Jumat, 25 September 2015

Aku diujung Duniaku

Aku di ujung duniaku melihatmu. Melihatmu yang begitu keras untuk mengenali setiap ruang yang ada di duniaku. Maaf karena aku harus membiarkanmu ketika mamsuki ruang baru bernama hatiku.    Ruang yang sedang kamu kenali ini terjal penuh liku. Sering hujan, kadang pula gersang.

Pulanglah! Untuk apa terus bertahan?

Masih banyak ruang lain yang bisa kamu selami. Aku terlalu rumit, dan aku takut menyakitimu. Aku membuat sekat, mempertebal dinding dan tak peduli terhadapmu, agar kau bisa kembali pulang dan tak bisa melanjutkan jalan.

Jadi, sebelum kau berjalan terlalu jauh, aku akan mengusirmu lebih dulu. Karena aku masih percaya bahwa tujuan yang sama akan mempertemukan kita dalam perjalanan. Itu keniscahyaan. Karena rasa khawatirku lebih besar dari rasa cintaku. Melihatmu melangkah keluar dari duniaku. Ini memang tak mudah, kau tahu rasanya menyakiti seseorang yang kau cintai?


Aku akan tetap berdiri disini, diujung duniaku. Memandangimu dan mendoakanmu dari jauh. Semoga kau paham, bahwa tidak semua pertemuan menyatukan. Seperti pasang surut air laut, dan mencintai tidak melulu saling berdekatan. Seperti matahari kepada bumi yang menggantungkan semua kepada takdir. Bahwa ada atau tiadanya aku, kau akan tetap berjalan. Pada jarak yang sama kita adalah dua hal yang berbeda, terlalu dekat akan membuat kita saling meniadakan.

Rabu, 09 September 2015

Rinai Juli

satu titik terjatuh, dua titik merambas
hingga penantian datang mempertemukanmu pada rinai di bulan juli
daun-daun riang bergumam menyambut kedatangannya
menanti pagi dengan setetes embun di dalamnya

                          burung-burung menyayikan kicauannya
                          sejak petang hingga menjelang pagi buta
                          di samping bilik itu, kutemukan sosok yang tengah meronta
                           jiwanya rasa terkekang, namun raganya membias sampai ke tanah

Selasa, 02 Juni 2015

Teruntuk Ayah di Surga

Satu tahun berlalu lagi, aku kembali membuka labirin kecil yang sejak lima tahun silam tertutup.
Ini menjadi  Ramadhan ke 4 yang akan aku lewati tanpamu. Betapapun lamanya, betapapun jauhnya jarak yang terengkuh kau akan tetap ada dalam setiap perjalananku yah. Andai kau tahu yah, aku selalu menyayangimu dalam setiap lelapmu, aku memikirkanmu dalam setiap sudut waktu yang ku lewati, aku selalu takut kau terluka dalam setiap detik aku tak bersamamu.

Yah..
Andai kau tau, aku merasa mengigil. Aku sering kali merasa takut. Seolah-olah kehilangan masih menjadi momok yang begitu menakutkan bagiku.
Andai kau tahu yah, jantungku rela kuberikan untukmu sekiranya kau butuh akan itu. Aku siap yah, jika harus hidup dalam ragamu. Andai kau tahu, betapa aku terluka ketika melihat ambulance membawamu pergi, ketika melihat orang-orang memakai seragam putih itu terus mengguncang dadamu dengan alat yang begitu aku takutkan hingga saat ini. Semua masih terekam jelas.  Tapi aku tahu, ada hal yang lebih baik dari hal itu. Ada zat yang lebih mencintaimu dan ada sesorang yang lebih membutuhkanmu di sana.

Kau tak perlu khawatir yah,
Sungguh Allah memang Zat yang Maha Adil. Aku tak sempat menorehkan bahagia saat masih bersamamu, Tapi, kepergianmu membuatku banyak belajar, membuatku sadar akan kesalahanku di masa silam, membuatku mampu berhijrah sejauh ini.  Tapi Yah, inilah bentuk rasa sayang sejatiku kepadamu. Aku tak ingin menjatuhkanmu ke dalam JahannamNya, sebisa mungkin aku tak ingin melukaimu, aku tak ingin melihatmu menangis disana.

Cukup dengan luka yang kugoreskan untuk membesarkaku yah. Cukup di dunia saja, dan aku ingin kau tenang dalam SurgaNya, aku tak ingin membiarkan diri ini kembali melukaimu dalam akhiratnya. Dan akan ku buktikan, bahwa ayah beruntung memiliki putri sholihah. Insyaallah JAku menyayangimu ayah.. insyaallah aku akan bahagiakanmu di JannahNya.