Senin, 05 Desember 2016

keindahan Doa Istikarah

“yaa Allah aku mohon pilihan dengan ilmuMu..
bukan ilmuku karena aku tak tahu tentang dirinya, kecuali yang dhohir-dhohir saja itupun sangat terbatas, Engkau yang mengenal dia lahir dan batin, yang dia sembunyikan dariku Engkau mengetahuinya, yang tak tampak dariku, Engkau melihatnya,
..dan Aku memohon ketetapan dengan kuasaMu,,
bukan kuasaku, hati ini ada dalam genggamanMu.
Engkau mudah membolak-balikkannya dari benci jadi cinta, dari cinta menjadi benci, Engkau yang kuasa atas hati ini ya Allah..
..ya Allah kalau engkau tahu, urusan ini baik untukku, dalam agamaku, kehidupanku, dan kesudahan urusanku nanti, tetapkan dia untukku, mudahkanlah dia untukku, dan berkahi untukku di dalamnya…

Andai Langit Begitu Dekat




Andai semua yang kita impikan bakal segera terwujud saat itu juga, darimana kita akan belajar sabar?
Andai semua do'a-do'a yang kita panjatkan selalu dikabulkan, darimana lagi kita akan belajar ikhtiar?
Dan andai semua yang kita kehendaki akan selalu menjadi milik kita, darimana kita akan belajar ikhlas?

Karena akan datang, satu hari di mana ada do'a-do'a yang meski sudah terlanjur berpayah melafalkannya berkali-kali ternyata masih belum cukup kuat untuk menemukan jalannya pada pintu-pintu langit.

Satu hari lagi, di mana impian yang telah lama digenggam masih harus tertunda oleh waktu yang tenggelam bersama puing-puing kesabaran, masih harus bersabar lagi, menanti impian.

Sebab barangkali, tidak pernah salah jika kita belajar hal-hal sederhana itu sejak awal. Termasuk ikhlas.
Karena pasti akan datang saat-saat ketika yang kita miliki tidak lagi menjadi milik kita. Sesuatu yang kita miliki, kita sayangi, bahkan yang dicintai sekalipun pasti akan pergi suatu hari nanti. Dan kita hanya perlu mengikhlaskan karena mereka memang benar-benar telah pergi.

Boleh jadi, itu mengapa tiap-tiap do'a yang kita lafalkan tidak selalu terkabul, hal-hal yang kita impikan terkadang harus kita relakan terkubur dalam-dalam, dan mengikhlaskan yang bahkan sudah pergi, termasuk orang-orang yang kita sayang dalam hidup ini.

Sayangnya, meski telah berkali-kali belajar pun, kita masih sering sulit untuk sabar, ikhtiar, apalagi ikhlas.

Yogyakarta, 5 Desember 2016

Yang Memang Harus Pergi




Orang-orang yang memang sejak awal tidak ingin bersama kita, memang lebih baik dilepaskan.
Meski sudah menaruh banyak perasaan kepadanya, tetap tinggal hanya akan menggores-goreskan luka pada diri sendiri setiap waktunya.

Walau berjuta alasan telah dibisikkan kepadanya, itu tidak akan cukup jika hatinya memang telah ditakdirkan pada yang lain. Cukup lepaskan.
Jika nanti ia ingin tinggal, biarkan. Jika nanti ia ingin pergi, lepaskan. Jika kita masih menjadi yang terbaik baginya, maka ia akan kembali juga pada akhirnya.

Jangan pernah mempertahankan sesuatu yang tidak bisa dipertahankan meski dengan beribu alasan. Karena cinta bekerja dengan saling bertahan, bukan hanya satu bertahan kemudian yang satu melepas secara perlahan.
Cinta harus memiliki hanya berlaku untuk mereka yang didambakan juga berharap pada perasaan yang sama.

Karena sekuat mana pun kita menggenggam, kalau itu bukan takdir kita, maka akan terlepas juga. Sebaik apapun kita mengada-ada kebaikan takdir yang ditentukan sendiri, takdir-Nya masih tetap yang terbaik.
Kita mungkin menemukan cinta, begitu pula kehilangannya. Namun, ketika cinta itu mati, kita tidak perlu mati bersamanya.

Tidak perlu.
Biarkan cinta itu kembali menempuh takdirnya. Tidak perlu memanggil kembali apa yang seharusnya pergi. Karena sesuatu yang telah pergi, meski kembali ia tak akan pernah sama lagi.

