadaMu, bertemu dalam ketaatan kepadaMu, bersatu padu dalam memperjuangkan syari’atMu.maka Ya Allah, kumohon kuatkanlah ikatan cinta kami ini, kekalkanlah dan bimbinglah ia, terangi ia dengan cahayaMu yang tiada pernah redup. maka bimbinglah kami….” 
-Hasan albanna dalam doa Rabithah nya-

Beranjak Pergi

seusai paragraf ini berakhir semoga masing-masing dari kita bisa paham, semoga masing-masing dari kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. bahwa aku bukan lagi aku yang dulu. maafkan, karna dulu aku sempat menggoyahkanmu. 
Dear you.. Seterlah ini, setelah aku berjak pergi. 
aku tak meminta banyak darimu. Cukup jaga hatimu, jaga dirimu, jaga interaksimu dengan adab yang telah diatur antara perempuan dan laki-laki. Hati-hati dengan hati. Hati yang tak kau jaga akan membuatnya lebih sering tersibukkan dengan secuil rasa daripada mengingat Tuhannya.
Tautkan hatimu dengan Al-Qur'an, dengan ilmu. Pahami peran dan tugas masing-masing sebelum kita menjalani cerita berdua. Belajarlah banyak-banyak tentang ikhlas, sabar dan syukur, tentang arti bahagia sesungguhnya.
Jika di tengah proses menjagamu itu tetiba kau tergoda dengan sebongkah cinta dan rindu lain yang semu, maka ingat Tuhanmu, panjangkan sujud dan doamu. Minta kepadaNya agar Dia arahkan rindu itu pada jalan-jalan iman dan ketakwaan yang ditempuh mukminin dan mukminat terdahulu.
Kelak akan ada hadiah yang hendak kuberikan untukmu di setiap saat kita mengawali hari, serampai puisi dan nasihat sejuk untuk hati.

Kamis, 07 Juli 2016

Memantaskan diri karena Allah bukan karena Jodoh


Karena Pada akhirnya ketika diri terus menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya maka banyak hal yg akan kita dapatkan.

Tak hanya jodoh terbaik, dengan KehendakNYA impian demi impian yang kita harapkan pun akan Allah wujudkan diwaktu yang tepat, disaat kita siap dan pantas untuk mendapatkan.

Lalu bagaimana kalau diawal salah niat?

Nah, Allah maha penerima taubat. Saya pernah salah niat, awalnya ingin memantaskan diri karena Jodoh. Jadinya capek dan terjebak dalam “Cinta yang melelahkan”, ya berharap dan mencinta manusia juga “terkadang menyakitkan” #hiks 😂😂  #cukup jadikan pelajaran aja ya ðŸ˜‚😂

Dalam perjalanan saya tersadar dan bertaubat.

Saya mencoba terus berusaha dan belajar untuk mengikhlaskan dan terus memantaskan diri, belajar dan terus memperbaiki diri.

Dan saat kita berusaha meluruskan niat kita, belajar berusaha untuk ikhlas, berusaha terus bersabar dalam ikhtiar: InsyaAllah.. Allah akan tunjukkan jalan dan kuasaNya.

Entah pada Akhirnya…Allah akan wujudkan impian yg sudah kita tulis, atau Allah juga akan berikan jodoh impian, mungkin dengan seseorang yang pernah kita yakini namun sudah kita lepaskan bertahun-tahun lamanya tiba-tiba kembali dan dipersatukan kembali dalam RidhoNya, semuanya terjadi diwaktu dan saat yg tepat.

wallahualam..
mudah bagi Allah untuk merubah semuanya.
skenario Allah insyaAllah akan selalu indah.

Sampai saat ini saya masih terus memantaskan diri, karena disetiap level kehidupan tantangannya berbeda.

Belajar tak boleh berhenti, memperbaiki diri setiap hari, berkarya setiap hari.
Berusaha dan belajar terus untuk hidup bermanfaat untuk banyak orang.

