Kamis, 27 Oktober 2016

Anta Ma'a Man Ahbabta

Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya pada Nabi SAW,
"Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?"
Beliau SAW berkata,
"Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?" 
Orang tersebut menjawab,
"Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya."
Beliau SAW berkata,
"(Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai."
HR. Bukhari no. 6171 dan Muslim no. 2639.

Dalam riwayat lain Anas mengatakan,
"Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi SAW : "Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai)."
Anas pun mengatakan,
"Kalau begitu aku mencintai Nabi SAW, Abu Bakar, dan ‘Umar.
Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka."
HR. Bukhari no. 3688

"Kau durhaka meski kau menyatakan cinta.
Itu pasti bukan cinta, tapi dusta.
Kalaulah cintamu itu sejati, pastilah kau patuh
karena orang yang cinta selalu mengikuti kemauan orang yang dicinta."
{syair al-Rawwaq}

Senin, 24 Oktober 2016

Ismail bin Abi Uwais pernah berkata,
"Jika engkau ingin menghafal sesuatu, maka tidurlah.
Kemudian bangunlah pada waktu sahur, nyalakan pelita, dan
perhatikanlah apa yang ingin engkau hafal itu, maka engkau
takkan lupa sesudahnya, Insyaa Allah"

Jangan Kehilangan Cita-Cita

By: Ust. Abu Qawwam

Kita semua pernah punya mimpi.
Punya cita-cita.
Menjadi penghafal Qur'an.
Menjadi penjaga Al-Qur'an.
Menjadi Ahlul Qur'an.
Pada awalnya datang dengan agak malu-malu ke halaqohQur'an karena ingin bisa. Tapi sungkan juga karena merasabelum bisa.
Ingin kayak mereka, menjadi hafizh Qur'an.
Lalu datang tiap pekan.
Membaca Al-Qur'an menjadi nikmat. Hati menjadi lapang.
Dan mimpi pun mulai terjalin. Janji mulai tercipta.
Ingin menjadi penghafal Al-Qur'an. Ingin menjadi ahlul Qur'an.
Lalu waktu terus berjalan. Belajar menjadi keharusan. Jadwalmengajipun ditetapkan. Baca Al-Qur'an dirutinkan. Meski kemudian mulai berlomba dengan kesibukan.
Kalau tidak bertahan, mimpi akan terkikis pelan-pelan. Lalu lama-lama pudar. Akhirnya menyerah oleh keadaan.
"Saya nggak bisa."
"Saya nggak bakat."
"Saya malu mau bergabung lagi..."
***
Duhai jiwa... Jangan kalah oleh semangat setan. Mereka
membangun mimpi mereka di atas dendam dan kebencian.
Tapi ribuan tahun mereka tetap bertahan...
Sementara kita membangun mimpi ini di atas pondasi cinta.
Cinta kepada Allah...
Cinta Rasululah...
Maka buktikanlah bahwa ia lebih kuat dan lebih kokoh...
Target akhirnya adalah surga. Perjalanannya adalah
sepanjang usia. Tidak masalah belajarnya di sini atau di sana.
Yang penting esensinya sama.
Yang harus kita sesali adalah ketika kita berhenti. Tak
melakukan kebaikan itu lagi. Kita mengubah waktu rutin kita
menghafal Al-Quran dengan kegiatan yang tidak lebih baik
darinya...
Padahal maut adalah pasti.
Dan surgaNya adalah kerinduan sejati...
***
Menghafal Qur'an bukan sekedar status sosial atau kegiatan
pengisi waktu senggang.
Menghafal Qur'an adalah pekerjaan seorang Nabi.
Juga tugasnya Malaikat.
Menghafal Qur'an adalah tentang menjaga kalamullah. Di saat
banyak orang meninggalkannya...
Menghafal Qur'an adalah usaha meniti anak tangga setingkat
demi setingkat, menuju tingkatan surga yang tertinggi. Di
mana di ujungnya kita akan bersama Rasulullah dan semua
hamba Allah yang mulia.
Juga bertemu Dzat yang menciptakan langit, bumi dan semua
yang ada di antara keduanya...
Adakah pertemuan yang lebih indah selain pertemuan dengan
Allah di surga tertinggi sembari membawa kalamNya di lisan
dan dalam hati?
***
Kelelahan adalah hal wajar dalam perjalanan. Istirahat
sejenak. Lalu lanjutkan langkah.
Jangan berhenti, atau kita tidak akan sampai ke tempat
tujuan...
Jangan pernah kehilangan cita-cita...
Atau hidup hanya sekadar menunggu mati...
Tetaplah semangat...
Dan senantiasa berdoa...
Semoga Allah meridhai kehidupan kita...


Bersahabat dengan Al-Qur'an

sahabat...
Berjuanglah disisa hidup kalian untuk selalu mencintai Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada Hari Kiamat sebagai syafa’at. Berikan Allah yang terbaik, maka Allah akan memberikan kita yang terbaik. Istimewakan Allah, maka Allah akan mengistimewakan kita.
sahabat...