Ridha Allah


Ada hal yang tak akan pernah bisa dikalahkan, pun dimenangkan. Untuk yang demikian, ujian terberatnya adalah tentang keikhlasan. Ada hal yang tak pernah bisa dimiliki, ada juga yang justru selalu diambil. Untuk yang demikian, ujian terbesarnya adalah tentang kesabaran.
Kalau ada air mata yang jatuh karena bersedih, barangkali kita terlalu erat menggenggam keinginan dan tak kuasa untuk merelakan sesuatu. Semoga semakin hari, hati kita semakin lapang untuk menerima bahwa kenyataan tidak selalu sama dengan keinginan. Semoga perasaan kita semakin hari semakin peka untuk melihat bahwa banyak orang yang tidak lebih beruntung dari kita.
Kalau kita tidak pernah mendapatkan apa yang selama ini kita inginkan, jangan-jangan kita lupa untuk bersyukur atas apa yang sudah dimiliki. Rasa-rasanya, kalau kita bisa menghitung segala kebaikan-Nya, niscaya kita akan menangis tersedu karena mengetahui betapa cinta-Nya begitu besar.
Ujian-ujian kita selalu tentang kesabaran dan keikhlasan. Betapa tidak, kita yang tidak pernah meminta untuk diciptakan tapi Allah menciptakan kita di dunia ini. Kemudian di dunia ini kita diuji dengan berbagai hal yang nantinya akan menjadi pertimbangan apakah kita masuk ke surga-Nya ataukah neraka-Nya. Dan betapa surga dan neraka itu adalah tentang keridhaan-Nya, semoga Allah ridho atas apa yang kita kerjakan, hingga Dia memberikan keridhaan-Nya untuk kita bisa masuk ke surga-Nya. Semoga kita bisa semakin ikhlas menjadi hamba.
yogyakarta, 5 Desember 2016 

Pelajaran terpenting hari ini adalah jangan merusak penjagaan hati orang lain. Jangan mengungkap apa yang selama ini dijaga erat-erat sebagai rahasia oleh seseorang. Jangan mengusik, sebab sudah begitu erat selama ini ia menjaganya sebagai rahasia. Tidak ada hak sama sekali bagi kita untuk mengungkapnya, kemudian menjadikannya sebagai sebuah perbincangan dan candaan.
Hargai dan hormati apa yang dijaga orang lain, hatinya, perasaannya, dan rahasianya. Meski kita sangat ingin bertanya dan mengetahuinya.

Kuatlah wahai hati, aku mohon kali ini dengan sangat

Ada yang berusaha menyembunyikan begitu rapi rasa sakitnya di balik senyum manisnya, supaya dia tetap terlihat baik-baik saja di hadapan manusia. Tapi taukah, beruntungnya dia, yang hanya ingin merapuh di hadapan Rabb-Nya. Ada tangis yang hanya ingin dia perlihatkan di hadapan Rabb-nya. Ada ketidakmampuan yang hanya ingin dia adukan di hadapan Rabb-Nya.

Hanya sebentar, nikmati saja, ini hanya dunia ucapnya pada dirinya sendiri.
Dan sedetikpun kita tidak pernah sendirian, Dia tidak pernah meninggalkan barang sebentar. Dia selalu ada, menemanimu. Sekalipun dunia sungguh begitu berisik, sekalipun dunia ingin menipunya dengan pesona yang begitu memanjakan mata.

Nanti, jika waktu itu tiba semua lelah ini akan terbayarkan. Nanti, jika kita telah sampai di rumah tempat kita pulang tidak akan pernah ada lagi kesedihan seperti saat ini. Nanti, jika kita telah di ijinkan bertemu dengan Dia percayalah bahagia itu tidak akan pernah terbayangkan olehmu saat ini.

Maka, bersabarlah wahai hati, nikmati saja, ini hanya dunia.

Jangan robohkan tembok-tembok yang sudah penuh perjuangan kamu susun dengan pertolongan dari-Nya, jangan robohkan. Biarkan dia menjagamu, menghalangimu dari segala sesuatu yang ingin menjatuhkanmu.  

Kuatlah, aku mohon kali ini dengan sangat.