Kita harus terus memantaskan diri…Sampai kita kembali pada Cinta yg sejati: Allah ilahi Rabbi.

Semangat yaa/
Semoga Allah kuatkan & tunjukan jalan terbaik bagi yg sedang berharap, bermimpi, dan belajar memantaskan diri.😊
jadikan kesalahan dan kekhilafan masa lalu menjadi pelajaran untuk perbaikan diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi.😊

Mengharapkan seseorang yang sempurna itu nggak akan ada.
Tetapi minta & berdoalah pada Allah, Pantaskan lah dirimu agar Allah pertemukan dan persatukan dengan seseorang yang bisa membuatmu menjadi lebih baik setiap harinya.
Menyertaimu untuk meraih mimpi-mimpi bersama…Seseorang yang membersamaimu untuk menggapai RidhoNya…Seseorang yang berkomitmen membangun Cinta Sehidup Sesurga…“
Semoga Allah berikan yang terbaik disaat yang tepat.
InsyaAllah…

BELAJAR IKHLAS MELEPASKAN

Karena kita mencintai yang sewaktu-waktu akan hilang.
karena kita berharap pada yang sewaktu-waktu pergi.

SEMOGA MASING-MASING DARI KITA BISA SALING MENERIMA KEPUTUSAN UNTUK MENGIKHLASKAN PERPISAHAN. SEMOGA KITA BISA MENEMUKAN BAHAGIA DI WAKTU YANG TEPAT, ENTAH DENGAN ORANG YANG SAMA ATAU DI GANTI DENGAN PILIHAN ALLAH YANG LEBIH BAIK SEBAGAI PENDAMPING DUNIA AKHIRAT.
-CUKUP IKHTIAR MENGHARAP RIDHO ALLAH-


SEMOGA ALLAH MEWUJUDKAN IMPIAN TERHEBAT DISAAT KITA PANTAS MENDAPAT. SEMOGA ALLAH BERIKAN PENDAMPING TERBAIK, JODOH DUNIA AKHIRAT DISAAT YANG TEPAT. 

"Tak akan lupakanmu tapi kuharap bisa mengikhlaskan cinta karena kuyakin rencanaNya lebih indah jika berjodoh kita kan DisatukanNya.
 
Tak mau hapuskanmu tapi kurela Melepasmu kepadaNya karena kuyakin pilihanNya yang terbaik jika tak bersatu Allah kan pilihkan jodoh yang lebih baik."

"BELAJAR MENGIKHLASKAN, HINGGA ALLAH MENYATUKAN."

Jumat, 01 Juli 2016

Jatuh itu ; Padamu

Tak ada yang meniatkan diri untuk terjatuh, tidak akan pernah ada. Aku kepadamu pun sama. Terlambat untukku menahan diri agar tidak terjatuh kepadamu. Yang kutahu kini aku sudah jatuh pada segalamu, entah sedalam apa.  
Belum kurasakan sakit, karena jatuhku dibarengi dengan jatuhmu. Nanti bisa saja merasakan sakit, tergoreskan entah apa yang menyebabkan sedikit luka. Namun tenang, katamu; kita akan menyembuhkannya segera  dengan lirih maaf dan tulus memaafkan.
Kita benar-benar terjatuh kini, dengan rasa, bersama pula, tidak aku saja atau kamu saja. Semoga seterusnya juga sama. Jatuh sedalam-dalamnya, setiap harinya. Berulang kali, bergulir hari hingga menyenja, menua.

