Rabu, 12 April 2017

Yuk bersiap Menjadi Wanita Penyejuk Hati

Bagaimana agar seorang wanita bisa menjadi penyejuk mata?
Bagaimana agar bisa menjadi cahaya keluarga? 

Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa sebaik-baiknya pehiasan dunia, adalah wanita sholihah. Lalu apa yang akan Allah hadiahkan kepada wanita yang berhasil menjaga kesholihannya itu? Di surga Allah nanti, akan ada dua jenis bidadari. Pertama adalah, bidadari dari dunia yang tidak lain adalah wanita sholihah. Kedua adalah bidadari yang memang Allah ciptakan sebagai bidadari. Manakah yang lebih baik diantara keduanya? Allah menjawab bahwa yang lebih baik adalah bidadari yang berasal dari dunia. Karena apa ya Allah? Karena sholat-sholat mereka, puasa-puasa mereka, dan keimanan mereka.
Agar kita bisa menjadi penyejuk mata dan cahaya bagi keluarga adalah dengan berupaya dengan sungguh untuk menjadi wanita sholihah.
Wanita sholihah yang tidak terlena oleh dunia, yang tidak terpuruk oleh dunia. Karena ia sadar bahwa hidup ini hanya sebentar, hanya sementara. Kemudian, ia juga menjadikan setiap kesenangannya didunia sebagai jalan untuk meraih ridha Allah dan menjadikan kesedihannya sebagai modal untuknya, agar layak dijadikan bidadari oleh Allah.
Wanita sholihah adalah wanita yang ta’at menjalankan perintah Allah. Ia paham dan selalu mencari tahu apa-apa yang Allah perintahkan padanya. Lalu, ia senantiasa menjalankan setiap peirntah Allah itu dengan hati yang penuh cahaya iman.
Ia adalah adalah wanita yang ta’at dengan larangan Allah untuk dijauhi, untuk dihindari. Ia sadar bahwa apa-apa yang Allah larang dalam hidupnya adalah suatu tanda sayang dari Allah, tanda cinta-Nya. Ia pun senantiasa menjauhi setiap apa-apa yang tidak disukai Allah ini dengan hati yang ikhlas.
Ia adalah wanita yang ta’at dengan perannya sebagai wanita. Perannya sebagai anak jika orang tuanya masih ada. sebagai istri jika sudah menikah, dan sebagai ibu jika Allah meridhainya untuk memiliki anak. wanita sholihah akan menjalankan semua perannya dengan sungguh-sungguh dan mampu menyeimbangkan setiap perannya.
Ia adalah wanita yang sabar dan ridha dengan segala ketetapan Allah pada-Nya. Dua kata yang menjadi ciri wanita yang beriman adalah bersabar dan bersyukur. Tak ada takdir Allah yang salah, karena semuanya tanda cinta. Setiap kesabaran dan kesyukuran merupakan bentuk kesempurnaan dari keshalihan itu. Wanita sholihah akan selalu menjadikan hidupnya terkait dengan Allah. Maka ia akan tidak akan merasa lelah dengan dunia. Di dunia, mau jadi apapun juga yang penting Allah ridha.
Wanita sholihah yang berhasil menjaga keta’atannya pada Allah, di surga nanti akan dipimpin oleh wanita-wanita ahli surga. Adalah Aisiyah, karena keistiqomahannya menjaga iman. Khadijah, karena keshalihanya dan gelarnya sebagai istri rasulullah. Fatimah, karena ketegaran, keshalihannya, dan syukurnya. Dan Maryam, karena menjaga kesuciannya dan keridhaannya terhadap ketetapan Allah pada dirinya. Sungguh beruntungnya menjadi wanita shalihah yang bisa dipimpin oleh wanita-wanita hebat seperti keempat ibunda tersebut.
Mampukah kita menjadi wanita penyejuk mata, cahaya keluarga?
Jawabannya adalah mampu! 
Dengansenantiasa berjuang menjadi wanita sholihah, menjadi penyejuk dimanapun, dan menjadi cahaya bagi siapapun. Sungguh perjuangan menjadi wanita sholihah merupakan proses seumur hidup. Hingga nantinya, Allahlah yang akan menetapkan apakah kita layak menjadi bidadari disurga-Nya atau tidak. 
Teruntuk kamu para wanita, semoga kita bisa bertetangga di Surga-Nya Allah yaa!