Menerima Masa Lalu

Tidak pernah ada yang menginginkanmu menjauh dari masa lalu. Tidak pernah ada yang memintamu untuk melupakan masa lalu. Namun, ini tentang bagaimana kita harus paham, bahwa kehidupan ini tidak perlu berjalan membawa beban berwujud masa lalu.

Ketika kita memberinya kesempatan untuk hinggap dalam hidupmu. Perlahan ia akan menghisap segala kebahagiaanmu. Ia tidak akan segan mengganggu apapun yang kita jalani. Hingga tanpa disadari, dayamu habis dihujam tanpa ampun oleh masa lalumu sendiri.

Biarlah masa lalu tetap berada pada posisinya jauh di belakang sana. Biarkan kita memperjuangkan apa-apa yang dicari. Bukan masalah membesarkan ego, bukan juga membenci masa lalu. Namun, hanya berusaha menjaga untuk menjaga diri dari ketakutan-ketakutan yang bisa saja ditimbulkan dari masa lalu. Karena tantangan yang sesungguhnya adalah tentang hari esok, bukan dari masa lampau. Dan hari esok masih menyimpan banyak mimpi yang kita inginkan.

Kita tidak perlu mengemis pada Sang Waktu untuk menyembuhkan segala luka dari masa lalu. Karena waktu tidak pernah mampu mengobati luka apapun. Sebab, yang mengobati lukamu adalah dirimu sendiri, bukan waktu.

Jika sesuatu yang pergi itu memang telah ditetapkan untuk kita, maka pasti ia punya cara sendiri untuk kembali kepada kita pada nantinya. Dan ia akan hadir sebagai hadiah dari masa depan, bukan lagi masa lalu. Meski terkadang, ia hadir dengan cara yang tidak pernah kita duga.
Masalah ini sesungguhnya sangat sederhana, bukan pada masalah kemauan untuk melupakan atau tidak. Melainkan kemauan untuk menerima. Jika hati mau menerima apa-apa yang pernah menyakiti kita di masa lalu, kita tidak perlu repot-repot untuk melupakan lagi. Semakin kita berusaha keras melupakan suatu hal, hanya akan semakin membuatnya susah lepas dari batin.

Tidak peduli nantinya dengan cara apa kita menerima, mungkin lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan. Toh takdir itu akan tetap hadir di depan kita. Meski kita berbalik arah ia akan tetap mengikuti. Ditolak pun mustahil, hingga lambat laun kita menyadari harus menerima takdir itu.
Tidak apa-apa, bukan?
Sebab hanya dengan menerima, kita mampu berdamai dengan masa lalu.

Jumat, 02 Desember 2016

Ajarkan sastra kepada anak-anakmu, sastra bisa mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani.
Umar ibn Al-Khattab RA 

Ternyata Begini

Ternyata begini jadinya, ketika ada seseorang yang datang dan diperbolehkan masuk. Kemudian, dia ingin tinggal di sini. Lambat laun tanpa kusadari dia telah merubah seluruh tujuan hidupku di dunia, menjadikannya lebih sederhana, meski tidak lebih mudah untuk mencapainya.
Ternyata begini, ikhlas yang tanpa mengharapkan apa-apa selain padaNya. Mengakarkan niat pada perubahan besar bahwa semua akan berawal dan berujung kepadaNya. Dan keyakinan bahwa Dia tahu itu semua, tanpa harus kutulis di manapun atau kubicarakan dengan siapapun. Rasa ini lebih menyenangkan daripada ambisi-ambisi masa muda duniawi yang dulu.
Ternyata begini, jatuh cinta pada makhluk yang belum kuketahui wujudnya. Bahkan, aku tidak tahu apakah dia juga mencintaiku sama besarnya. Tapi aku tahu ini cinta. Lalu apalagi, jika aku bersedia mengorbankan apa saja yang kusukai demi kebaikannya?
Ternyata begini besarnya Allah menyayangi aku, hambaNya yang masih saja berlumur dosa.

Kamis, 27 Oktober 2016

Anta Ma'a Man Ahbabta

Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya pada Nabi SAW,
"Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?"
Beliau SAW berkata,
"Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?" 
Orang tersebut menjawab,
"Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya."
Beliau SAW berkata,
"(Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai."
HR. Bukhari no. 6171 dan Muslim no. 2639.

