Selasa, 18 Juli 2017

Apakah Allah Mencintaiku

pertanyaan yang merayuku untuk intropeksi..
kucoba membuka al qur'an..
kudapati Allah mencintai orang orang yang sabar..
kulihat diriku.. ah betapa sedikitnya kesabaranku..
kudapati Allah mencintai orang orang yang berjihad..
ku lihat diriku.. amat lemah untuk melawan nafsuku..
kurang kesungguhanku untuk selalu menaatiNya..
kudapati Allah mencintai orang orang yang berbuat ihsan..
apalagi ini.. teramat jauh diriku dari derajat ihsan..
hatiku gundah..
tak ada tanda pada diriku bahwa Allah mencintaiku..
kucoba kembali membaca al quran..
kudapati Allah mencintai orang orang yang suka bertaubat..
aku segera merenung..
mungkin ayat ini untukku dan yang sepertiku..
segera lisanku berucap..
astaghfirullah wa atuubu ilaihi..
astaghfirullah wa atuubu ilaihi..
semoga ini membuat Allah mencintai diriku..
ya Rabb.. ampuni dosaku..

Ustadz Badrusalam hafidzahullah

Rindu Semakin Riuh, Menyesakkan Dada

Barangkali kita yang salah menilai
sebab yang sengaja memilih pergi tidak melulu 
berperan sebagai seorang peluka
seakan-akan lupa akan rindu yang tengah ditanamnya
padahal yang sengaja pergi pun tengah menanggung lukanya
kalah dengan pilihannya
luput dalam ingatannya
mengalah dengan egonya

dan ini bukan kali pertamanya aku harus kembali meninggalkan kampung halaman.

"sini cium dulu". kata mama sambil mendekatkan badannya ke arahku. aku mendekat sambil memeluknya. mama masih mecium keningku, cukup lama dan masih sama seperti biasa. Aku bisa memeluk mama sehangat ini selepas kepulanganku dan kepergianku kembali ke tanah rantau.

"udah jam 21.00 ma, fira pamit dulu ya. mama jaga kesehatan. fira sayang mama" ujarku.
Tatapan mama tidak pernah berubah, selalu ada rinai yang tengah menggantung di pelupuknya, namun ia tetap tidak pernah ingin menampakkannya dihadapanku.
padahal ini bukan tahun pertama aku merantau, tahun kesekian aku pulang kampung dan akan pergi lagi seperti demikian.

"maaf mama belum bisa nganterin fira sampai stasiun, perjalanan macet jadi km harus buru-buru pesan ojek online supaya ga ketinggalan kereta." kata mama.
"iya, gapapa mah." ujarku.
sungguh, tidak ada yang berbeda dari tatapan mama, tidak ada yang berbeda dari kasih mama.
rasa khawatir yang selama ini mama tahan, tangis yang selama ini mama sembunyikan, rindu yang selama ini mama pendam. semua mama tahan hingga menyesakan dada. Rinai di pelupuk mata itu, aku bisa melihatnya ma.

"hati-hati ya nak, jaga kesehatan, jaga diri, selalu dekat dengan Allah, semoga skripsinya di mudahkan, ilmunya berkah dan bermanfaat. mama selalu doakan yang terbaik buat fira."
Pesan mama yang selalu terngiang jelas di telingaku, dengan suara yang mulai berat, dan rinai yang semakin jelas menggenang.
sungguh, aku telah kalah ma, kali ini rinai nyaris menghampiri kedua pipiku, jatuh bersamaan dengan rindu yang tengah luap dalam dekapanmu.
aku segera berpamitan, tidak ingin mama melihat bahwa aku juga tengah sedih. punggungku beranjak meniggalkan, wajahku basah, aku tertunduk tak sanggup lagi memalingkan wajah.
lagi-lagi aku kalah setiap kali beranjak meninggalkan kampung halaman.

malam itu, malam yang berat sekali.
padahal ini bukan kali pertama, tapi selalu saja berat untuk meninggalkan rumah.
ingin selalu dekat, tidak ingin jauh.
tapi, inilah konsekuensi atas pilihan yang tengah ku ambil.
ada amanah yang tengah menggantung, memanggil untuk segera di selesaikan.
dan aku tak boleh kalah dengan keadaan.

mama, yang selalu sabar menanggalkan egonya sebagai seorang ibu
yang hakikatnya selalu merasa khawatir, yang selalu ingin berdekatan dengan anak-anaknya. begitupun aku, ma.
namun demi anak-anaknya mama rela berjauhan, menahan rindu bercampur isak.
menggantungkan doa di sujud-sujud malamnya, tidak lelah dan terus saja berdoa.