Menjarak

Tidak segalanya seperti ekspektasimu
Selalu tampak ringan dihadapmu
Kembali merekah setelah tersendu

Kembali bangkit setelah terjatuh
Mencoba menuai kembali namun semu
Aku tak sama denganmu
Tidak sesederhana itu, Tuan
Selamat
Hatiku berhasil kau pasung seluruhnya
Selalu, terlihat mudah bagimu
Ternyata perubahanmu mengarah pada kepergian
Menjarak lalu perlahan hilang
Menghentakkan langkah dan enggan membalikkan arah
Seperti menghidupkan ketakutanku yang telah lama redup
Menerka apa yang akan terjadi setelahnya
katamu, aku harus sepertimu
namun aku tetap saja lemah
Terlanjur utuh hati ini mencintaimu
karna nyatanya aku tak akan benar-benar siap perihal kehilangan

Kecewa Dibalur Bahagia

Betapa kecewa di balur bahagia. Kau memutuskan untuk memilihku, dan memberanikan hati membuka lembaran baru selepas dia yang dulu pernah ada beranjak pergi dari hidupmu. Maaf bukan bermaksud lancang. Jika memang aku yang kau pilih, dan jika kau sudah bertekad membuka hati untukku, mengapa di hadapan meraka kau bersikap dingin seolah kau masih tetap sendiri? Ironis bukan.
Seolah kehadiranku tak pernah berarti apa-apa bagimu?  Seolah semua yang pernah kita lewati hanya sekedar sumpah serapah? Apakah aku egois jika berkata seperti itu? Apakah ini menyiksamu? Jangan membuatku berasumsi terlalu jauh.
Aku mengerti bahwa cinta itu memang perihal percaya, namun  saat ini aku tidak tahu sosok seperti apa yang berarti nyata bagimu. Kau harus pahami ini, meski kita dekat  dan (mungkin) saling cinta, namun tidak saling memberitahu itu menyakitkan, jadi tolong jangan mebuatku tepasung dalam keadaan yang memaksaku jatuh berkali-kali.

Perkara Waktu


Ini hanya perkara waktu tuan, karena selama apapun yang datang dan menetap, pada akhirnya akan kembali pada sebenar-benarnya pulang. semoga kau betah berlama-lama disampingku, pun jika kau butuh aku untuk tetap diam disampingmu. Sampai bayangan kita yang menua pada mata satu sama lain, adalah senja terakhir yang kita lihat.

Semoga Allah melapangkan hati, menguatkan bahu dan meningkatkan ketaqwaan kita.

Mengerti

Ayah, sekarang aku mengerti.
Tidak ada yang perlu dicari. Kualitas diri seseorang akan mendekatkan pada kualitas yang tidak jauh berbeda. Aku pernah salah untuk merendahkan diri. Aku juga pernah salah untuk meninggikan diri. Sekarang aku mengerti, untuk lebih memahami diri sendiri. Berusaha memperbaiki diri. 
Aku menemukan. Meski aku belum tahu apakah ini jawaban. Tidak memaksa. Tanpa tuntutan. Aku hanya menerima. Membuka hati. Menimbang segala mungkin dan tidak mungkin. Ya, rasa memang memiliki logika. Tidak sepenuhnya buta. Tidak tergesa. 
Debar-debar ini berbeda. Kecemasan ini berbeda. Semua, membuatku lebih menyungkurkan diri untuk meminta. Aku tidak bisa apa-apa. Segala kejadian adalah skenario langit. Aku tidak mampu menggenggam hati siapa-siapa. Hanya sepenuhnya percaya, jika memang ini jawaban, maka kami akan saling menemukan, dan segera saling meyakinkan. Menyamakan langkah. 
Terngiang pula nasihat seorang sahabat, 
“Jika kau benar-benar menginginkannya, maka kau akan benar-benar memintanya, dengan kesungguhan. Terbangun pada malam-malam sepertiga. Mengharap dengan doa-doa. Semoga.”

