Rabu, 31 Agustus 2016

Jaga Pandangan - Jaga Hati


Rasulullah SAW mengatakan bahwa jihat yang paling besar bukan perang melawan kaum musyrikin tapi jihad yang paling besar adalah melawan hawa nafsu.
Ketika pulang dari satu peperangan yang dahsyat melawan kaum musyrikin, Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Kita baru kembali dari satu peperangan yang kecil untuk memasuki peperangan yang lebih besar.” Sahabat terkejut dan bertanya, “Peperangan apakah itu wahai Rasulullah?” Baginda berkata, “Peperangan melawan hawa nafsu.” (Riwayat Al Baihaqi)

Senin, 29 Agustus 2016

Untuk yang Masih Tertatih Mengikhlaskan

Untuk yang masih tertatih mengikhlaskan.
kau memang berbeda dengan mereka yang terjaga sejak purnama, kesalahan pernah menjadi sahabatmu, sehari hari.
saat singgasana dari mereka yang yang mencinta dari mereka adalah pernikahan, kau malah terbalut dengan ikatan tak halal.

namun ketahuilah, selama udara masih tercicip, Allah yang Maha Menerima Taubat itu menantimu di ujung sajadah.
maka ketika telah sampai kado indah itu dariNya, kau pun seketika berpaling.
tumpah basah sudah diatas sajadah kala sisa malam kemarin.
maka kau, memasuki babak baru skenario kehidupan.

apa jadinya hati yang terlanjur mengendap terlalu dalam? berkali-kali jatuh, patah, dan jauh lagi.
Maka sungguh, ujianmu tak semulus mereka yang terjaga sejak purnama.
kau acuhkan dia begitu lantang, namun sibuk mengatur sesak sehabisa gelimang air mata.
kau berteriak mencoba melupakan, namun jalan benar-benar tak semulus aspal tol.

di titik itu, biarkanlah iman menang diatas perasaan. meluluhlantahkan semua egois duniawi, mencoba terganti dengan bait-bait rengekan hanya pada Allah. Memaksa senyum terus hinggap di pucuk bibir, saat batang dan akar hati nyaris tumbang, terbelah banyak karena badai tsunami datang terlalu tergesa., sampai menyisakan satu nama, "sakit".

wanita baik-baik untuk lelaki baik-baik, bukankah An-Nur cukup sebagai penjamin?
jika dia adalah di tetapkan untuk menetap padamu, maka ikatan halal bingkai ridho Allah akan menyapa dari balik pintu, sesuai waktu terindah darinya.

sebelumnya hiasi sepertiga malamu dengan sujud-sujud cinta, berduaan hanya bersamaNya.
lalu setiap episode ini dengan keyakinan ketetapan padaNya, dan semua akan baik-baik saja.

untukmu yang perlahan masih terus mencoba menjadi baik...
Semoga Allah, menyatukan kembali dua insan yang berpisah karenaNya, mengaitkan kembali dua hamba yang pasrah di balik air mata, memalui sebuah bahtera yang di ridhoiNya.

by: Tausiyahku_

Bunda, Izinkan Aku Meraih Surgaku

 Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,


جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ بِحُسْنِ صَحَابَتِى قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ 
ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « ثُمَّ أَبُوكَ »

“Seorang pria pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Siapa dari kerabatku yang paling berhak aku berbuat baik?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu.’ Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallammengatakan, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ayahmu’.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Lihatlah … betapa kedudukan orang tua sangat agung dalam Islam, sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menempatkannya sebagai salah satu amalan yang paling utama. Lalu, sudahkah kita berbakti kepada kedua orang tua?
Namanya Jihan, seorang anak kecil berusia 5 Tahun berdarah Minang bersama dengan nenek dan ibunya. aku bertemu dengannya di kereta tepat selepas kepergianku beranjak meninggalakan tanah kelahiranku; Jakarta.
28 Dhul'Qada 2016, pukul 06.30 kereta tujuan Jakarta-Yogyakarta melaju. selepas masuk kereta aku langsung mengambil tempat dan langsung membuka buku bacaanku. berhubung waktu perjalanan yang dihabiskan cukup panjang, aku selalu menghabiskannya dengan membaca koleksi buku-bukuku. rasa bosan dan kantuk jadi enggan datang.
sepanjang perjalanan hanya suara peraduan bantalan kereta saja yang berbunyi. aku suka sekali naik kereta, karena selalu berhasil membawaku mengingat kembali kebahagiaan masa kecilku.