Rindu itu, akan tetap ada ma. biarkan ia tetap ada di bilik kamarmu.
bertambah hingga riuh gemuruh tak lagi menganggu.

Itulah, ia❤
mengapa sejak awal ku katakan, bahwa yang sengaja pergi bukan selalu seorang peluka.
sebab membuat perpisahan, sekalipun terlihat menyenangkan tetap akan selalu menjadi hal yang menyakitkan.
suka ataupun tidak, tidak akan ada yang benar-benar ikhlas pada waktu pertama sebagai pelaku yang lebih dulu sengaja meninggalkan untuk berpisah dengan orang yang dicintai nya.

Yogyakarta, 18 Juli 2017


Jumat, 23 Juni 2017

Ramadhan Mulai Tanggal

Menangislah sejadi-jadinya bila itu meredakan perihnya kehilangan. Entah bagaimana, aku adalah salah seorang yang paling perih ditinggal Ramadhan. Bila ini yang terakhir, semoga yang sedikit ini diganda-gandakan nilainya dan dihapus-hapus dosanya.


Rabu, 12 April 2017

Yuk bersiap Menjadi Wanita Penyejuk Hati

Bagaimana agar seorang wanita bisa menjadi penyejuk mata?
Bagaimana agar bisa menjadi cahaya keluarga? 

Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa sebaik-baiknya pehiasan dunia, adalah wanita sholihah. Lalu apa yang akan Allah hadiahkan kepada wanita yang berhasil menjaga kesholihannya itu? Di surga Allah nanti, akan ada dua jenis bidadari. Pertama adalah, bidadari dari dunia yang tidak lain adalah wanita sholihah. Kedua adalah bidadari yang memang Allah ciptakan sebagai bidadari. Manakah yang lebih baik diantara keduanya? Allah menjawab bahwa yang lebih baik adalah bidadari yang berasal dari dunia. Karena apa ya Allah? Karena sholat-sholat mereka, puasa-puasa mereka, dan keimanan mereka.
Agar kita bisa menjadi penyejuk mata dan cahaya bagi keluarga adalah dengan berupaya dengan sungguh untuk menjadi wanita sholihah.
Wanita sholihah yang tidak terlena oleh dunia, yang tidak terpuruk oleh dunia. Karena ia sadar bahwa hidup ini hanya sebentar, hanya sementara. Kemudian, ia juga menjadikan setiap kesenangannya didunia sebagai jalan untuk meraih ridha Allah dan menjadikan kesedihannya sebagai modal untuknya, agar layak dijadikan bidadari oleh Allah.
Wanita sholihah adalah wanita yang ta’at menjalankan perintah Allah. Ia paham dan selalu mencari tahu apa-apa yang Allah perintahkan padanya. Lalu, ia senantiasa menjalankan setiap peirntah Allah itu dengan hati yang penuh cahaya iman.
Ia adalah adalah wanita yang ta’at dengan larangan Allah untuk dijauhi, untuk dihindari. Ia sadar bahwa apa-apa yang Allah larang dalam hidupnya adalah suatu tanda sayang dari Allah, tanda cinta-Nya. Ia pun senantiasa menjauhi setiap apa-apa yang tidak disukai Allah ini dengan hati yang ikhlas.
Ia adalah wanita yang ta’at dengan perannya sebagai wanita. Perannya sebagai anak jika orang tuanya masih ada. sebagai istri jika sudah menikah, dan sebagai ibu jika Allah meridhainya untuk memiliki anak. wanita sholihah akan menjalankan semua perannya dengan sungguh-sungguh dan mampu menyeimbangkan setiap perannya.
Ia adalah wanita yang sabar dan ridha dengan segala ketetapan Allah pada-Nya. Dua kata yang menjadi ciri wanita yang beriman adalah bersabar dan bersyukur. Tak ada takdir Allah yang salah, karena semuanya tanda cinta. Setiap kesabaran dan kesyukuran merupakan bentuk kesempurnaan dari keshalihan itu. Wanita sholihah akan selalu menjadikan hidupnya terkait dengan Allah. Maka ia akan tidak akan merasa lelah dengan dunia. Di dunia, mau jadi apapun juga yang penting Allah ridha.
Wanita sholihah yang berhasil menjaga keta’atannya pada Allah, di surga nanti akan dipimpin oleh wanita-wanita ahli surga. Adalah Aisiyah, karena keistiqomahannya menjaga iman. Khadijah, karena keshalihanya dan gelarnya sebagai istri rasulullah. Fatimah, karena ketegaran, keshalihannya, dan syukurnya. Dan Maryam, karena menjaga kesuciannya dan keridhaannya terhadap ketetapan Allah pada dirinya. Sungguh beruntungnya menjadi wanita shalihah yang bisa dipimpin oleh wanita-wanita hebat seperti keempat ibunda tersebut.
Mampukah kita menjadi wanita penyejuk mata, cahaya keluarga?
Jawabannya adalah mampu! 
Dengansenantiasa berjuang menjadi wanita sholihah, menjadi penyejuk dimanapun, dan menjadi cahaya bagi siapapun. Sungguh perjuangan menjadi wanita sholihah merupakan proses seumur hidup. Hingga nantinya, Allahlah yang akan menetapkan apakah kita layak menjadi bidadari disurga-Nya atau tidak. 
Teruntuk kamu para wanita, semoga kita bisa bertetangga di Surga-Nya Allah yaa!