Bersahabatlah dengan Al-Qur’an, Karena ia (Al-Qur’an) tak akan pernah meninggalkanmu disaat kesulitan. Tak ‘kan juga mengecewakanmu. Dialah sahabat terbaik duniaakhiratmu.

Baarokallaahu fiikum.

Yogyakarta, Oktober 2016

Cara Menjaga Hafalan Qur'an

Teori berternak unta ๐Ÿซ
 Banyak yang bertanya, “Bagaimana sih caranya menjaga hafalan AlQur’an?
kok yang sudah dihafal
sering lupa ya? “ Sahabat yang budiman, sebenarnya teori menjaga hafalan Al Qur’an itu sederhana saja, yaitu dengan sering diulang-ulang (murajaah). Kenapa lupa?
yaa…
karena jarang diulang. Coba kalo sering diulang, pasti tetap terjaga. Yang sering lupa, pasti jarang/tidak murajaah? Betul apa betul? *evaluasi diri masing2. Ya, cukup diulang-ulangaja. Insya Allah hafalan jadi lancar.
Jadi ingat tausyiah dari seorang
Ustadz, “Menghafal Qur’an itu tidak perlu cerdas, yang penting rajin dan istiqomah“. Justru dengan menghafal Al Qur’an orang bisa jadi cerdas.
Tapi untuk yang memiliki hafalan Qur’an yang cukup banyak, perlu 'manajemen
pengulangan’ tersendiri untuk menjaga hafalannya. Saya namakan manajemen ini dengan:
๐Ÿซ “Teori beternak Unta” ๐Ÿซ
Sahabat, tidak berlebihan jika aktivitas menghafal Qur’an itu dianalogikan seperti beternak unta,๐Ÿซkarena Rasulullah saw pernah bersabda,
“Jagalah Al-Qur’an, demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, Al-Qur’an itu
lebih cepat lepas daripada seekor unta dari ikatannya”(H.R. Bukhari)
Teori ini pun terinspirasi dari
hadits di atas…
๐Ÿ“Œ Jadi begini, orang yang
menghafal Qur’an itu seperti orang yang beternak unta
๐Ÿซ Orang yang sedang berburu unta seperti orang yang sedang menghapal Al Qur’an, Orang yang sudah menangkap onta seperti orang yang sudah hafal,
๐Ÿซ sedangkan orang yang sedang memelihara onta itu seperti orang yang menjaga hafalannya.

Masalahnya, tidak semua onta jinak
(iya gak sih? saya bukan tukang unta
soalnya, kalau salah mohon
maafya…:p).
Tapi kita asumsikan saja:
๐Ÿซ๐Ÿซ๐Ÿซ Unta itu ada 3 jenis: liar , ada yang setengah liar , ada yang jinak . Begitupun hafalan, ada yang lemah ,agak kuat , dan sangat kuat
Sekarang kita analogikan lagi, hafalan yang lemah itu seperti unta liar ,
yang maunya kabur terus… (kabur dari ingatan) hafalan yang agak kuat itu seperti unta setengah liar ,
kadang mau kabur, kadang tidak.
hafalan yang kuat itu ibarat unta jinak , yg justru lebih suka pada pemeliharanya. Hafalan lemah itu
biasanya berupa hafalan-hafalan yang baru saja dihafal, seminggu yang lalu,
misalnya. Hafalan yang baru dihafal ini rentan lupa. Semakin baru hafalan, semakin mudah lupa,
biasanya.
Nah…strateginya,
sebagaimana dalam beternak unta,
seharusnya kita lebih fokus pada mengurus ‘unta-unta liar’. Karena unta liar lebih mungkin untuk kabur
dibanding yang jinak. Begitupun dalam menjaga hafalan, rumusnya
adalah…
” Utamakan hafalan-hafalan
yang masih lemah“.
Aplikasinya…,“Hafalan yang lemah harus lebih banyak diulang daripada halafan yang kuat “. Soalnya, banyak
penghafal Qur’an yang sukanya murajaah hafalan2nya yang sudah
kuat saja, sedangkan hafalannya yang
lemah jarang diulang2.
๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€ Akhirnya…
yang hafalannya yang kuat tambah kuat, yang lemah tambah lemah.
Walaupun demikian, bukan berarti hafalan yang sudah kuat tidak diurus.
Harus diulang-ulang juga. seperti onta yang sudah jinak, dia juga tetap perlu diberi perhatian,
walaupun tidak seintensif unta yang bermasalah (liar). Idealnya, untuk
unta liar, harus diurus minimal setiap 3 hari sekali. Setiap 3 hari,
hafalan lemah harus diulang minimal sekali. Kalo misalnya hafalannya 3
surat dan masih lemah semua, maka murajaahnya sehari 1 surat. Untuk
unta setengah liar, harus diurus minimal setiap seminggu sekali,
Setiap seminggu, hafalan agak kuat harus diulang minimal sekali.
Misalnya, kalo hafalannya yang agak kuat ada 7 surat, maka murajaahnya
sehari 1 surat. Sedangkan untuk unta jinak,
boleh ditinggal agak lama. Tapi jangan kelamaan,
minimal dalam sebulan
keulang minimal sekali. Sebagai contoh,
misalnya ada orang punya hafalan Al Qur’an 40 surat. 30 surat diantaranya hafalan kuat, 7 hafalan agak kuat, dan 3 lemah.
Maka murajaahnya hariannya: 1 surat hafalan kuat, 1 surat hafalan agak
kuat, dan 1 surat hafalan lemah.
Dengan cara ini, hafalan kuat akan terulang sekali sebulan, hafalan agak kuat seminggu sekali, dan hafalan
lemah 3 hari sekali.
Nah… kemudian,
biarkan onta-onta itu tumbuh sehat,
supaya bisa beranak-pinak, bisa diambil susunya, bisa dipakai sebagai kendaraan, dan diambil dagingnya
buat makanan (kalo lapar… ).
Maksudnya, rawatlah hafalan kita, insya Allah hafalan kita akan bertambah banyak dan memberikan manfaatnya buat kita juga,
insyaAllah… ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ

Source: Pustaka Ilmu Tahfidzul Qur'an

Proses Meluruskan Niat

Menjadi seorang hafidzh Al-Qur'an 30 juz bukan hanya berbicara tentang tujuan, tapi lebih kepada proses. Proses meluruskan niat, membersihkan hati, menjaga kesetiaan dan komitmen untuk selalu bersama Al-Qur'an dimanapun dan kapanpun. Sebuah proses menjaga diri dari apa yang tak perlu dilakukan, juga sebuah proses untuk senantiasa mentautkan hati dengan Al-Qur'an. Agar dengannya lisan, mata, telinga dan hati senantiasa dalam keadaan berdzikir mengingat TuhanNya. Menghafal Qur'an adalah salah satu cara untuk menikmati cinta dalam hidup setia bersama Al-Qur'an.

Sentuhan Pertama

Hasil yang diraih oleh seseorang dalam rangka mencari jati dirinya bisa jadi adalah hasil dari sentuhan-sentuhan. Ada yang menjadi penyanyi profesional, suaranya merdu sekali hingga mampu mengambil dan membawa perasaan para pendengarnya. Ada pula yang menjadi Qari’(pembaca Al-Qur’an) atau Imam yang ketka mendengar bacaannya hati serta merta luluh dan bergetar, seraya menangis, ingat akan Allah yang menurunkan Al-Qur’an yang begitu indah dibaca dan didengarkan.
Jika nanti Allah beri kita umur yang panjang, mungkin Allah beri kita kesempatan untuk berperan sebagai orang tua, ayah dan bunda, sebuah peran yang menuntut pemahaman akan tanggung jawab yang tidak main-main. Akan jadi apa buah hati kita nanti bisa sangat mungkin dipengaruhi oleh sentuhan pertama kita. Maka perhatikan, kiranya dengan apa kita menyentuh permata hati kita kelak.
Semoga dengan Al-Qur’an sebagai sentuhan pertamanya, kelak dia akan menjadi sosok yang mencintai dan menggenggam erat-erat Al-Qur’an. Semoga dengan iman sebagai sentuhan pertamanya, kelak dia akan jadikan Al-Qur’an, petunjuk dari Allah dan ajaran Nabi sebagai panutan dalam menjalani kehidupan.
Tak perlu menunggu hingga menjadi seorang hafidzh atau hafidzah untuk memulainya. Awali dengan kebiasaan membaca Al-Qur’an bersama selepas maghrib, dengan mengajarkan doa sehari-hari dan surat-surat pendek semoga jadi langkah awal untuk mempersiapkan mujahid dan mujahidah kecil kita dengan sentuhan-sentuhan berikutnya. Sentuhan-sentuhan yang akan membawanya menuju cinta kepada Tuhan dan Nabinya. Sentuhan-sentuhan yang akan mengantarkan kita ke surga, menjadi semulia-mulia ayah dan bunda yang mendidik buah hatinya dengan sebaik-baik cinta.
Teruntuk ayah dan bunda, semoga Allah hadiahkan kepada ayah dan bunda mahkota cahaya yang mulia.

Yogyakarta, 24 Oktober 2016

Tentang Menjaga

Menghafal Al-Qur’an akan mengajari kita bahwa menjaga selalu terasa lebih berat daripada mendapatkan, tapi darinyalah kamu akan memahami arti penting komitmen dan tanggung jawab.
Seandainya kamu tau tingginya usaha untuk menjaga daripada mendapatkan, niscaya kamu akan bersyukur dan tak akan semudah itu untuk melepaskan atau melupakan.
Seperti halnya seorang ayah yang telah merawat putri kesangannya sejak kecil, menjaganya dengan penuh kasih sayang tak kan mudah melepaskannya begitu saja. Terasa amat berat baginya ketika melepaskan putrinya untuk seorang laki-laki yang mau tidak mau harus dipercayainya.
Bisa jadi sebesar apa perjuangan kamu dalam menjaganya, sebesar itu pula cintamu kepadaNya.
Yogyakarta, 24 Oktober 2016