***
(suara tangis)....
tiba-tiba aku tersentak dan menghentingkan bacaanku, disana kutemukan ada rinai yang menetes haru jatuh dari pelupuk mata seorang perempuan yang duduk tepat dihadapanku. diam-diam aku masih terus menatapnya, aku masih belum berani bertanya, kenapa ia menangis. aku takut ia akan merasa terganggu karena rasa keingintahuanku.
aku masih terus menatapnya dibalik buku bacaanku. dipangkuannya kutemukan ada seorang anak lagi-laki yang usianya berkisar 5 tahunan sedang tertidur pulas. Sejak awal perjalanan, perempuan itu tak pernah berhenti mencium dan memeluk anaknya. ia terus saja menangis pelan sambil mengusap lembut wajah anaknya.
perempuan itu langsung menghapus air matanya, karena tahu aku yang sejak tadi memperhatikannya.

bagaimana mungkin aku tidak terkejut?
bahkan seorang perempuan (Ibu) yang terlihat lemah diluar memiliki aliran kekuatan yang begitu panjang; Rinainya.
Wanita itu masih terusmenangis memeluk anaknya sambil sesekali menatap kosong kearah jendela kereta. 
tanpa sadar pelupuk mataku menggenang rinai. sungguh, aku benar-benar tidak tega melihat ada seorang yang menangis dihadapku. 
(Rabb.. apapun yang hendak terjadi pada hati dan keadaan ibu ini, sungguh tiada daya Kekuatan dan Kesabaran melainkan itu ada padaMu) *suarahatiku 

"Bunda, Jihan laper." ujar anak kecil di pangkuan perempuan itu yang tiba-tiba terbangun dalam lelapnya. 
"iya nak, ini dimakan dulu rotinya." ujar bundanya sambil memberikan roti pada Jihan.
Jihan masih asik makan roti pemberian bundanya.



***
"Kak, kaka lagi baca buku apa? jihan boleh lihat ga?" ujar jihan, yang mendekat ke arahku sambil memegang buku bacaanku. kebetulan saat itu aku sedang membaca bukunya Ust. Salim A. Fillah "Lapis-Lapis Keberkahan".

"kak, nama kaka siapa?"

"nama kaka Firra dek. kalo nama adek siapa?" sebenarnya aku sudah tau namanya, sejak pertama kali saat dia bangun tidur.

"nama aku Jihan kak. kak, nama lengkap  kaka siapa ka?" ujarnya kembali

"nama lengkap kaka Firra Aprindanti dek"

"kak, kaka mau kemana?"

"kaka mau ke jogja dek, emangnya adek mau kemana?" ujarku

"Jihan juga mau ke jogja dong kak, kaka mau ngapain pergi ke Jogja?"

"kaka pergi ke jogja mau kuliah dek. kalo adek mau ngapain pergi ke jogja?

"Jihan mau main kejogja sama bunda, dan nenek. Jihan mau lihat monas di jogja kak. habis itu jihan mau pulang lagi ke padang sama bunda."

(hehehehe)...  kami semua langsung tertawa mendengar celoteh polos yang jihan ucapkan.

"Monas itu adanya di Jakarta dek, kalo yang jihan mau lihat di Jogja itu namanya tugu. hanya bentuknya saja yang mirip sama monas." ujarku yang langsung memberikan penjelasan pada jihan

Bundanya jihan hanya terus tersenyum melihat percakapan kami.

"kak, sebentar lagi jihan mau sekolah. soalnya jihan mau jadi pilot."

"wah, bagus dong, berarti nanti kalo sudah masuk sekolah jihan harus semangat ya, terus banyak baca buku juga supaya bisa jadi pilot."

"iya kak, Jihan mau bawa pesawat. terus terbang ajak bunda sama nenek. kalo kaka mau ikut juga boleh kak."

***
waktu sudah menunjukan pukul 11.00, aku terus melanjutkan membaca buku. perjalanan masih terasa lama sekali.

*bersambung









Minggu, 28 Agustus 2016

Mesin Waktu: Kembali Ke Hari Ini – 10 Bulan Yang Lalu.