Sudahkah Allah menjadi tempat kita bersandar?



Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa yang lebih baik amalnya.
Kalau kita mengangankan hidup yang tanpa ujian, tentu tidak mungkin. karena sebenarnya ujian adalah bentuk sayang dari Allah, agar kita belajar dan menjadi lebih dekat kepadanya.
Ujianpun datang bertingkat-tingkat. Jika kita sudah melewati satu ujian, maka akan ada lagi ujian-ujian lainnya yang lebih tinggi. Ujian-ujian yang terus membuat kita seharusnya menjadi lebih baik.
Namun, apa jadinya jika kita mendapatkan ujian yang sama dalam waktu terpaut jauh?
Misalnya, dulu kita sudah pernah diuji dengan suatu hal. Lalu seiring berjalannya waktu, ujian yang sama tersbut menghampiri lagi?
Saatnya mengevaluasi diri. Kenapa Allah memberikan ujian itu lagi?
Apakah belum cukup pelajaran dari ujian kemarin ? Apakah belum sampai hikmah itu di hati ini?
Yang lebih menyedihkan lagi adalah ujian yang sama ini seperti peringatan bahwa sebenarnya diri ini tidak naik tingkat. Makanya harus remedial, diulang lagi biar dapat sayang dan cinta Allah yang lebih banyak lagi.
Jika ujian itu adalah karena hal-hal sederhana. Artinya diri kita ini pun masih dalam level yang sederhana imannya. Bisa jadi mengapa ujian yang sama ada lagi, karena amal-amal yang kita kerjakan belum lebih baik dari sebelumnya, iman kita tidak bertambah. Kita merasa sudah berjalan jauh, tapi sebenarnya kita belum kemana-mana. Tarik nafas dalam… Allah, tolong maafkan diri yang lalai dari hikmah-hikmah yang Engkau titipkan lewat setiap ujian itu.
Ujian memang terkadang menyedihkan. Namun lewat besar atau kecilnya ujian yang ada didalam hidup kita, sebenarnya adalah pertanda bahwa Allah lagi kangen sama kita. Allah sudah nunggu cerita-cerita kita. Allah ingin membersihkan jiwa kita. Allah ingin dipanggil lebih banyak lagi, lebih dekat lagi.
Besar atau kecilnya ujian hidup kita, bersandarlah pada yang Maha Kuat. Allah ingin melihat, amal terbaik apa yang kita lakukan dalam menjalani setiap ujian-Nya. 
Sebab, kuat atau lemah seseorang, tergantung pada siapa ia bersandar.
Sudahkah Allah menjadi tempat kita bersandar? 
Semoga kali ini bisa lulus ujian, dan menjadikan Allah saja satu-satunya tempat untuk bersandar. 