Kamis, 20 Oktober 2016

Prioritas Ilmu Atas Amal

Di antara pemberian prioritas yang dibenarkan oleh agama ialah prioritas ilmu atas amal. Ilmu itu harus didahulukan atas amal, karena ilmu merupakan petunjuk dan pemberi arah amal yang akan dilakukan. Dalam hadis Mu’adz disebutkan, “Ilmu itu pemimpin dan amal adalah pengikutnya.”
Imam Bukhari menyebutkan Ilmu itu mendahului perkataan dan perbuatan. Maksudnya adalah bahwa ilmu harus menjadi syarat bagi ke-shahih-an perkataan dan perbuatan seseorang. Kedua hal itu tidak dianggap shahih kecuali dengan ilmu; sehingga ilmu itu didahulukan atas keduannya. Ilmulah yang membenarkan niat dan membetulkan perbuatan yang akan dilakukan.
Dalil yang dapat digunakan untuk membenarkan mendahulukan ilmu atas amal dapat dilihat pada ayat yang pertama kali Allah swt turunkan, yakni “Bacalah”. Dan membaca itu kunci ilmu pengetahuan; dan setelah itu barulah diturunkan ayat yang berkaitan dengan kerja, sbb :
Hai orang yang berselimut. Bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah.” (al-Muddatstsir: 1-4).
Sesungguhnya ilmu pengetahuan mesti didahulukan atas amal perbuatan, karena ilmu pengetahuanlah yang mampu membedakan antara yang haq dan yang bathil. Fiqih prioritas yang sedang kita bicarakan ini dasar dan porosnya ialah ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan kita dapat mengetahui apa yang mesti didahulukan dan apa yang harus diakhirkan. Tanpa ilmu pengetahuan kita akan kehilangan arah, dan melakukan tindakan tidak karuan.
Benarlah apa yang pernah diucapkan oleh Khalifah Umar bin Abd al-Aziz. “Barangsiapa melakukan suatu pekerjaan tanpa ilmu pengetahuan tentang itu maka apa yang dia rusak lebih banyak daripada apa yang dia perbaiki.”
Adapun Imam Hasan al-Bashri memperingatkan orang yang tekun beribadah dan beramal, tetapi tidak membentenginya dengan ilmu pengetahuan dan pemahaman. Dia mengucapkan kata yang sangat dalam artinya, sbb :
Orang yang beramal tetapi tidak disertai dengan ilmu pengetahuan tentang itu bagaikan orang yang melangkahkan kaki tetapi tidak meniti jalan yang benar. Orang yang melakukan sesuatu tetapi tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu itu, maka dia akan membuat kerusakan yang lebih banyak daripada perbaikan yang dilakukan. Carilah ilmu selama ia tidak mengganggu ibadah yang kau lakukan. Dan beribadahlah selama ibadah itu tidak mengganggu pencarian ilmu pengetahuan. Karena ada sebagian kaum Muslimin yang melakukan ibadah, tetapi mereka meninggalkan ilmu pengetahuan, sehingga mereka keluar dengan pedang mereka untuk membunuh umat Muhammad saw. Kalau mereka mau mencari ilmu pengetahuan, niscaya mereka tidak akan melakukan seperti apa yang mereka lakukan itu.”

Fiqih Prioritas, karangan Dr. Yusuf Al Qardhawy

yogyakarta, 20 oktober 2016

Keep Hamasah Muslimah :)


Seanggun-anggun perempuan adalah perempuan yang tidak hanya pandai merawat kecantikannya, tetapi juga perempuan yang berusaha untuk selalu merawat hatinya, merawat imannya, juga merawat interaksinya terhadap Al-Qur'an. Jangan takut, Allah akan menolongmu. Adakah yang lebih indah dari seorang bidadari dunia yang sedang belajar menyurga?

Insyaallah:)

Menunggumu dengan Sabar


Di saat menunggu sudah menjadi hal yang membosankan, aku senang bermain-main dengannya. Banyak yang bisa kulakukan dengan menunggu, menikmati kesibukanku, menghabiskan waktu dengan teman-teman mentoring, termasuk menikmati saat-saat sendiri.
Di saat menunggu sudah menjadi hal yang membuat orang tidak sabar, aku akan tetap sabar. Aku tidak akan mengumbar perasaan kemana-mana, tidak akan menjualnya dengan murah kepada siapapun, apalagi menggonta-ganti seenaknya begitu cepat. Diri ini tidak boleh semurah itu. Agar kamupun tidak khawatir dengan keadaanku.
Di saat menunggu sudah menjadi hal yang paling mengecewakan, aku senang melakukannya. Karena hal yang aku tunggu, tentunya hal yang pasti, berharga, dan penuh kejutan didalamnya, apalagi jika terselip ridho-Nya. Karena dalam hidup ini, aku belajar. Antara yang harus ditunggu dan dilepas. Lagipula aku juga tidak ingin menunggu yang tidak pasti, yang membuat batin lelah menerka, yang tidak berani berkomitmen, hanya mengumbar kata-kata manis. Dan jika kecewa perasaannya tumpah di mana-mana yang solusi pun tidak dapat.
Ternyata hidup ini sepenuhnya tidak buruk jika kita mau bersabar menunggu. Jangan menghabiskan separuh hidupmu hanya untuk menunggu hal yang belum pasti adanya.
Mari kita jaga baik-baik rasa saling percaya ini, agar salah satu dari kita tidak perlu khawatir. Sebab barangkali, menunggu ini adalah cara Allah untuk melihat kesabaran kita sebelum kita bertemu nanti.
Aku akan tetap menunggu. Karena aku percaya, dalam hidup ini tidak akan pernah ada yang sia-sia jika kita melakukannya karena Allah. Termasuk menunggu, bukan? Karena aku yakin kamu juga percaya. 
Aku menunggumu.