“The only thing that makes it a part of your life is that you keep thinking about it”
Setelah sekian lama sembunyi, hari ini aku kembali dipaksa untuk melihatmu lagi – ajaibnya, sudah tidak ada getaran, tidak ada senyuman lagi. Setelah cukup lelah aku berjalan jauh dalam kisah aku-kamu, kini yang ada hanya satu perasaan sakit yang teramat sangat di dalam dada ini jika kamu tampak di depan mata.

Hari ini, aku hanya ingin mengabadikan kenangan yang ada di dalam ingatanku, seorang perempuan yang mungkin beberapa tahun lagi akan ada di sampingmu atau mungkin kembali jadi orang asing bagimu. Aku takut suatu hari aku didera lupa ingatan, untuk itu aku menulisnya sebagai penanda bahwa pada suatu titik dalam perjalanan hidupku, pernah ada sesosok orang asing yang mengisi malam-malamku. Tidak hanya satu, melainkan jumlahnya mendekati seribu. Tepatnya tiga ratus malam. Ya, itu Kamu.

Pada suatu hari di tanggal 9 November 2015, untuk pertama kalinya aku-kamu mendengar musik jogja bersama di penghujung malam jogja. Kamu ingat malam itu? Aku memintamu bercerita tentang hal yang kamu suka dan segala pengalaman2mu.  Aku yang di beberapa kesempatan sebelumnya malas untuk berinteraksi denganmu, malam itu terpaku. Kamu yang selama ini kukira angkuh, secara tiba-tiba menyihir perasaanku. Bukan karena kamu tampan, bukan juga karena pakaian yang kamu kenakan.

Malam itu, tanggal 9 November 2015, binar yang terpancar dari kedua matamu menghanyutkan konsentrasiku untuk sesaat. Ketika kutelaah lebih jauh, di matamu ada semangat, ada keceriaan, ada harapan, dan ada sesuatu yang mungkin disebut kharisma. Keacuhanku terhadapmu seketika sirna. Aku ingin mengenalmu. Aku ingin bertemu denganmu lagi. Aku ingin mendengar semua celotehmu – karena aku suka caramu membuatku merasa didengarkan dan tersenyum-tertawa-bahagia melihat semangatmu yang menggebu. Malam itu aku mulai memikirkan kamu..

Semenjak malam itu, aku-kamu mulai bicara. Malam-malamku jadi semakin panjang, tidurku makin larut. Hey, tapi tak apa! Aku senang bahwa waktu itu kamu semakin banyak bercerita, mengutarakan cita-citamu, merisaukan ketakutanmu, menanyakan pendapatku akan hal yang membuatmu ragu – semua ini dilakukan atas satu tujuan mulia: mimpimu untuk memajukan perkumpulan yang sama-sama kita cintai. Pada rentang waktu itu, kamu sering membuatku kesal karena menunggumu yang tak kunjung hadir, menanti jawaban atas pesanku yang kerap kau lalaikan, atau sifat indecisive-mu yang kadang menyulitkanmu untuk memutuskan sesuatu. Tapi dari kesempatan itu pula aku belajar untuk menyelami resahmu, kecewamu, kelelahanmu, takutmu, kemarahanmu.. Kesempatan itu pulalah yang makin membuatku rindu ingin kembali bertemu dan merasakan aura keceriaan dan semangatmu. Satu malam tanpa kabar darimu, hatiku gelisah..

Pada akhirnya, suatu takdir sempat memisahkan kita dalam rentang yang (mungkin) tak berjarak. Kamu ingat waktu itu? Kamu mengirimkanku pesan saat aku hendak berangkat ke jakarta, aku sempat terdiam dan cukup tidak yakin karna tiba-tiba namamu hadir di layar ponselku. Aku ingat sekali, padahal sejak tanggal 4 juni 2016 tepat pertemuan terakhir kita sebelum ramadhan tiba, kita tak pernah lagi saling bertatap atau mungkin tak pernah lagi saling berkabar. Sedihnya, selama belasan hari itu kita sulit berkomunikasi.

