Aku
di ujung duniaku melihatmu. Melihatmu yang begitu keras untuk mengenali setiap
ruang yang ada di duniaku. Maaf karena aku harus membiarkanmu ketika mamsuki
ruang baru bernama hatiku. Ruang yang sedang kamu kenali ini terjal penuh liku.
Sering hujan, kadang pula gersang.
Pulanglah!
Untuk apa terus bertahan?
Masih
banyak ruang lain yang bisa kamu selami. Aku terlalu rumit, dan aku takut
menyakitimu. Aku membuat sekat, mempertebal dinding dan tak peduli terhadapmu,
agar kau bisa kembali pulang dan tak bisa melanjutkan jalan.
Jadi,
sebelum kau berjalan terlalu jauh, aku akan mengusirmu lebih dulu. Karena aku
masih percaya bahwa tujuan yang sama akan mempertemukan kita dalam perjalanan.
Itu keniscahyaan. Karena rasa khawatirku lebih besar dari rasa cintaku.
Melihatmu melangkah keluar dari duniaku. Ini memang tak mudah, kau tahu rasanya
menyakiti seseorang yang kau cintai?
Aku
akan tetap berdiri disini, diujung duniaku. Memandangimu dan mendoakanmu dari
jauh. Semoga kau paham, bahwa tidak semua pertemuan menyatukan. Seperti pasang
surut air laut, dan mencintai tidak melulu saling berdekatan. Seperti matahari
kepada bumi yang menggantungkan semua kepada takdir. Bahwa ada atau tiadanya
aku, kau akan tetap berjalan. Pada jarak yang sama kita adalah dua hal yang
berbeda, terlalu dekat akan membuat kita saling meniadakan.