Sudahkah Allah menjadi tempat kita bersandar?



Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa yang lebih baik amalnya.
Kalau kita mengangankan hidup yang tanpa ujian, tentu tidak mungkin. karena sebenarnya ujian adalah bentuk sayang dari Allah, agar kita belajar dan menjadi lebih dekat kepadanya.
Ujianpun datang bertingkat-tingkat. Jika kita sudah melewati satu ujian, maka akan ada lagi ujian-ujian lainnya yang lebih tinggi. Ujian-ujian yang terus membuat kita seharusnya menjadi lebih baik.
Namun, apa jadinya jika kita mendapatkan ujian yang sama dalam waktu terpaut jauh?
Misalnya, dulu kita sudah pernah diuji dengan suatu hal. Lalu seiring berjalannya waktu, ujian yang sama tersbut menghampiri lagi?
Saatnya mengevaluasi diri. Kenapa Allah memberikan ujian itu lagi?
Apakah belum cukup pelajaran dari ujian kemarin ? Apakah belum sampai hikmah itu di hati ini?
Yang lebih menyedihkan lagi adalah ujian yang sama ini seperti peringatan bahwa sebenarnya diri ini tidak naik tingkat. Makanya harus remedial, diulang lagi biar dapat sayang dan cinta Allah yang lebih banyak lagi.
Jika ujian itu adalah karena hal-hal sederhana. Artinya diri kita ini pun masih dalam level yang sederhana imannya. Bisa jadi mengapa ujian yang sama ada lagi, karena amal-amal yang kita kerjakan belum lebih baik dari sebelumnya, iman kita tidak bertambah. Kita merasa sudah berjalan jauh, tapi sebenarnya kita belum kemana-mana. Tarik nafas dalam… Allah, tolong maafkan diri yang lalai dari hikmah-hikmah yang Engkau titipkan lewat setiap ujian itu.
Ujian memang terkadang menyedihkan. Namun lewat besar atau kecilnya ujian yang ada didalam hidup kita, sebenarnya adalah pertanda bahwa Allah lagi kangen sama kita. Allah sudah nunggu cerita-cerita kita. Allah ingin membersihkan jiwa kita. Allah ingin dipanggil lebih banyak lagi, lebih dekat lagi.
Besar atau kecilnya ujian hidup kita, bersandarlah pada yang Maha Kuat. Allah ingin melihat, amal terbaik apa yang kita lakukan dalam menjalani setiap ujian-Nya. 
Sebab, kuat atau lemah seseorang, tergantung pada siapa ia bersandar.
Sudahkah Allah menjadi tempat kita bersandar? 
Semoga kali ini bisa lulus ujian, dan menjadikan Allah saja satu-satunya tempat untuk bersandar. 

Selasa, 11 April 2017

Sebuah Rahasia

Suatu ketika, seorang sahabat bertanya pada Rasulullah 

“Wahai Rasulullah, bagaimana ikhlas itu?”
Lalu, rasulullah terdiam, tidak memberikan jawaban.
Beliau bertanya pada Jibril,
“Wahai Jibril, bagaimanakah ikhlas itu?”
Sayangnya, Jibrilpun tak tahu.
Kemudian malaikat Jibril bertanya pada Allah.
“Wahai Allah, bagaimana ikhlas itu?”
Dan Allah menjawab,
“Ikhlas itu rahasia didalam rahasia. Hanya aku yang mengetahuinya”
- Allah, bagaimana cara mengikhlaskan masa depan?
Mengikhlaskan waktu yang telah berlalu?