Tugu jogja dan bianglala selepas menatap bintang dibawah kaki langit Jogja. Kamu tidak tahu bagaimana bahagianya aku menghabiskan hari dengan kamu waktu itu. Kamu ingat? Kita yang menghabiskan waktu di SKE, sesampainya disana kita langsung naik bianglala, kemudian aku yang tidak ingin menaiki permainan kursi terbang itu, lalu kau yang terus saja menantangku. Ah betapa konyolnya kita saat itu. Jujur aku rindu. Kau ingat saat kita naik sepada putar gantung? Aku pernah merasa begitu bahagia disampingmu. Kamu yang bercerita tentang segala kesibukan di organisasi & keinginan mu untuk mengikuti tes Asisten Lab di Jurusanmu dan Tes Djarummu. Perihal semua yang kau ceritakan aku akan selalu berharap yang terbaik pada Allah untuk setiap langkah yang kau tuju, kesuksesanmu adalah kebahagiaanku, entah di akhir langkahmu masih ada aku atau tidak disampingmu, aku tetap bahagia karena sebelum itu pernah ada aku yang berdiri disampingmu. Selepas permainan berakhirkita menyusuri jalanan itu – dan kembali memutuskan untuk naik bianglala sebelum beranjak pulang.

Aku ingat saat di penghujung sore di bawah kaki langit jogja, kita olahraga bersama di GSP UGM. Kamu begitu bersemangat, aku yang istirahat lebih dulu dan tiba-tiba ada kamu duduk disampingku mukamu terlihat kelelahan selepas lari,dan kita kembali dalam percakapan-percakapan yang teduh.

Pada hari itu, hari saat kamu memberitahu bawa kau telah lolos menjadi Asisten Lab di jurusanmu yang selama ini selalu kau impikan. Aku sangat bahagia dengan keberhasilanmu, aku bahagia karna ada aku disamping tepat sebelum dan sesudah kau berhasil lolos.  Kamu ingat bingkai yang pernah aku berikan? Kelak, apapun yang terjadi pada hubungan kita semoga kau bisa tetap menyimpannya untuk untukmu, meski aku tak lagi ada disampingmu. Setidaknya itu bisa membuatku bahagia karna kau masih mengingatku, entah sebagai masa lalu yang dirindukan atau tidak.

Kamu masih ingat ga? Waktu aku sakit, dan kamu tiba-tiba didepan rumah terus bawa coklat?
Kamu pernah nggak ya memikirkan, kenapa aku melihatmu waktu itu dimasjid dekat rumah? Kenapa malam itu kita sama-sama sholat di masjid yang sama? Bahwa ternyata rumah kita hanya cukup dijangkau dengan beberapa langkah saja?  Ternyata kita berada dilingkungan yang sama. Kenapa malam saat di kompas aku-kamu diberi kesempatan untuk banyak berinteraksi ?

Kamu ingat kita pernah berencana untuk berpetualang ke gunung andong atau nglanggeran yang sampai saat ini hanya menjadi sebuah ilusi semata?
Kamu ingat saat malam ketika aku masih sibuk dengan laporan akhir praktikumku, kamu memilih untuk menemaniku memastikan bahwa aku akan tetap baik-baik saja? – dan apakah kamu ingat waktu kamu menghubungiku untuk menemanimu makan malam dan menemanimu cetak poster, tapi karena keadaan service disana pada malam itu kurang baik, akhirnya kita harus menunggu hingga larut, dan kamu yang melihat aku yang sudah mulai mengantuk memutuskan untuk mengantarku langsung pulang.
“Kamu ga jadi aku temenin makan?”
“udah larut, kamu juga udah ngantuk, kelihatan dari matamu, kita langsung pulang aja ya.”
“tapi...”
“gapapa, ini bukan tentang nemenin aku makan, yang penting aku udah bisa ketemu kamu hari ini.” Ujarmu, dan malam itu, lagi. Kamu membuat aku bahagia.
Aku yakin kamu masih ingat. setelah kita berpisah hari itu, setelah malam terakhir pertemuan kita didepan pintu dan hingga kembali ke kota masing-masing.
Dulu, aku senang bahwa disetiap waktu sibukmu kamu selalu berikan sedikit waktu untuk bertemu denganku. Kamu tidak tahu betapa bahagianya aku melihat kamu yang berbahagia dari jauh dengan senyum dan binar mata yang sama – penuh keceriaan dan semangat.
Perjalanan itu, 10 bulan lalu, inilah rentang waktu paling berkesan dari catatan perjalanan kisah aku-kamu.  Aku yakin kamu masih ingat apa saja yang kita lakukan, bicarakan dan kunjungi pada perjalanan waktu kita beberapa bulan itu.

