Senin, 05 Desember 2016

keindahan Doa Istikarah

“yaa Allah aku mohon pilihan dengan ilmuMu..
bukan ilmuku karena aku tak tahu tentang dirinya, kecuali yang dhohir-dhohir saja itupun sangat terbatas, Engkau yang mengenal dia lahir dan batin, yang dia sembunyikan dariku Engkau mengetahuinya, yang tak tampak dariku, Engkau melihatnya,
..dan Aku memohon ketetapan dengan kuasaMu,,
bukan kuasaku, hati ini ada dalam genggamanMu.
Engkau mudah membolak-balikkannya dari benci jadi cinta, dari cinta menjadi benci, Engkau yang kuasa atas hati ini ya Allah..
..ya Allah kalau engkau tahu, urusan ini baik untukku, dalam agamaku, kehidupanku, dan kesudahan urusanku nanti, tetapkan dia untukku, mudahkanlah dia untukku, dan berkahi untukku di dalamnya…

Andai Langit Begitu Dekat




Andai semua yang kita impikan bakal segera terwujud saat itu juga, darimana kita akan belajar sabar?
Andai semua do'a-do'a yang kita panjatkan selalu dikabulkan, darimana lagi kita akan belajar ikhtiar?
Dan andai semua yang kita kehendaki akan selalu menjadi milik kita, darimana kita akan belajar ikhlas?

Karena akan datang, satu hari di mana ada do'a-do'a yang meski sudah terlanjur berpayah melafalkannya berkali-kali ternyata masih belum cukup kuat untuk menemukan jalannya pada pintu-pintu langit.

Satu hari lagi, di mana impian yang telah lama digenggam masih harus tertunda oleh waktu yang tenggelam bersama puing-puing kesabaran, masih harus bersabar lagi, menanti impian.

Sebab barangkali, tidak pernah salah jika kita belajar hal-hal sederhana itu sejak awal. Termasuk ikhlas.
Karena pasti akan datang saat-saat ketika yang kita miliki tidak lagi menjadi milik kita. Sesuatu yang kita miliki, kita sayangi, bahkan yang dicintai sekalipun pasti akan pergi suatu hari nanti. Dan kita hanya perlu mengikhlaskan karena mereka memang benar-benar telah pergi.

Boleh jadi, itu mengapa tiap-tiap do'a yang kita lafalkan tidak selalu terkabul, hal-hal yang kita impikan terkadang harus kita relakan terkubur dalam-dalam, dan mengikhlaskan yang bahkan sudah pergi, termasuk orang-orang yang kita sayang dalam hidup ini.

Sayangnya, meski telah berkali-kali belajar pun, kita masih sering sulit untuk sabar, ikhtiar, apalagi ikhlas.

Yogyakarta, 5 Desember 2016

Yang Memang Harus Pergi




Orang-orang yang memang sejak awal tidak ingin bersama kita, memang lebih baik dilepaskan.
Meski sudah menaruh banyak perasaan kepadanya, tetap tinggal hanya akan menggores-goreskan luka pada diri sendiri setiap waktunya.

Walau berjuta alasan telah dibisikkan kepadanya, itu tidak akan cukup jika hatinya memang telah ditakdirkan pada yang lain. Cukup lepaskan.
Jika nanti ia ingin tinggal, biarkan. Jika nanti ia ingin pergi, lepaskan. Jika kita masih menjadi yang terbaik baginya, maka ia akan kembali juga pada akhirnya.

Jangan pernah mempertahankan sesuatu yang tidak bisa dipertahankan meski dengan beribu alasan. Karena cinta bekerja dengan saling bertahan, bukan hanya satu bertahan kemudian yang satu melepas secara perlahan.
Cinta harus memiliki hanya berlaku untuk mereka yang didambakan juga berharap pada perasaan yang sama.

Karena sekuat mana pun kita menggenggam, kalau itu bukan takdir kita, maka akan terlepas juga. Sebaik apapun kita mengada-ada kebaikan takdir yang ditentukan sendiri, takdir-Nya masih tetap yang terbaik.
Kita mungkin menemukan cinta, begitu pula kehilangannya. Namun, ketika cinta itu mati, kita tidak perlu mati bersamanya.