Rabu, 19 Oktober 2016

Dicintai Karena Allah?

Kau berharap dicintai seseorang karena Allah, sudahkah kau terus belajar menuju apa-apa yang benar Allah cintai?
Bagaimana mungkin seseorang bisa jatuh hati padamu karena Allah, sementara hal-hal yang Allah cintai saja enggan kau dekap dalam kehidupan.
Barangkali, yang seperti inilah yang sering membuat kita terkulai dihajar harapan kita sendiri. Sebab kita terlalu asyik bergantung pada harapan, tapi lupa untuk benar-benar tulus mengupayakan.
Harapan itu akan semakin nikmat bila kita berserah setelah benar-benar mengupayakan. Harapan itu akan semakin legit setelah kita paham bahwa upaya kita menuju harapan bukan semata-mata karena ingin harapan itu menjadi nyata, tapi karena kita paham ketika kita berjalan menuju harapan baik berarti kita sedang mengakrabi kebaikan. 
Bukan semata apa tujuannya, tapi bagaimana kita berbahagia menyesap prosesnya.

Bertemu, Menyatu

Jika nanti kita bertemu
Tak ada alasan bagiku untuk tidak mencintaimu
Karena aku telah menantimu sekian waktu
Dalam doa dan sujud malamku
Dalam kalbu yang tersimpan rindu
Jika nanti kita menyatu
Tak ada alasan bagiku untuk tidak meyakinimu
Karena keteguhan hatimu untuk memilihku
Telah hapuskan keraguanku atas tulusnya hatimu untuk berjuang bersamaku
Aku menantimu di ujung temu
Di balik lembaran kalamNya yang ku jaga selalu

Menghafal Al-Qur’an adalah Proses Mencintai

 Sesungguhnya menghafal Al-Qur'an bukanlah semata-mata berbicara tentang banyaknya juz, surat, atau ayat yang kita hafal. Ia jauh lebih tinggi daripada sekedar hafal rentetan huruf-huruf arab yang ada di dalam Al-Qur'an.
       Hati ku berbisik bahwa sejatinya Menghafal Al-Qur'an adalah satu bentuk proses mencintai. Tak perlu bicara sudah berapa ayat yang kau baca hari ini ? Tapi ia seakan menyentuh ku dan bertanya, sudah berapa ayat yang kau cintai hari ini ? Adakah kau rasa tenang ketika cintamu tersampaikan lewat ayat-ayat yang kau baca hari ini? Karena cinta tak terdifinisi dalam jumlah bilangan. Ketika kita cinta,yang kita tau hanya bagaimana caranya agar cinta itu tak lekang oleh waktu, agar bagaimana ia selalu terasa di dalam hati.
       Menghafal Al-Qur'an adalah satu bentuk proses mencintai.Ketika engkau mulai berazzam menghafal ayat demi ayat. Kesungguhan cintamu akan diuji. Apakah cinta itu begitu mudah datang dan pergi ? Apakah cinta itu begitu mudah terucap hari ini lalu dengan mudahnya hilang esok hari? Begitu juga dengan ayat yang engkau hafal. Apakah ia hanya menjadi target hafalanmu hari ini lalu kemudian besok kau bisa lupakan dia dengan alasan sibuk,tak sempat,dan alasan lain ? Bukan ,itu bukan cinta. Cinta tak kenal kata sibuk, cinta tak kenal kata tak sempat.
      Menghafal Al-Qur'an itu adalah satu bentuk proses mencintai. Ya,mencintai iman dan kesuciannya. Ketika menghafal Al-Qur'an cintamu dipersaksikan. Adakah cintamu pada perintah Allah begitu besar daripada berpasrah diri dalam godaan untuk berbuat maksiat. Karena cinta itu harus suci.  Karena Al-Qur'an itu suci,dan ia tak akan melekat di hati orang yang berbuat maksiat. Maka cintamu akan dipersaksikan. Bukan hanya sampai 30 juz kau kuasai. Tapi selama waktumu di dunia masih ada.
       Menghafal Al-Qur'an adalah satu bentuk proses mencintai. Ia bukan semata-semata untuk tujuan hafal di luar kepala akan 30 juz yang banyak itu. Tapi ia adalah tentang bagaimana engkau mencintainya seumur hidupnya. Cinta itu bukan hanya untuk diucapkan dan dilafalkan berkali-kali. Tapi ia harus direalisasikan dan dibuktikan.
       Maka adakah kau bilang cinta sementara kau tak mau bersungguh-sungguh  berjalan bersamanya? Maka apakah kau bilang cinta, jika cintamu hanya setengah-setengah. Kau cintai sebagian dan kau ingkari yang lain ? Bukan begitu. Karena Cinta itu bukan setengah-setengah. Ia utuh,tak terbagi.
Quotes kali ini sebuah nasihat yang diberikan mbah bolong waktu ketika pernah sejenak kehilangan rasa cinta itu.
“Orang yang hafal Al-Qur'an itu pilihan Allah. Semoga engkau yang dipilih…”