Selasa, 11 April 2017

Sebuah Rahasia

Suatu ketika, seorang sahabat bertanya pada Rasulullah 

“Wahai Rasulullah, bagaimana ikhlas itu?”
Lalu, rasulullah terdiam, tidak memberikan jawaban.
Beliau bertanya pada Jibril,
“Wahai Jibril, bagaimanakah ikhlas itu?”
Sayangnya, Jibrilpun tak tahu.
Kemudian malaikat Jibril bertanya pada Allah.
“Wahai Allah, bagaimana ikhlas itu?”
Dan Allah menjawab,
“Ikhlas itu rahasia didalam rahasia. Hanya aku yang mengetahuinya”
- Allah, bagaimana cara mengikhlaskan masa depan?
Mengikhlaskan waktu yang telah berlalu?

Jumat, 03 Maret 2017

Resign dari Dakwah: Menelisik Diri untuk Berbenah

Ustadz Dwi Boediyanto (PW IKADI Yogyakarta).
MUHASABAH 
Meninggalkan dakwah itu perkara gampang. Kita tinggal sedikit demi sedikit menjauhinya saja. Tidak aktif lagi tanpa pemberitahuan. Tidak merespon saat dihubungi. Bersikap masa bodoh terhadap aktivasi. Tidak datang saat diundang. Sembunyi ketika dimobilisasi. Intinya, bersikap cuek dan masa bodoh saja. Tenggelamkan dalam aktivitas yang memuaskan diri. Dengan cara demikian lambat laun kita akan meninggalkan (atau barangkali lebih tepat — ditinggalkan dakwah). Gampang sekali. Tapi apa manfaatnya bagi kita mengambil sikap demikian?
Benar, meninggalkan dakwah itu perkara yang mudah. Tapi saya sangat yakin, jauh lebih mudah lagi bagi Allah Ta’ala untuk mencari pengganti yang jauh lebih baik daripada mereka yang memutuskan untuk _‘pensiun’_ dari dakwah. Para pengganti itu akan menggerakkan dakwah jauh lebih ikhlas dan bersemangat. Ya, sangat mudah bagi Allah untuk melakukannya. Sangat mudah. Tidak ada sedikit pun kerugian bagi dakwah ketika seseorang *_resign_* darinya. Dakwah akan terus berjalan, ada atau pun tanpa kita.
Sekali lagi kita bertanya, apa manfaatnya bagi hidup kita? *Dakwah memang tidak memberi tumpukan harta. Bahkan bisa jadi kitalah yang mesti menyisihkan dari yang Allah karuniakan pada kita untuk menggerakkan dakwah.* Tapi di sanalah kita menemukan makna yang indah. Kita terlibat dalam dakwah bukan untuk memperoleh harta berlimpah. *Kita ingin mendapatkan keridlaan Allah, sehingga dengannya hidup kita bertabur barakah.*
Sekiranya kita memilih ‘masa bodoh’ dan _resign_ dari dakwah, sungguh ada satu hal yang dikhawatirkan : dicabutnya barakah dari hidup kita. Direnggutnya rasa qanaah terhadap harta dari diri kita. Tiba-tiba saja kita berubah menjadi orang yang sangat _‘kemaruk’_ dan rakus terhadap duniawi, secuil apapun ia. Lalu aktivitas dakwah ditinggalkan. Forum-forum pembinaan mulai diabaikan.
Sebagai gantinya proyek-proyek materi menjadi lebih diutamakan.
Dalam situasi demikian (kadang) seseorang masih merasa berkebajikan. Padahal, yang dilakukannya tidak lebih dari aktivitas remeh yang disesaki oleh hasrat yang besar terhadap uang. Semakin dikejar, rasa puas tak pernah akan terpenuhi. Tiba-tiba juga kebutuhan tak bisa tercukupi, padahal pendapatan lebih banyak dari sebelumnya. Jika hal demikian yang terjadi, alangkah baik, sekiranya kita berhenti sejenak. Menelisik kondisi diri.