Dalam riwayat lain Anas mengatakan,
"Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi SAW : "Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai)."
Anas pun mengatakan,
"Kalau begitu aku mencintai Nabi SAW, Abu Bakar, dan ‘Umar.
Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka."
HR. Bukhari no. 3688

"Kau durhaka meski kau menyatakan cinta.
Itu pasti bukan cinta, tapi dusta.
Kalaulah cintamu itu sejati, pastilah kau patuh
karena orang yang cinta selalu mengikuti kemauan orang yang dicinta."
{syair al-Rawwaq}

Senin, 24 Oktober 2016

Ismail bin Abi Uwais pernah berkata,
"Jika engkau ingin menghafal sesuatu, maka tidurlah.
Kemudian bangunlah pada waktu sahur, nyalakan pelita, dan
perhatikanlah apa yang ingin engkau hafal itu, maka engkau
takkan lupa sesudahnya, Insyaa Allah"

Jangan Kehilangan Cita-Cita

By: Ust. Abu Qawwam

Kita semua pernah punya mimpi.
Punya cita-cita.
Menjadi penghafal Qur'an.
Menjadi penjaga Al-Qur'an.
Menjadi Ahlul Qur'an.
Pada awalnya datang dengan agak malu-malu ke halaqohQur'an karena ingin bisa. Tapi sungkan juga karena merasabelum bisa.
Ingin kayak mereka, menjadi hafizh Qur'an.
Lalu datang tiap pekan.
Membaca Al-Qur'an menjadi nikmat. Hati menjadi lapang.
Dan mimpi pun mulai terjalin. Janji mulai tercipta.
Ingin menjadi penghafal Al-Qur'an. Ingin menjadi ahlul Qur'an.
Lalu waktu terus berjalan. Belajar menjadi keharusan. Jadwalmengajipun ditetapkan. Baca Al-Qur'an dirutinkan. Meski kemudian mulai berlomba dengan kesibukan.
Kalau tidak bertahan, mimpi akan terkikis pelan-pelan. Lalu lama-lama pudar. Akhirnya menyerah oleh keadaan.
"Saya nggak bisa."
"Saya nggak bakat."
"Saya malu mau bergabung lagi..."
***
Duhai jiwa... Jangan kalah oleh semangat setan. Mereka
membangun mimpi mereka di atas dendam dan kebencian.
Tapi ribuan tahun mereka tetap bertahan...
Sementara kita membangun mimpi ini di atas pondasi cinta.
Cinta kepada Allah...
Cinta Rasululah...
Maka buktikanlah bahwa ia lebih kuat dan lebih kokoh...
Target akhirnya adalah surga. Perjalanannya adalah
sepanjang usia. Tidak masalah belajarnya di sini atau di sana.
Yang penting esensinya sama.
Yang harus kita sesali adalah ketika kita berhenti. Tak
melakukan kebaikan itu lagi. Kita mengubah waktu rutin kita
menghafal Al-Quran dengan kegiatan yang tidak lebih baik
darinya...
Padahal maut adalah pasti.
Dan surgaNya adalah kerinduan sejati...
***
Menghafal Qur'an bukan sekedar status sosial atau kegiatan
pengisi waktu senggang.
Menghafal Qur'an adalah pekerjaan seorang Nabi.
Juga tugasnya Malaikat.
Menghafal Qur'an adalah tentang menjaga kalamullah. Di saat
banyak orang meninggalkannya...
Menghafal Qur'an adalah usaha meniti anak tangga setingkat
demi setingkat, menuju tingkatan surga yang tertinggi. Di
mana di ujungnya kita akan bersama Rasulullah dan semua
hamba Allah yang mulia.
Juga bertemu Dzat yang menciptakan langit, bumi dan semua
yang ada di antara keduanya...
Adakah pertemuan yang lebih indah selain pertemuan dengan
Allah di surga tertinggi sembari membawa kalamNya di lisan
dan dalam hati?
***
Kelelahan adalah hal wajar dalam perjalanan. Istirahat
sejenak. Lalu lanjutkan langkah.
Jangan berhenti, atau kita tidak akan sampai ke tempat
tujuan...
Jangan pernah kehilangan cita-cita...
Atau hidup hanya sekadar menunggu mati...
Tetaplah semangat...
Dan senantiasa berdoa...
Semoga Allah meridhai kehidupan kita...