Allahummarhamna bil qur'an…
Yogyakarta, 2016

Allah Jadikan ini Sebuah Pelajaran

Bertemu denganmu adalah anugerah yang disematkan Allah melalui luka.
Tapi memberi pemahaman.
Mengingatkan lagi siapa diri yang sudah terlampau jauh diseret duniawi.
Dan perasaan yang dicukupkan hanya pada-Nya.
Biarlah Allah jadi hakim di antara keinginan-keinginan yang tak mampu diwujudkan sendirian.

Selasa, 18 Oktober 2016

Berusaha menjadi Pantas

Tugasku kini adalah berusaha memantaskan diri. Bukan untukmu, melaikan untukNya. Jika dihadapan Allah aku memang sudah pantas, sangat mudah bagiNya membuat kita pantas untuk dijadikan teman sehidup sesurga.

Kau tak perlu risau, tak perlu terburu-buru. Nikmati setiap prosesnya. Karna dengan keyakinan kita yang utuh, aku percaya Allah akan menjawab di waktu yang tepat saat kita berdua sudah sama-sama siap, saat kita sudah sama-sama ingin berhenti dan sudah paham bahwa pada akhirnya semua perihal meningkatkan ketakwaan kepadaNya. Tuhan hanya ingin lihat, seberapa jauh usaha kita untuk terus memperbaiki diri dan kualitas ilmu yang dimiliki.

Saat sendiri ini, semoga kita bisa terus mendekatkan hati pada Rabb Ilahi. Hingga Ia pertemukan kita di jalan yang telah Allah rencanakan.

Usaha kita saat ini, cukup saling berdoa dan memperbaiki diri. Kamu perlu tau satu hal, saat kamu mencari yang terbaik kamu tidak akan menemukannya, tetapi untuk mendapatkan yang lebih baik dan menjadi lebih baik. Insyaallah pasti akan kamu dapatkan ๐Ÿ˜Š

Semoga kau paham.

Keluar Dari Kegelapan


“Alif... Laam... Raa...
(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang-benderang dengan izin Rabb mereka, (yaitu) menuju jalan Rabb Yang Maha Perkasa, Maha Terpuji.”
[QS Ibraahim:1]

Terdengar merdu suara tilawah yang dibacakan seorang guru Qur'an sore ini sebelum memulai tahsin, beliau membuka kelas membacakan surat tersebut yang membuat saya hendak tersentak, merenung sejenak dalam hati.

Jika Allah Subhanahu-wa-Ta’ala telah mengabarkan kepada kita, bahwa sebab Al Qur’an-lah, kita akan keluar dari kegelapan, kejahilan (kebodohan) dan tak mengetahui apa-apa, maka sanggupkah diri kita jauh dari Al Qur’an?

Jangan menjauh dari Al-Qur’an, atau engkau akan senantiasa berada dalam kegelapan.
Astaghfirullah, selama ini masih suka lalai terhadap apa2 yang ada di dunia๐Ÿ˜ฅ

"Janganlah menjauh dari Al-Qur'an, atau kamu akan selalu dalam kegundahan."
Bangkitkan ghirah kita untuk terus membaca dan belajar Al Qur’an."
Ujar beliau selepas tahsin.

Jadi intinya hari ini dapet pelajaran lagi, harus terus Berjuang.
Bersemangat untuk selalu dekat denganNya!
*In syaa Allah, BISA!*

Agar jalan yang terang-benderang, Allah izinkan senantiasa ada di depanmu!

Yaa Mughollibul qulub tsabbits qolbi ‘alaa diinik. Aamiin ๐Ÿ˜Š

Yogyakarta, 18 Oktober 2016

MELAWAN DIRI



“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan Masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.”_
[QS Ali ‘Imraan:142]

Semisalnya saja ...

mereka yang rajin tilawah saja belumlah cukup,
karena masih belum nyata bagi Allah,
*Apakah ia sedang berjihad dan sabar dalam tilawahnya?*

Apalagi kita yang futur... Kadang tilawah,
kadang lepas?
*Ayo, lawanlah diri yang futur dengan ilmu!*

Apalagi kita yang tak sabar...
Kadang lapor,
kadang tidak?
Ayo, lawanlah diri yang tak sabar dengan usaha yang terus-menerus!