Tidak perlu.
Biarkan cinta itu kembali menempuh takdirnya. Tidak perlu memanggil kembali apa yang seharusnya pergi. Karena sesuatu yang telah pergi, meski kembali ia tak akan pernah sama lagi.

Ridha Allah


Ada hal yang tak akan pernah bisa dikalahkan, pun dimenangkan. Untuk yang demikian, ujian terberatnya adalah tentang keikhlasan. Ada hal yang tak pernah bisa dimiliki, ada juga yang justru selalu diambil. Untuk yang demikian, ujian terbesarnya adalah tentang kesabaran.
Kalau ada air mata yang jatuh karena bersedih, barangkali kita terlalu erat menggenggam keinginan dan tak kuasa untuk merelakan sesuatu. Semoga semakin hari, hati kita semakin lapang untuk menerima bahwa kenyataan tidak selalu sama dengan keinginan. Semoga perasaan kita semakin hari semakin peka untuk melihat bahwa banyak orang yang tidak lebih beruntung dari kita.
Kalau kita tidak pernah mendapatkan apa yang selama ini kita inginkan, jangan-jangan kita lupa untuk bersyukur atas apa yang sudah dimiliki. Rasa-rasanya, kalau kita bisa menghitung segala kebaikan-Nya, niscaya kita akan menangis tersedu karena mengetahui betapa cinta-Nya begitu besar.
Ujian-ujian kita selalu tentang kesabaran dan keikhlasan. Betapa tidak, kita yang tidak pernah meminta untuk diciptakan tapi Allah menciptakan kita di dunia ini. Kemudian di dunia ini kita diuji dengan berbagai hal yang nantinya akan menjadi pertimbangan apakah kita masuk ke surga-Nya ataukah neraka-Nya. Dan betapa surga dan neraka itu adalah tentang keridhaan-Nya, semoga Allah ridho atas apa yang kita kerjakan, hingga Dia memberikan keridhaan-Nya untuk kita bisa masuk ke surga-Nya. Semoga kita bisa semakin ikhlas menjadi hamba.
yogyakarta, 5 Desember 2016 

Pelajaran terpenting hari ini adalah jangan merusak penjagaan hati orang lain. Jangan mengungkap apa yang selama ini dijaga erat-erat sebagai rahasia oleh seseorang. Jangan mengusik, sebab sudah begitu erat selama ini ia menjaganya sebagai rahasia. Tidak ada hak sama sekali bagi kita untuk mengungkapnya, kemudian menjadikannya sebagai sebuah perbincangan dan candaan.
Hargai dan hormati apa yang dijaga orang lain, hatinya, perasaannya, dan rahasianya. Meski kita sangat ingin bertanya dan mengetahuinya.

Kuatlah wahai hati, aku mohon kali ini dengan sangat

Ada yang berusaha menyembunyikan begitu rapi rasa sakitnya di balik senyum manisnya, supaya dia tetap terlihat baik-baik saja di hadapan manusia. Tapi taukah, beruntungnya dia, yang hanya ingin merapuh di hadapan Rabb-Nya. Ada tangis yang hanya ingin dia perlihatkan di hadapan Rabb-nya. Ada ketidakmampuan yang hanya ingin dia adukan di hadapan Rabb-Nya.

Hanya sebentar, nikmati saja, ini hanya dunia ucapnya pada dirinya sendiri.
Dan sedetikpun kita tidak pernah sendirian, Dia tidak pernah meninggalkan barang sebentar. Dia selalu ada, menemanimu. Sekalipun dunia sungguh begitu berisik, sekalipun dunia ingin menipunya dengan pesona yang begitu memanjakan mata.

Nanti, jika waktu itu tiba semua lelah ini akan terbayarkan. Nanti, jika kita telah sampai di rumah tempat kita pulang tidak akan pernah ada lagi kesedihan seperti saat ini. Nanti, jika kita telah di ijinkan bertemu dengan Dia percayalah bahagia itu tidak akan pernah terbayangkan olehmu saat ini.

Maka, bersabarlah wahai hati, nikmati saja, ini hanya dunia.