Jangan-jangan kebarakahan itu telah dicabut dari hidup kita. _Na’udzubillahi min dzalik._
Setiap saat kita memang perlu menelisik diri. Jika ada benih-benih bergesernya orientasi, mari diluruskan kembali. Saat kelesuan mulai tumbuh, segera pupus dengan semangat beramal. Ketika kejenuhan mulai melanda, perlulah silaturahmi agar ada penyegaran dan suntikan semangat membara.
Memperturutkan kelesuan dan kemalasan beraktivitas dakwah hanya mendatangkan situasi yang semakin berat. Lambat laun seseorang berkemungkinan *‘resign’* tanpa pamitan.
Dalam situasi demikian, ia tidak menyadari bahwa ada yangi berbeda dari cara berpikir, berasa, dan juga bertindak. Mulailah ia bersikap seperti penumpang dan mulai menanggalkan mental seorang sopir ( _driver_ ) yang bersemangat, pantang menyerah dan berkeluh kesah, berorientasi untuk mencari solusi, dan memilih untuk tidak menghujat serta menghakimi.
Saking mudahnya meninggalkan dakwah, alasan apapun bisa dikemukakan.
Seseorang dapat mengelabuhi murabbi atau qiyadah dakwah dengan alasan yang tampak masuk akal: bisnis, kerja, urusan keluarga, atau apapun (Qs. Al Fath:11 dan Al Ahzab: 13). Tapi sungguh, Allah yang paling tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam diri kita.
Apakah alasan-alasan itu benar adanya, ataukah muncul dari kelemahan diri dan hasrat kuat untuk menghindar dari amanah. Lagi-lagi, kita memang perlu banyak menelisik diri sendiri.
Jika hari-hari ini kita mulai tampak lesu dan tidak bergairah di jalan dakwah, forum-forum pembinaan juga terasa gampang ditinggalkan, kontribusi yang mesti diberikan juga terasa berat ditunaikan, kerindua
n bertemu ikhwah tergantikan dengan hasrat kuat untuk mengejar duniawi, atau teramat nyinyir dan antipati memandang dakwah serta komunitas kebaikan lainnya, rasa-rasanya kitalah yang lebih butuh untuk menerima banyak nasihat dibandingkan orang lain.
Sungguh, tak ada manfaat yang dapat diperoleh dari meninggalkan dakwah, kecuali hidup yang tercabut dari memperoleh barakah. Hari-hari ini ketika waktu istirahat bagi sejumlah ikhwah terasa amat singkat, kita sungguh merasa malu. Sebagian kita masih bersantai-santai, bahkan membiarkan diri dalam lalai. Ya, ada banyak di antara kita, termasuk saya, yang lebih butuh nasihat.
Semoga Allah jadikan kita generasi yang Allah kokohkan di jalan dakwah ini, terus kokoh, semakin kokoh hingga husnul khotimah. Aamiin.

Selamat Berbenah

“Membicarakan masa lalu bisa jadi bahan candaan yang renyah sekaligus kebenaran yang pahit. Kau bisa saja tertawa dengan air mata.”
-Ayu Saraswati
.
.
Masa lalu hanyalah imitasi pikiran yang tak sengaja ikut bersama kita. Bagaimanapun ia dan seperti apapun kondisi masa lalumu, terima ia sebagai pembelajaran dan pembekalan. Karena kau tak mungkin benderang sebelum gelap itu menyekap cahayamu.
Semangat berbenah!