Apalagi kita ...
yang belum bertekad untuk menjadikan tilawah kita ini sebagai jalan jihad?
*Ayo, lawanlah diri yang tak semangat dengan jihad!*
Jihad, Lillaahi Ta'ala!!!

Allaahul musta’aan..

Yaa Rabb kami ...
Nyatakanlah jihad ini bagi kami,
teguhkanlah kami,
dan mudahkanlah semua urusan kami.

Yaa Rabb kami ...
Hadiahkanlah sabar dan istiqomah ke dalam dada kami,
agar bermesra dengan kitab-Mu ini menjadi degup jantung kami,
sampai datang ajal kami.

_“... dan sembahlah Rabbmu, sampai yakin ajal datang kepadamu."_
[QS Al Hijr : 99]

Happy Graduation My dearest


To my dearest @intanhasanah052
Barakallahu fiikum atas Gelar S.T nya⚒
Alhamdulillah for the chance He gave for me to know you. I'm sure if not on this path, i will not know you because me myself is the one who love to be with myself.

Perempuan Engineering, penakluk gunung, pencinta gelombang Wkwk apa lagi ya sebutannya. hmm
Pokoke Seorang sahabat yang senantiasa positif, berpikiran jauh ke depan, senantiasa senyum dibalik nano-nanonya Tugas Akhir, seorang yang berani saat momen2 lose in Bandung, lose in bali, and lose in Lombok. Haha
sangat2 supportive dan paling penting sangatlah menjaga kebajikan pertemanan. Ga pernah bosen kalo ditanya2 terus tentang kebumian karna punya teman yang bawel kaya aku gini, seringnya gangguin kk kalo lagi ngerjain tugas, minta dijelasin arti tugas Kaka karena kepo bgt ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Setelah pulang dari Lombok 2015 kemarin kita udah ga pernah ketemu lagii, kamu sibuk TA, aku sibuk KP.

And Finally, sekarang kamu udaah lulus dengan nilai dan gelar terbaik. Aku bangga banget. Dan sedihnya pasti akan kangen bgt karna kesibukan kita yang udah beda.

Jadi ingat rencana kita, di persimpangan percakapan kita pernah berencana untuk menuntut ilmu bersama di negara yang sejak dulu sering kita mimpikan๐Ÿ˜ Wkwk insyaallah.


"Semoga ga cuma wacana ya fiir, kamu cepat lulus, aku cepat kerja, nanti lanjut S2 bareng" ujarnya begitu. Apapun akhir cerita kita nanti. Semoga itu yang terbaik yang telah Allah goreskan.


On this beautiful day. Semoga Allah senantiasa memberikan km kesehatan untuk trus istiqomah dijalan ketaatan dan kebaikan, semoga ilmunya bermanfaat. Semoga bisa menemukan pilihan yang tepat & tetap menjadi sahabat terbaik!

 uhibbuki fillah๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

Senin, 17 Oktober 2016

Kerisauan Beranjak atau Tetap Tinggal



akhir-akhir ini, batin merasa terkekang.. entah..

Teringat pesan almarhum Ayah yang ingin sekali melihat saya untuk menempuh pendidikan S2 di Universitas yang dulu sempat beliau ingin singgahi.
saya ragu, ini bukan persiapan yang mudah, bukan seperti membalikan telapak tangan, sementara disatu sisi lain Ibu saya terus mendorong saya untuk tetap mengikuti pesan Alm.Ayah

haruskah?
Yaallah, ini benar-benar keputusan yang sangat berat. harus tinggal di negri orang dan menjadi kaum minoritas diatara jiwa-jiwa baru.
saya paham sekali, jikapun Ayah saat ini masih ada, beliau pasti masih bersih keras untuk tetap mendorong saya pergi menuntut ilmu disana.
namun bagaimana jika hati masih takut, bagaimana jika hati masih ragu.

saya paham ini adalah kesempatan yang tak datang dua kali, namun untuk beranjak pergi, langkah kaki masih terasa berat.
masih banyak hal-hal yang perlu dipersiapkan. Bu, maaf aku masih merasa belum siap :(

untuk beberapa bulan ini, aku mohon jangan dulu kita bicarakan perihal hal ini.
bukan bermaksud mengecewakan, aku hanya perlu waktu untuk memutuskan semua bu.
aku ingin fokus menyelesaikan studiku dulu saat ini.

perihal keinginan ibu dan ayah. Aku memang sangat ingin melanjutkan studiku disana bu, yah. namun beberapa hal membuatku perlu berpikir sejenak.