Bersahabat dengan Al-Qur'an

sahabat...
Berjuanglah disisa hidup kalian untuk selalu mencintai Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada Hari Kiamat sebagai syafa’at. Berikan Allah yang terbaik, maka Allah akan memberikan kita yang terbaik. Istimewakan Allah, maka Allah akan mengistimewakan kita.
sahabat...

Bersahabatlah dengan Al-Qur’an, Karena ia (Al-Qur’an) tak akan pernah meninggalkanmu disaat kesulitan. Tak ‘kan juga mengecewakanmu. Dialah sahabat terbaik duniaakhiratmu.

Baarokallaahu fiikum.

Yogyakarta, Oktober 2016

Cara Menjaga Hafalan Qur'an

Teori berternak unta 🐫
 Banyak yang bertanya, “Bagaimana sih caranya menjaga hafalan AlQur’an?
kok yang sudah dihafal
sering lupa ya? “ Sahabat yang budiman, sebenarnya teori menjaga hafalan Al Qur’an itu sederhana saja, yaitu dengan sering diulang-ulang (murajaah). Kenapa lupa?
yaa…
karena jarang diulang. Coba kalo sering diulang, pasti tetap terjaga. Yang sering lupa, pasti jarang/tidak murajaah? Betul apa betul? *evaluasi diri masing2. Ya, cukup diulang-ulangaja. Insya Allah hafalan jadi lancar.
Jadi ingat tausyiah dari seorang
Ustadz, “Menghafal Qur’an itu tidak perlu cerdas, yang penting rajin dan istiqomah“. Justru dengan menghafal Al Qur’an orang bisa jadi cerdas.
Tapi untuk yang memiliki hafalan Qur’an yang cukup banyak, perlu 'manajemen
pengulangan’ tersendiri untuk menjaga hafalannya. Saya namakan manajemen ini dengan:
🐫 “Teori beternak Unta” 🐫
Sahabat, tidak berlebihan jika aktivitas menghafal Qur’an itu dianalogikan seperti beternak unta,🐫karena Rasulullah saw pernah bersabda,
“Jagalah Al-Qur’an, demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, Al-Qur’an itu
lebih cepat lepas daripada seekor unta dari ikatannya”(H.R. Bukhari)
Teori ini pun terinspirasi dari
hadits di atas…
📌 Jadi begini, orang yang
menghafal Qur’an itu seperti orang yang beternak unta
🐫 Orang yang sedang berburu unta seperti orang yang sedang menghapal Al Qur’an, Orang yang sudah menangkap onta seperti orang yang sudah hafal,
🐫 sedangkan orang yang sedang memelihara onta itu seperti orang yang menjaga hafalannya.

