Jumat, 03 Maret 2017
Resign dari Dakwah: Menelisik Diri untuk Berbenah
Ustadz Dwi Boediyanto (PW IKADI Yogyakarta).
MUHASABAH
Meninggalkan dakwah itu perkara gampang. Kita tinggal sedikit demi sedikit menjauhinya saja. Tidak aktif lagi tanpa pemberitahuan. Tidak merespon saat dihubungi. Bersikap masa bodoh terhadap aktivasi. Tidak datang saat diundang. Sembunyi ketika dimobilisasi. Intinya, bersikap cuek dan masa bodoh saja. Tenggelamkan dalam aktivitas yang memuaskan diri. Dengan cara demikian lambat laun kita akan meninggalkan (atau barangkali lebih tepat — ditinggalkan dakwah). Gampang sekali. Tapi apa manfaatnya bagi kita mengambil sikap demikian?
Benar, meninggalkan dakwah itu perkara yang mudah. Tapi saya sangat yakin, jauh lebih mudah lagi bagi Allah Ta’ala untuk mencari pengganti yang jauh lebih baik daripada mereka yang memutuskan untuk _‘pensiun’_ dari dakwah. Para pengganti itu akan menggerakkan dakwah jauh lebih ikhlas dan bersemangat. Ya, sangat mudah bagi Allah untuk melakukannya. Sangat mudah. Tidak ada sedikit pun kerugian bagi dakwah ketika seseorang *_resign_* darinya. Dakwah akan terus berjalan, ada atau pun tanpa kita.
Sekali lagi kita bertanya, apa manfaatnya bagi hidup kita? *Dakwah memang tidak memberi tumpukan harta. Bahkan bisa jadi kitalah yang mesti menyisihkan dari yang Allah karuniakan pada kita untuk menggerakkan dakwah.* Tapi di sanalah kita menemukan makna yang indah. Kita terlibat dalam dakwah bukan untuk memperoleh harta berlimpah. *Kita ingin mendapatkan keridlaan Allah, sehingga dengannya hidup kita bertabur barakah.*
Sekiranya kita memilih ‘masa bodoh’ dan _resign_ dari dakwah, sungguh ada satu hal yang dikhawatirkan : dicabutnya barakah dari hidup kita. Direnggutnya rasa qanaah terhadap harta dari diri kita. Tiba-tiba saja kita berubah menjadi orang yang sangat _‘kemaruk’_ dan rakus terhadap duniawi, secuil apapun ia. Lalu aktivitas dakwah ditinggalkan. Forum-forum pembinaan mulai diabaikan.
Sebagai gantinya proyek-proyek materi menjadi lebih diutamakan.
Dalam situasi demikian (kadang) seseorang masih merasa berkebajikan. Padahal, yang dilakukannya tidak lebih dari aktivitas remeh yang disesaki oleh hasrat yang besar terhadap uang. Semakin dikejar, rasa puas tak pernah akan terpenuhi. Tiba-tiba juga kebutuhan tak bisa tercukupi, padahal pendapatan lebih banyak dari sebelumnya. Jika hal demikian yang terjadi, alangkah baik, sekiranya kita berhenti sejenak. Menelisik kondisi diri.
Jangan-jangan kebarakahan itu telah dicabut dari hidup kita. _Na’udzubillahi min dzalik._
Setiap saat kita memang perlu menelisik diri. Jika ada benih-benih bergesernya orientasi, mari diluruskan kembali. Saat kelesuan mulai tumbuh, segera pupus dengan semangat beramal. Ketika kejenuhan mulai melanda, perlulah silaturahmi agar ada penyegaran dan suntikan semangat membara.
Memperturutkan kelesuan dan kemalasan beraktivitas dakwah hanya mendatangkan situasi yang semakin berat. Lambat laun seseorang berkemungkinan *‘resign’* tanpa pamitan.
Dalam situasi demikian, ia tidak menyadari bahwa ada yangi berbeda dari cara berpikir, berasa, dan juga bertindak. Mulailah ia bersikap seperti penumpang dan mulai menanggalkan mental seorang sopir ( _driver_ ) yang bersemangat, pantang menyerah dan berkeluh kesah, berorientasi untuk mencari solusi, dan memilih untuk tidak menghujat serta menghakimi.
Saking mudahnya meninggalkan dakwah, alasan apapun bisa dikemukakan.
Seseorang dapat mengelabuhi murabbi atau qiyadah dakwah dengan alasan yang tampak masuk akal: bisnis, kerja, urusan keluarga, atau apapun (Qs. Al Fath:11 dan Al Ahzab: 13). Tapi sungguh, Allah yang paling tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam diri kita.