Tetap Saling Menguatkan

Aku ingin denting waktu yang kau lalui semata-mata karenaNya, selalu tertaut padaNya. Kamu dengan waktu sibukmu, dan aku dengan waktu sibukku menikmati ritual-ritual yang tentu baru bagimu dan bagiku.
Siapa yang tau.. sibukku disini dan sibukmu disana kelak, akan membuat kita bertemu kembali pada satu titik, dimana masing-masing dari kita jauh lebih mapan segalanya.
..TENTU AKU DISINI PUN BERPROSES. mempersiapkan yang terbaik. tetap SALING MENGUATKAN MELALUI DOA. jangan berhenti, tentu kita pasti bisa..

PELITA


Tidak semua dari kita ditakdirkan untuk lahir dari keluarga dengan pemahaman agama yang baik. Ayah dan Ibu kita mungkin bukanlah sosok yang menginternalisasi prinsip agama sedemikian dalam, bukan sosok yang gemar bergerak menuju majelis, atau mungkin bukan pula sosok yang menjadi tempat dimana kita mengenal Allah untuk pertama kali. Sama halnya, tidak semua dari kita ditakdirkan untuk lahir ditengah-tengah keluarga yang membumikan akidah, mengutamakan tauhid, dan membiasakan ibadah. Keluarga kita mungkin hanya paham perkara yang wajib tanpa sentuhan mengenai perkara yang sunnah.
Lantas, haruskah kita marah? Haruskah kita sibuk protes kepada-Nya dengan mengatakan, “Ya Allah, mengapa bukan Ayah dan Ibu yang pertama kali mengenalkan aku pada shalat Dhuha, puasa Senin-Kamis, shalat Tahajjud, dan menutup aurat?”

Tidak ada apapun yang dapat menjadi pembenaran untuk kita melakukan protes terhadap apa yang sudah menjadi ketetapan-Nya.

Curigalah! Jangan-jangan Allah memang bertujuan menjadikan kita pelita di tengah gulita. Curigalah! Jangan-jangan Allah memang bertujuan menjadikan kita cahaya untuk kegelapan ilmu yang terjadi di sekitar kita. Curigalah! Jangan-jangan Allah memang mempersiapkan kita untuk menjadi ujung tombak rantai-rantai kebaikan. Sebab, ketetapan-Nya selalu baik, selalu menumbuhkan, dan selalu indah kesudahannya.
Bagaimanapun, Allah tetap adil. Lihatlah ke sekeliling! Bukankah kita sedang berada diantara orang-orang yang menyeru kita untuk mengerjakan kebenaran? Bukankah kita sedang berada di lingkungan yang memungkinkan kita untuk banyak belajar? Bukankah Allah dengan baik hati mempertemukan kita dengan kesempatan-kesempatan emas yang menjadikan kita mengenal-Nya lebih dekat?
Sahabatku, rasanya bukan lagi masalah jika kamulah yang justru harus menjadi orang pertama yang mengajak orang-orang yang kamu sayangi untuk lebih mendekat kepada-Nya. Karena kamu adalah pelita. Sungguh, hadirmu adalah pelita.
@NovieoctaPE

“Bahwa kaderisasi tidak hanya PR orang kaderisasi saja, tapi tugas setiap dari kita sebagai kader”

Pekerjaan membina dan dibina itu memang soal hati dan rasa - rasa, dan prosesor utamanya adalah Iman. Selamat senantiasa menumbuhkan Iman. Karena yang kita perjuangkan juga, itu memanusiakan manusia."