Masalahnya, tidak semua onta jinak
(iya gak sih? saya bukan tukang unta
soalnya, kalau salah mohon
maafya…:p).
Tapi kita asumsikan saja:
🐫🐫🐫 Unta itu ada 3 jenis: liar , ada yang setengah liar , ada yang jinak . Begitupun hafalan, ada yang lemah ,agak kuat , dan sangat kuat
Sekarang kita analogikan lagi, hafalan yang lemah itu seperti unta liar ,
yang maunya kabur terus… (kabur dari ingatan) hafalan yang agak kuat itu seperti unta setengah liar ,
kadang mau kabur, kadang tidak.
hafalan yang kuat itu ibarat unta jinak , yg justru lebih suka pada pemeliharanya. Hafalan lemah itu
biasanya berupa hafalan-hafalan yang baru saja dihafal, seminggu yang lalu,
misalnya. Hafalan yang baru dihafal ini rentan lupa. Semakin baru hafalan, semakin mudah lupa,
biasanya.
Nah…strateginya,
sebagaimana dalam beternak unta,
seharusnya kita lebih fokus pada mengurus ‘unta-unta liar’. Karena unta liar lebih mungkin untuk kabur
dibanding yang jinak. Begitupun dalam menjaga hafalan, rumusnya
adalah…
” Utamakan hafalan-hafalan
yang masih lemah“.
Aplikasinya…,“Hafalan yang lemah harus lebih banyak diulang daripada halafan yang kuat “. Soalnya, banyak
penghafal Qur’an yang sukanya murajaah hafalan2nya yang sudah
kuat saja, sedangkan hafalannya yang
lemah jarang diulang2.
🍀🍀🍀 Akhirnya…
yang hafalannya yang kuat tambah kuat, yang lemah tambah lemah.
Walaupun demikian, bukan berarti hafalan yang sudah kuat tidak diurus.
Harus diulang-ulang juga. seperti onta yang sudah jinak, dia juga tetap perlu diberi perhatian,
walaupun tidak seintensif unta yang bermasalah (liar). Idealnya, untuk
unta liar, harus diurus minimal setiap 3 hari sekali. Setiap 3 hari,
hafalan lemah harus diulang minimal sekali. Kalo misalnya hafalannya 3
surat dan masih lemah semua, maka murajaahnya sehari 1 surat. Untuk
unta setengah liar, harus diurus minimal setiap seminggu sekali,
Setiap seminggu, hafalan agak kuat harus diulang minimal sekali.
Misalnya, kalo hafalannya yang agak kuat ada 7 surat, maka murajaahnya
sehari 1 surat. Sedangkan untuk unta jinak,
boleh ditinggal agak lama. Tapi jangan kelamaan,
minimal dalam sebulan
keulang minimal sekali. Sebagai contoh,
misalnya ada orang punya hafalan Al Qur’an 40 surat. 30 surat diantaranya hafalan kuat, 7 hafalan agak kuat, dan 3 lemah.
Maka murajaahnya hariannya: 1 surat hafalan kuat, 1 surat hafalan agak
kuat, dan 1 surat hafalan lemah.
Dengan cara ini, hafalan kuat akan terulang sekali sebulan, hafalan agak kuat seminggu sekali, dan hafalan
lemah 3 hari sekali.
Nah… kemudian,
biarkan onta-onta itu tumbuh sehat,
supaya bisa beranak-pinak, bisa diambil susunya, bisa dipakai sebagai kendaraan, dan diambil dagingnya
buat makanan (kalo lapar… ).
Maksudnya, rawatlah hafalan kita, insya Allah hafalan kita akan bertambah banyak dan memberikan manfaatnya buat kita juga,
insyaAllah… 🌾🌾🌾

Source: Pustaka Ilmu Tahfidzul Qur'an

Proses Meluruskan Niat

Menjadi seorang hafidzh Al-Qur'an 30 juz bukan hanya berbicara tentang tujuan, tapi lebih kepada proses. Proses meluruskan niat, membersihkan hati, menjaga kesetiaan dan komitmen untuk selalu bersama Al-Qur'an dimanapun dan kapanpun. Sebuah proses menjaga diri dari apa yang tak perlu dilakukan, juga sebuah proses untuk senantiasa mentautkan hati dengan Al-Qur'an. Agar dengannya lisan, mata, telinga dan hati senantiasa dalam keadaan berdzikir mengingat TuhanNya. Menghafal Qur'an adalah salah satu cara untuk menikmati cinta dalam hidup setia bersama Al-Qur'an.

Sentuhan Pertama

Hasil yang diraih oleh seseorang dalam rangka mencari jati dirinya bisa jadi adalah hasil dari sentuhan-sentuhan. Ada yang menjadi penyanyi profesional, suaranya merdu sekali hingga mampu mengambil dan membawa perasaan para pendengarnya. Ada pula yang menjadi Qari’(pembaca Al-Qur’an) atau Imam yang ketka mendengar bacaannya hati serta merta luluh dan bergetar, seraya menangis, ingat akan Allah yang menurunkan Al-Qur’an yang begitu indah dibaca dan didengarkan.
Jika nanti Allah beri kita umur yang panjang, mungkin Allah beri kita kesempatan untuk berperan sebagai orang tua, ayah dan bunda, sebuah peran yang menuntut pemahaman akan tanggung jawab yang tidak main-main. Akan jadi apa buah hati kita nanti bisa sangat mungkin dipengaruhi oleh sentuhan pertama kita. Maka perhatikan, kiranya dengan apa kita menyentuh permata hati kita kelak.
Semoga dengan Al-Qur’an sebagai sentuhan pertamanya, kelak dia akan menjadi sosok yang mencintai dan menggenggam erat-erat Al-Qur’an. Semoga dengan iman sebagai sentuhan pertamanya, kelak dia akan jadikan Al-Qur’an, petunjuk dari Allah dan ajaran Nabi sebagai panutan dalam menjalani kehidupan.
Tak perlu menunggu hingga menjadi seorang hafidzh atau hafidzah untuk memulainya. Awali dengan kebiasaan membaca Al-Qur’an bersama selepas maghrib, dengan mengajarkan doa sehari-hari dan surat-surat pendek semoga jadi langkah awal untuk mempersiapkan mujahid dan mujahidah kecil kita dengan sentuhan-sentuhan berikutnya. Sentuhan-sentuhan yang akan membawanya menuju cinta kepada Tuhan dan Nabinya. Sentuhan-sentuhan yang akan mengantarkan kita ke surga, menjadi semulia-mulia ayah dan bunda yang mendidik buah hatinya dengan sebaik-baik cinta.
Teruntuk ayah dan bunda, semoga Allah hadiahkan kepada ayah dan bunda mahkota cahaya yang mulia.