Apakah alasan-alasan itu benar adanya, ataukah muncul dari kelemahan diri dan hasrat kuat untuk menghindar dari amanah. Lagi-lagi, kita memang perlu banyak menelisik diri sendiri.
Jika hari-hari ini kita mulai tampak lesu dan tidak bergairah di jalan dakwah, forum-forum pembinaan juga terasa gampang ditinggalkan, kontribusi yang mesti diberikan juga terasa berat ditunaikan, kerindua
n bertemu ikhwah tergantikan dengan hasrat kuat untuk mengejar duniawi, atau teramat nyinyir dan antipati memandang dakwah serta komunitas kebaikan lainnya, rasa-rasanya kitalah yang lebih butuh untuk menerima banyak nasihat dibandingkan orang lain.
n bertemu ikhwah tergantikan dengan hasrat kuat untuk mengejar duniawi, atau teramat nyinyir dan antipati memandang dakwah serta komunitas kebaikan lainnya, rasa-rasanya kitalah yang lebih butuh untuk menerima banyak nasihat dibandingkan orang lain.
Sungguh, tak ada manfaat yang dapat diperoleh dari meninggalkan dakwah, kecuali hidup yang tercabut dari memperoleh barakah. Hari-hari ini ketika waktu istirahat bagi sejumlah ikhwah terasa amat singkat, kita sungguh merasa malu. Sebagian kita masih bersantai-santai, bahkan membiarkan diri dalam lalai. Ya, ada banyak di antara kita, termasuk saya, yang lebih butuh nasihat.
Semoga Allah jadikan kita generasi yang Allah kokohkan di jalan dakwah ini, terus kokoh, semakin kokoh hingga husnul khotimah. Aamiin.
Selamat Berbenah
“Membicarakan masa lalu bisa jadi bahan candaan yang renyah sekaligus kebenaran yang pahit. Kau bisa saja tertawa dengan air mata.”
-Ayu Saraswati
.
.
Masa lalu hanyalah imitasi pikiran yang tak sengaja ikut bersama kita. Bagaimanapun ia dan seperti apapun kondisi masa lalumu, terima ia sebagai pembelajaran dan pembekalan. Karena kau tak mungkin benderang sebelum gelap itu menyekap cahayamu.
Semangat berbenah!
-Ayu Saraswati
.
.
Masa lalu hanyalah imitasi pikiran yang tak sengaja ikut bersama kita. Bagaimanapun ia dan seperti apapun kondisi masa lalumu, terima ia sebagai pembelajaran dan pembekalan. Karena kau tak mungkin benderang sebelum gelap itu menyekap cahayamu.
Semangat berbenah!
Tetap Saling Menguatkan
Aku ingin denting waktu yang kau lalui semata-mata karenaNya, selalu tertaut padaNya. Kamu dengan waktu sibukmu, dan aku dengan waktu sibukku menikmati ritual-ritual yang tentu baru bagimu dan bagiku.Siapa yang tau.. sibukku disini dan sibukmu disana kelak, akan membuat kita bertemu kembali pada satu titik, dimana masing-masing dari kita jauh lebih mapan segalanya.
..TENTU AKU DISINI PUN BERPROSES. mempersiapkan yang terbaik. tetap SALING MENGUATKAN MELALUI DOA. jangan berhenti, tentu kita pasti bisa..
PELITA
Tidak semua dari kita ditakdirkan untuk lahir dari keluarga dengan pemahaman agama yang baik. Ayah dan Ibu kita mungkin bukanlah sosok yang menginternalisasi prinsip agama sedemikian dalam, bukan sosok yang gemar bergerak menuju majelis, atau mungkin bukan pula sosok yang menjadi tempat dimana kita mengenal Allah untuk pertama kali. Sama halnya, tidak semua dari kita ditakdirkan untuk lahir ditengah-tengah keluarga yang membumikan akidah, mengutamakan tauhid, dan membiasakan ibadah. Keluarga kita mungkin hanya paham perkara yang wajib tanpa sentuhan mengenai perkara yang sunnah.
Lantas, haruskah kita marah? Haruskah kita sibuk protes kepada-Nya dengan mengatakan, “Ya Allah, mengapa bukan Ayah dan Ibu yang pertama kali mengenalkan aku pada shalat Dhuha, puasa Senin-Kamis, shalat Tahajjud, dan menutup aurat?”
Tidak ada apapun yang dapat menjadi pembenaran untuk kita melakukan protes terhadap apa yang sudah menjadi ketetapan-Nya.
Curigalah! Jangan-jangan Allah memang bertujuan menjadikan kita pelita di tengah gulita. Curigalah! Jangan-jangan Allah memang bertujuan menjadikan kita cahaya untuk kegelapan ilmu yang terjadi di sekitar kita. Curigalah! Jangan-jangan Allah memang mempersiapkan kita untuk menjadi ujung tombak rantai-rantai kebaikan. Sebab, ketetapan-Nya selalu baik, selalu menumbuhkan, dan selalu indah kesudahannya.