I AM RETURN

Dahulu, begitu asik bermain dengan kata-kata.
Bersahabat baik dengan lembaran-lembaran kertas, pena, dan sebatang pensil 2B.
Terkadang, punya hiasan. Ilustrasi sederhana dengan imajinatif warna-warna.
Buku habis ditelan karya sampai hitungan bulan.
Puluhan puisi, prosa, dan narasi motivasi lengkap jadi pengisi setianya.
.
Namun, sekarang.
Rasanya aku berubah. Plus-minus dirasa ada.
Setelah banyak kejadian beberapa tahun terakhir ini, aku punya banyak ruang untuk belajar hal baru. Menganalisa tiap kejadian dengan mata sendiri. Merasakannya, sebagai pengalaman berharga yang tak tertukar.
Menulis sebagai hobi, berkurang intensitas interaksinya dengan buku catatan pribadi.
Tak heran, aku tak seperti dulu. Tak selega dulu, tak seriang dan setenang dahulu.
.
Segala apa yang dirasa, tak tertumpahkan percuma dengan kata-kata tak bijak.
Segala apa yang difikir, tak tersampaikan secara sembarang tempat dan sembarang orang.
.
Mungkin ini kepingan puzzle yang hilang sejak tahun lalu.
Aku tak seperti dahulu, lebih banyak membaca untuk menulis.
.
Tapi mungkin semester ini, membuatku lebih banyak mendengarkan untuk menyampaikan. Mengamati untuk kemudian direnungi.
Mudah-mudahan…. :’)
.
Aku ingin kembali seperti aku yang sesungguhnya.
Aku yang suka menulis, aku yang senang belajar banyak hal untuk dibagikan.
.
Bismillah, I AM RETURN!

Membina itu pekerjaan hati. In syaa allah hati jauh lebih sehat dan kuat ketika membina, mengkaffahkan keislaman orang. Jadi perantara hidayah orang lain. Pahala deras menunggu.

Sabtu, 28 Januari 2017

Jika Ada, Mungkin Kita yang Belum Utuh Memahami Ukhwah

kalau ada yang tampak akrab di sosmed atau dunia nyata, jangan mengira macam-macam mereka ada sesuatu, bisa jadi kita yang tak paham arti ukhuwah
.
kalau ada yang mengutarakan unek-unek secara pribadi, jangan lantas dihabisi di forum, kita bukan manusia tanpa hati yang tak paham adab menasehati
.
kalau ada yang terlihat suntuk karena amanah, jangan mengira ia tak pikir hubungan sosial, bisa jadi kita yang tak tau arti perjuangan
.
kalau ada yang masih ogah-ogahan untuk bergerak, jangan fikir dia malas-malasan, bisa jadi kita yang kurang memahamkan
.
semoga aku, kamu, kita senantiasa dijaga dari dzon dzon yang tidak seharusnya bersemayam


FRT
Cibubur, 29 Februari 2017

Sabtu, 21 Januari 2017

Nilai Mereka Lebih Banyak Dari Kita


Mungkin ada beberapa diantara kita yang memiliki orang tua yang masih belum menyeluruh keislamannya, belum sempurna ibadahnya dan belum memiliki pemahaman yang lebih tentang  dakwah. Kita sebagai anak tetap harus memiliki sikap santun dan hormat terhadap mereka.
Terlebih mereka yang walaupun tidak terlalu paham tentang urgensi dari aktifitas aktifitas –dakwah katanya—yang dilakukan oleh anaknya, namun tetap turut mendukung. Menyiapkan sarapan pagi misalnya atau menawarkan untuk mengantarkan sampai tempat tujuan kegiatan.
Mereka, kedua orang tua kita itu memiliki nilai yang selalu lebih dari yang kita punya. Misal nilai kita 100 dan nilai Ibu kita hanya 50, sejatinya nilai ibu kita adalah 150,.
Bukankah,
“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” (HR. Muslim no. 1893)
Maka,
Atas dukungan dan ridho dari merekalah kita kemudian memiliki kemudahan untuk mengisi hari hari kita dengan berbagai ragam aktifitas kebaikan insyaaLlah.
Bahkan sekalipun nilai kita mencapai seribu sekalipun, nilai orangtua kita selalu seribu lebih banyak dari kita :),

dan bukankah ini yang kita harapkan. Berusaha segiat mungkin untuk menjadi anak sholih, yang kelak Allah ridhoi semua pinta kita untuk kedua orangtua kita. Sebagai satu-satunya bingkisan terbaik kelak untuk mereka di waktu nanti.