Yogyakarta, 24 Oktober 2016

Tentang Menjaga

Menghafal Al-Qur’an akan mengajari kita bahwa menjaga selalu terasa lebih berat daripada mendapatkan, tapi darinyalah kamu akan memahami arti penting komitmen dan tanggung jawab.
Seandainya kamu tau tingginya usaha untuk menjaga daripada mendapatkan, niscaya kamu akan bersyukur dan tak akan semudah itu untuk melepaskan atau melupakan.
Seperti halnya seorang ayah yang telah merawat putri kesangannya sejak kecil, menjaganya dengan penuh kasih sayang tak kan mudah melepaskannya begitu saja. Terasa amat berat baginya ketika melepaskan putrinya untuk seorang laki-laki yang mau tidak mau harus dipercayainya.
Bisa jadi sebesar apa perjuangan kamu dalam menjaganya, sebesar itu pula cintamu kepadaNya.
Yogyakarta, 24 Oktober 2016

Kamis, 20 Oktober 2016

Prioritas Ilmu Atas Amal

Di antara pemberian prioritas yang dibenarkan oleh agama ialah prioritas ilmu atas amal. Ilmu itu harus didahulukan atas amal, karena ilmu merupakan petunjuk dan pemberi arah amal yang akan dilakukan. Dalam hadis Mu’adz disebutkan, “Ilmu itu pemimpin dan amal adalah pengikutnya.”
Imam Bukhari menyebutkan Ilmu itu mendahului perkataan dan perbuatan. Maksudnya adalah bahwa ilmu harus menjadi syarat bagi ke-shahih-an perkataan dan perbuatan seseorang. Kedua hal itu tidak dianggap shahih kecuali dengan ilmu; sehingga ilmu itu didahulukan atas keduannya. Ilmulah yang membenarkan niat dan membetulkan perbuatan yang akan dilakukan.
Dalil yang dapat digunakan untuk membenarkan mendahulukan ilmu atas amal dapat dilihat pada ayat yang pertama kali Allah swt turunkan, yakni “Bacalah”. Dan membaca itu kunci ilmu pengetahuan; dan setelah itu barulah diturunkan ayat yang berkaitan dengan kerja, sbb :
Hai orang yang berselimut. Bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah.” (al-Muddatstsir: 1-4).
Sesungguhnya ilmu pengetahuan mesti didahulukan atas amal perbuatan, karena ilmu pengetahuanlah yang mampu membedakan antara yang haq dan yang bathil. Fiqih prioritas yang sedang kita bicarakan ini dasar dan porosnya ialah ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan kita dapat mengetahui apa yang mesti didahulukan dan apa yang harus diakhirkan. Tanpa ilmu pengetahuan kita akan kehilangan arah, dan melakukan tindakan tidak karuan.
Benarlah apa yang pernah diucapkan oleh Khalifah Umar bin Abd al-Aziz. “Barangsiapa melakukan suatu pekerjaan tanpa ilmu pengetahuan tentang itu maka apa yang dia rusak lebih banyak daripada apa yang dia perbaiki.”
Adapun Imam Hasan al-Bashri memperingatkan orang yang tekun beribadah dan beramal, tetapi tidak membentenginya dengan ilmu pengetahuan dan pemahaman. Dia mengucapkan kata yang sangat dalam artinya, sbb :
Orang yang beramal tetapi tidak disertai dengan ilmu pengetahuan tentang itu bagaikan orang yang melangkahkan kaki tetapi tidak meniti jalan yang benar. Orang yang melakukan sesuatu tetapi tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu itu, maka dia akan membuat kerusakan yang lebih banyak daripada perbaikan yang dilakukan. Carilah ilmu selama ia tidak mengganggu ibadah yang kau lakukan. Dan beribadahlah selama ibadah itu tidak mengganggu pencarian ilmu pengetahuan. Karena ada sebagian kaum Muslimin yang melakukan ibadah, tetapi mereka meninggalkan ilmu pengetahuan, sehingga mereka keluar dengan pedang mereka untuk membunuh umat Muhammad saw. Kalau mereka mau mencari ilmu pengetahuan, niscaya mereka tidak akan melakukan seperti apa yang mereka lakukan itu.”