Bagaimanapun, Allah tetap adil. Lihatlah ke sekeliling! Bukankah kita sedang berada diantara orang-orang yang menyeru kita untuk mengerjakan kebenaran? Bukankah kita sedang berada di lingkungan yang memungkinkan kita untuk banyak belajar? Bukankah Allah dengan baik hati mempertemukan kita dengan kesempatan-kesempatan emas yang menjadikan kita mengenal-Nya lebih dekat?
Sahabatku, rasanya bukan lagi masalah jika kamulah yang justru harus menjadi orang pertama yang mengajak orang-orang yang kamu sayangi untuk lebih mendekat kepada-Nya. Karena kamu adalah pelita. Sungguh, hadirmu adalah pelita.
@NovieoctaPE
“Bahwa kaderisasi tidak hanya PR orang kaderisasi saja, tapi tugas setiap dari kita sebagai kader”
Pekerjaan membina dan dibina itu memang soal hati dan rasa - rasa, dan prosesor utamanya adalah Iman. Selamat senantiasa menumbuhkan Iman. Karena yang kita perjuangkan juga, itu memanusiakan manusia."
I AM RETURN
Dahulu, begitu asik bermain dengan kata-kata.
Bersahabat baik dengan lembaran-lembaran kertas, pena, dan sebatang pensil 2B.
Terkadang, punya hiasan. Ilustrasi sederhana dengan imajinatif warna-warna.
Buku habis ditelan karya sampai hitungan bulan.
Puluhan puisi, prosa, dan narasi motivasi lengkap jadi pengisi setianya.
.
Namun, sekarang.
Rasanya aku berubah. Plus-minus dirasa ada.
Setelah banyak kejadian beberapa tahun terakhir ini, aku punya banyak ruang untuk belajar hal baru. Menganalisa tiap kejadian dengan mata sendiri. Merasakannya, sebagai pengalaman berharga yang tak tertukar.
Menulis sebagai hobi, berkurang intensitas interaksinya dengan buku catatan pribadi.
Tak heran, aku tak seperti dulu. Tak selega dulu, tak seriang dan setenang dahulu.
.
Segala apa yang dirasa, tak tertumpahkan percuma dengan kata-kata tak bijak.
Segala apa yang difikir, tak tersampaikan secara sembarang tempat dan sembarang orang.
.
Mungkin ini kepingan puzzle yang hilang sejak tahun lalu.
Aku tak seperti dahulu, lebih banyak membaca untuk menulis.
.
Tapi mungkin semester ini, membuatku lebih banyak mendengarkan untuk menyampaikan. Mengamati untuk kemudian direnungi.
Mudah-mudahan…. :’)
.
Aku ingin kembali seperti aku yang sesungguhnya.
Aku yang suka menulis, aku yang senang belajar banyak hal untuk dibagikan.
.
Bismillah, I AM RETURN!
Bersahabat baik dengan lembaran-lembaran kertas, pena, dan sebatang pensil 2B.
Terkadang, punya hiasan. Ilustrasi sederhana dengan imajinatif warna-warna.
Buku habis ditelan karya sampai hitungan bulan.
Puluhan puisi, prosa, dan narasi motivasi lengkap jadi pengisi setianya.
.
Namun, sekarang.
Rasanya aku berubah. Plus-minus dirasa ada.
Setelah banyak kejadian beberapa tahun terakhir ini, aku punya banyak ruang untuk belajar hal baru. Menganalisa tiap kejadian dengan mata sendiri. Merasakannya, sebagai pengalaman berharga yang tak tertukar.
Menulis sebagai hobi, berkurang intensitas interaksinya dengan buku catatan pribadi.
Tak heran, aku tak seperti dulu. Tak selega dulu, tak seriang dan setenang dahulu.
.
Segala apa yang dirasa, tak tertumpahkan percuma dengan kata-kata tak bijak.
Segala apa yang difikir, tak tersampaikan secara sembarang tempat dan sembarang orang.
.
Mungkin ini kepingan puzzle yang hilang sejak tahun lalu.
Aku tak seperti dahulu, lebih banyak membaca untuk menulis.
.
Tapi mungkin semester ini, membuatku lebih banyak mendengarkan untuk menyampaikan. Mengamati untuk kemudian direnungi.
Mudah-mudahan…. :’)
.
Aku ingin kembali seperti aku yang sesungguhnya.
Aku yang suka menulis, aku yang senang belajar banyak hal untuk dibagikan.
.
Bismillah, I AM RETURN!
Langganan:
Komentar (Atom)