Jangan robohkan tembok-tembok yang sudah penuh perjuangan kamu susun dengan pertolongan dari-Nya, jangan robohkan. Biarkan dia menjagamu, menghalangimu dari segala sesuatu yang ingin menjatuhkanmu.  

Kuatlah, aku mohon kali ini dengan sangat.

Menerima Masa Lalu

Tidak pernah ada yang menginginkanmu menjauh dari masa lalu. Tidak pernah ada yang memintamu untuk melupakan masa lalu. Namun, ini tentang bagaimana kita harus paham, bahwa kehidupan ini tidak perlu berjalan membawa beban berwujud masa lalu.

Ketika kita memberinya kesempatan untuk hinggap dalam hidupmu. Perlahan ia akan menghisap segala kebahagiaanmu. Ia tidak akan segan mengganggu apapun yang kita jalani. Hingga tanpa disadari, dayamu habis dihujam tanpa ampun oleh masa lalumu sendiri.

Biarlah masa lalu tetap berada pada posisinya jauh di belakang sana. Biarkan kita memperjuangkan apa-apa yang dicari. Bukan masalah membesarkan ego, bukan juga membenci masa lalu. Namun, hanya berusaha menjaga untuk menjaga diri dari ketakutan-ketakutan yang bisa saja ditimbulkan dari masa lalu. Karena tantangan yang sesungguhnya adalah tentang hari esok, bukan dari masa lampau. Dan hari esok masih menyimpan banyak mimpi yang kita inginkan.

Kita tidak perlu mengemis pada Sang Waktu untuk menyembuhkan segala luka dari masa lalu. Karena waktu tidak pernah mampu mengobati luka apapun. Sebab, yang mengobati lukamu adalah dirimu sendiri, bukan waktu.

Jika sesuatu yang pergi itu memang telah ditetapkan untuk kita, maka pasti ia punya cara sendiri untuk kembali kepada kita pada nantinya. Dan ia akan hadir sebagai hadiah dari masa depan, bukan lagi masa lalu. Meski terkadang, ia hadir dengan cara yang tidak pernah kita duga.
Masalah ini sesungguhnya sangat sederhana, bukan pada masalah kemauan untuk melupakan atau tidak. Melainkan kemauan untuk menerima. Jika hati mau menerima apa-apa yang pernah menyakiti kita di masa lalu, kita tidak perlu repot-repot untuk melupakan lagi. Semakin kita berusaha keras melupakan suatu hal, hanya akan semakin membuatnya susah lepas dari batin.

Tidak peduli nantinya dengan cara apa kita menerima, mungkin lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan. Toh takdir itu akan tetap hadir di depan kita. Meski kita berbalik arah ia akan tetap mengikuti. Ditolak pun mustahil, hingga lambat laun kita menyadari harus menerima takdir itu.
Tidak apa-apa, bukan?
Sebab hanya dengan menerima, kita mampu berdamai dengan masa lalu.

Jumat, 02 Desember 2016

Ajarkan sastra kepada anak-anakmu, sastra bisa mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani.
Umar ibn Al-Khattab RA 

Ternyata Begini

Ternyata begini jadinya, ketika ada seseorang yang datang dan diperbolehkan masuk. Kemudian, dia ingin tinggal di sini. Lambat laun tanpa kusadari dia telah merubah seluruh tujuan hidupku di dunia, menjadikannya lebih sederhana, meski tidak lebih mudah untuk mencapainya.
Ternyata begini, ikhlas yang tanpa mengharapkan apa-apa selain padaNya. Mengakarkan niat pada perubahan besar bahwa semua akan berawal dan berujung kepadaNya. Dan keyakinan bahwa Dia tahu itu semua, tanpa harus kutulis di manapun atau kubicarakan dengan siapapun. Rasa ini lebih menyenangkan daripada ambisi-ambisi masa muda duniawi yang dulu.
Ternyata begini, jatuh cinta pada makhluk yang belum kuketahui wujudnya. Bahkan, aku tidak tahu apakah dia juga mencintaiku sama besarnya. Tapi aku tahu ini cinta. Lalu apalagi, jika aku bersedia mengorbankan apa saja yang kusukai demi kebaikannya?
Ternyata begini besarnya Allah menyayangi aku, hambaNya yang masih saja berlumur dosa.