Fiqih Prioritas, karangan Dr. Yusuf Al Qardhawy

yogyakarta, 20 oktober 2016

Keep Hamasah Muslimah :)


Seanggun-anggun perempuan adalah perempuan yang tidak hanya pandai merawat kecantikannya, tetapi juga perempuan yang berusaha untuk selalu merawat hatinya, merawat imannya, juga merawat interaksinya terhadap Al-Qur'an. Jangan takut, Allah akan menolongmu. Adakah yang lebih indah dari seorang bidadari dunia yang sedang belajar menyurga?

Insyaallah:)

Menunggumu dengan Sabar


Di saat menunggu sudah menjadi hal yang membosankan, aku senang bermain-main dengannya. Banyak yang bisa kulakukan dengan menunggu, menikmati kesibukanku, menghabiskan waktu dengan teman-teman mentoring, termasuk menikmati saat-saat sendiri.
Di saat menunggu sudah menjadi hal yang membuat orang tidak sabar, aku akan tetap sabar. Aku tidak akan mengumbar perasaan kemana-mana, tidak akan menjualnya dengan murah kepada siapapun, apalagi menggonta-ganti seenaknya begitu cepat. Diri ini tidak boleh semurah itu. Agar kamupun tidak khawatir dengan keadaanku.
Di saat menunggu sudah menjadi hal yang paling mengecewakan, aku senang melakukannya. Karena hal yang aku tunggu, tentunya hal yang pasti, berharga, dan penuh kejutan didalamnya, apalagi jika terselip ridho-Nya. Karena dalam hidup ini, aku belajar. Antara yang harus ditunggu dan dilepas. Lagipula aku juga tidak ingin menunggu yang tidak pasti, yang membuat batin lelah menerka, yang tidak berani berkomitmen, hanya mengumbar kata-kata manis. Dan jika kecewa perasaannya tumpah di mana-mana yang solusi pun tidak dapat.
Ternyata hidup ini sepenuhnya tidak buruk jika kita mau bersabar menunggu. Jangan menghabiskan separuh hidupmu hanya untuk menunggu hal yang belum pasti adanya.
Mari kita jaga baik-baik rasa saling percaya ini, agar salah satu dari kita tidak perlu khawatir. Sebab barangkali, menunggu ini adalah cara Allah untuk melihat kesabaran kita sebelum kita bertemu nanti.
Aku akan tetap menunggu. Karena aku percaya, dalam hidup ini tidak akan pernah ada yang sia-sia jika kita melakukannya karena Allah. Termasuk menunggu, bukan? Karena aku yakin kamu juga percaya. 
Aku menunggumu.

Rabu, 19 Oktober 2016

Dicintai Karena Allah?

Kau berharap dicintai seseorang karena Allah, sudahkah kau terus belajar menuju apa-apa yang benar Allah cintai?
Bagaimana mungkin seseorang bisa jatuh hati padamu karena Allah, sementara hal-hal yang Allah cintai saja enggan kau dekap dalam kehidupan.
Barangkali, yang seperti inilah yang sering membuat kita terkulai dihajar harapan kita sendiri. Sebab kita terlalu asyik bergantung pada harapan, tapi lupa untuk benar-benar tulus mengupayakan.
Harapan itu akan semakin nikmat bila kita berserah setelah benar-benar mengupayakan. Harapan itu akan semakin legit setelah kita paham bahwa upaya kita menuju harapan bukan semata-mata karena ingin harapan itu menjadi nyata, tapi karena kita paham ketika kita berjalan menuju harapan baik berarti kita sedang mengakrabi kebaikan. 
Bukan semata apa tujuannya, tapi bagaimana kita berbahagia menyesap prosesnya.