by: ourmetime 

Mencari Tahu

Tahukah kita, seandainya setiap orang paham, bahwa mencintai bukan hanya soal waktu, keberanian atau soal kesempatan. Namun juga soal keimanan dan ketakwaan. Bila semua orang sadar bahwa tidak semua perasaan itu harus dituruti, tidak harus dikatakan, tidak harus ditindaklanjuti. Tahukah kita, terlalu banyak orang yang kehilangan sabar, tidak mampu memahami keadaan, terlalu terburu-buru mengungkapkan sesuatu, tidak berpikir dua kali untuk bertanya-tanya.
Apakah kiranya tuhan ridho dengan tindakannya? Tahukah kita? Pada akhirnya orang yang bisa membersamai kita bukanlah dia yang lebih cepat atau yang lebih lambat, namun ia yang bisa mengiringi langkah kita. Langkah yang sama jauhnya sama pendeknnya. Tahukah kita? Memendang seseorang saat ini tidak lagi bisa dilihat dari pakaian saja. Sudah menjadi bias mana yang asli dan mana yang palsu.
Seandainya setiap orang tahu bahwa mata tidak lagi bisa melihat dengan jujur. Tidak semua orang paham bahwa mereka mempunyai mata hati, hati mengenali hati, mata hanya mengenali fisik. Diri kita dan apapun yang kita miliki adalah yang paling baik untuk kita bukan untuk orang lain. Dan apa yang dimiliki orang lain, itu adlah apa yang paling baik untuk mereka bukan untuk diri kita. Seandainya setiap orang dapat memahami konsep kecil ini, mungkin tidak akan ada lagi dia yang akan merasa iri hati, sayangnya diantara kita salalu saling membandingkan lalu saling menyakiti diri sendiri. tahukah kita? Bahwa waktu kita tidak lama?

Surat untuk ibu; dari perantauan.


Tenyata jadi se sesak ini dikekang rindu, bu.
Sudah berapa bulan, sudah berapa minggu, sudah berapa malam ku lewati hari-hari ditanah rantau tanpa kehadiran sosok yang biasa menemaniku.

Coba ibu lihat langit berbintang itu
Disana ku gantungkan banyak doa dan harapan pada illahi bu
karna ku tahu hanya doa yang mampu menjagamu saat jarak mulai memasung raga kita.
Jendela langit begitu luas bu, hingga kutemukan wajahmu kembali dalam ingatan. 

Lagi.

Kembali basah pelupuk mata ini
karna nyatanya rindu kerap membuatku nyaris hilang kesabaran.

Rindu itu berat bu

Didalamnya kutemukan banyak ke khawatiran
Didalamnya kutemukan banyak Penantian
Kebahagian menanti itu yang selalu ku jaga bu
Penantian untuk kembali pulang

Yogyakarta, 1 Juni 2016 

Jarak, Rindu dan Temu

Adakah yang lebih membahagiakan dari rasa sabar bagi sepasang hati untuk menahan luapan rindu yang bergemuruh dalam jeda ratusan kilometer?

Ku harap ada, dan itu kita.

Adakah yang lebih membahagiakan dari sepasang lengan yang berdoa agar Tuhan bisa menghadiahi sebuah pertemuan?

Ku harap ada, dan itu kita.

Semoga kau tak bosan berlama-lama menunggu.
Semoga kau tak bosan, kembali membuka dan melipat jarak.
Ada hal-hal yang tak mudah untuk di lewatkan.
Semoga kita bisa pandai mensyukuri setiap detik dan detak yang telah berlalu.
Semoga dan semoga kita takan pernah berlainan arah.

See you when i see you.
From Jakarta with love
x

Perihal Hati

Barangkali aku sudah mulai lupa bagaimana cara membungkus luka dengan senyuman.
Jika kelak kau melihat aku memalingkan pandang dari tatapmu
barangkali masih ada kecewa yang belum bisa aku tuntaskan. 
Meski begitu, hati ini tak pernah aku ajari untuk mendendam. 

Namun memaksakanmu untuk tetap tinggal, aku tidak akan.
keputusanmu untuk perlahan tanggal dan menjarak, tak perlu dirisaukan. 
Biarkan aku berdamai dengan sesak.
Soal memaafkan, aku sudah khatam.

Sekarang giliranku untuk berdamai dengan takdir.
Mengulum sakit dalam ketulusan maaf.
Cukup kita berterimakasih pada takdir yang tak menyatukan.
Tak luput padamu aku selalu berharap untuk kebaikan.
Lepas dariku, kau akan menemukan bahagia lebih.
Perpisahan kita akan mendewasakan.