Minggu, 16 Oktober 2016

Cara Memeluk Diri Sendiri

Sejak kepergianmu
Aku belajar lagi
Bagaimana cara memeluk diri sendiri
Mungkin dengan menulis puisi
Mungkin dengan menatap langit pagi
Mungkin dengan memberi sepeser rezeki, pada bocah kelaparan di pinggir jalan yang bertelanjang kaki
Mungkin pula dengan mengingat kembali
Kalimat dari ibunda tempo hari
: “Meski setia adalah hal yang baik, beberapa orang justru hendak menjadi orang jahat.”
- Tia Setiawati

SIBGHOH - Murabbiyah


teringat kata2 sang Murobbiyah di kampung halaman; Bekasi.
beliau pernah bilang “Orang yang sudah tersibghoh, harusnya berbeda; dari segi pakaian misalnya, kita pasti risih kalo ga pake kerudung menutup dada, pakenya gamis, atau pakaian yg tidak ketat, longgar, kemana2 pake kaos kaki. 

Cara minum contoh lainnya; dengan duduk, ga berdiri apalagi sambil berjalan.
Selera juga berubah; sukanya sama ikhwan yg liqo'an, atau minimal ga merokok.
Sampah ga buang sembarangan, dilipet, disakuin kalo ga nemu tong sampah.”
Memang, tarbiyah sedikit banyak merubah cara pandang saya, cara hidup saya, bahkan merubah selera saya.
Ya…seharusnya, orang yg sudah ter-tarbiyah, tersibghoh sama sibghoh-Nya Allah, harusnya berbeda, menjadi manusia yg lebih baik.
Contoh2 yg beliau sampaikan hanyalah sebagian kecil saja, bahkan jika kita mengamalkan Islam secara kaffah, pastilah kita menjadi ummat terbaik.

wallahualam..

Rabu, 12 Oktober 2016

Ibu Bilang Ruang Tanpa Jeda itu; Rindu

Tepat kepulangan saya ketanah rantau.
Melangkahkan kaki meninggalkan Rumah merupakan hal yang tak pernah berubah, selalu berat untuk melangkah. Karena akan ada banyak cerita dan kisah yang perlu dikorbankan. Namun demi cita-cita masa depan, demi sebuah harapan yang kian menggantung tinggi di langit semesta saya percaya dan yakin, bawa apa-apa yang telah di korbankan selama ini akan diganti dengan nikmat yang tiada duga dari Semesta.
Lebih tepatnya, dan lebih pantasnya hal itu patut diberikan kepada Ibu. Biar Semesta yang mengganti setiap bulir doa, tetas air mata, ruam-ruam yang meluas sebab rindu yang kerap membuat beliau menggigil dan khawatir.

Lantas bagaimana jika dalam jeda ratusan kilometer rindu itu ikut merayap? Merekat pada peron-peron yang selalu berhasil mengantarkan kepergian. Menghadirkan tangis juga bahagia untuk sepasang mata yang enggan berpisah.

"Fira lagi apa? Mama kangen, biasanya pulang ada Fira, sekarang jadi sepi.hehe" ujar beliau di tengah percakapan  saya dengan beliau yang mengalir lembut via handphone.

Saya paham betul, bagaimana jarak itu kerap membuat kita harus terpisah dan menahan sakit tersebab rindu, ibu.

Tak perlu khawatir, Bu. Aku pun begitu rindu. Aku selalu rindu, namun ibu hanya perlu bersabar dan yakin bahwa ruang tanpa jeda itu akan segera menemukan muaranya.

Salam rindu dari Yogyakarta.
-Putri Sulungmu-
12 Oktober 2016


Selasa, 11 Oktober 2016

Dear, adik tersayang; Naufal Nabil Pradipta. 
sudah 7 tahun, dan kaka rindu sekali dik.
semoga kelak di surgaNya, kita bisa bertemu kembali :)

Selasa, 04 Oktober 2016

Tidak Lagi

seperti senja yang tergantikan pekat malam.
mencintaimu hingga kini seperti berjalan di atas luka.
meninggalkan goresan disetiap sudutnya.
mencoba mencari obat pengalis hati.
sudah.
namun, mencintaimu hingga kini adalah mengikat diri.
dingin tak terperi, menahan ragaku yang tak pernah bisa berlari.
entah indah.. entah salah..
entah yakin.. entah ragu..
karena mencintaimu adalah egoku
karena jalinan yang ada adalah ego kita
memaksakan segala khendak semesta.
karena mencintaimu adalah menghalalkan segala jenis-jenis dusta dari mulutmu.
berpura-pura benar, meski semesta telah berkata lantang; itu salah.
padahal mencintaiku, mungkin tak pernah kau lakukan
padahal hadirku, mungkin tak pernah kau anggap ada
padahal rasaku, tak pernah benar-benar terbalas tulus
meski salah, kau pandai menjadikan dusta kadang nampak indah
kau rajut hari semu, di hari berwarna abu
terlanjur aku menggantungkan asa
tapi nyatanya, kau tak pernah benar-benar siap
dan kamu..
diam-diam melangkah pergi 
diam-diam melangkah hilang
diam-diam menjarak
diam-diam memulai
diam-diam ingin singgah
diam-diam ingin menemukan kembali
sementara,yang aku dapati hanya punggung yang mulai tanggal.
hingga aku nyaris jatuh terlalu dalam… disana….