Pada rentang waktu itulah terjadi satu kejadian yang menyentuh hatiku. Jika kamu lupa, setelah aku ingat-ingat ternyata kejadian itu terjadi tepat saat makan malam kita di WS. Malam itu, setelah berhari-hari kita tak berkabar dan bertemu. Aku ingat, waktu itu aku diam saja sembari dalam hati, I secretly wish to God to pair us up. Dan dalam diamku, aku lihat kamu di hadapanku itu juga diam. Akhirnya, kita berdua yang tersisa karena sama-sama diam. Aku pikir kau sudah tak lagi seperti dulu, ada serpihan hati yang tak lagi sanggup aku rangkai menjadi bingkai utuh milik kita, bahkan tepat pada malam itu. AKU MERASA ASING DI HADAPMU.
Semakin jarangnya intensitas berkomunikasi, membuat aku sering rindu kamu. Sedih rasanya jika ingat kamu disana mungkin kelelahan, atau mungkin didera masalah, sedangkan aku di sini tidak bisa berbuat apapun. Begitu rindunya, sering juga aku berdoa agar bisa dipertemukan dengan kamu. Allah memang punya banyak cara, salah satunya dengan mempertemukan aku-kamu dalam mimpi. Salah satu yang paling manis adalah mimpi pada tanggal 29 November 2015. Hingga saat ini, ada banyak hal yang masih selalu mengingatkan aku akan kenangan tentangmu :)

Hari ini, aku sadar bahwa perjalanan kisah aku-kamu yang telah berlangsung lama ini butuh direnungkan lagi. Selama kurun waktu 300 hari atau 10 bulan, kamu selalu sempat aku fikirkan. Meskipun aku sekarang hanya bisa melihat kamu dari kejauhan dan tidak punya lagi kesempatan bertegur sapa, aku kadang masih kecolongan untuk mencari tahu kegiatan apa yang kamu jalani, apa kamu sehat, apa keluarga kamu sehat dan semacamnya. Aku mendengar dari teman-temanmu bahwa kamu lolos tahap awal Beasiswa Djarum, sungguh detik itu juga saat aku mendengar kabar bahagiamu itu rinai hadir di pelupuk mataku, sedih bercampur bahagia. Aku bahagia, karena kamu telah berhasil berada di satu langkah harapan yang selama ini kamu ceritakan padaku, ternyata doa-doa yang selama ini aku titpkan dalam percakapan panjangku dengan Allah di dingar olehNya. Hanya saja, perihal kesedihan, perihal aku-kamu yang taklagi bisa berjalan beriringan. Tak ada aku disaat kamu sudah mencapai harapanmu, karna mungkin sudah ada sosok lain yang memenuhi relungmu.


Kadang aku teringat percakapan kita beberapa saat setelah kamu mendapatkan amanah itu bahwa kau saringkali harus pulang larut dan sibuk di kampus. Tapi sekarang, aku melihat kenyataan bahwa aku-kamu berubah seiring waktu dan kamu sudah menjadi bagian dari orang-orang lain .. Hal ini bukan berarti kamu menjadi buruk, tapi yang jelas hal ini menciptakan jarak aku-kamu, Seiring waktu, aku merasa perbedaan antara aku-kamu semakin nyata dan sepertinya itu juga yang menyebabkan aku-kamu belum punya kesempatan lagi untuk bisa bercanda seperti dulu. Fikiran-fikiran negatif akan ketidakcocokan aku-kamu juga membuat aku rasanya malas untuk banyak berharap kamu untuk masih mengingat aku.
Entahlah, aku tidak tahu apa aku masih jatuh cinta kepadamu seperti 10 bulan lalu atau cerita aku-kamu sudah waktunya disudahi. Yang jelas, entah itu aku masih cinta atau tidak, tapi kamu masih selalu aku fikirkan, khawatirkan, rindukan dan aku kenang tiap hari. Namamu, ibu, ayah dan adikmu juga diam-diam masih ku sebut di setiap doaku. Karena kenyataannya, kamu telah mengubah hidupku dan mengajarkan aku banyak hal tentang kehidupan ini dan kepribadian kamu yang menyenangkan dan inspiratif tentu tidak mungkin ada tanpa kehadiran sosok keluargamu. You’re amazing because you have an amazing Dad and Mom, amazing brother and exceptional path of life – that’s why I have to thank and love all of them as well.
Allah, terima kasih Engkau telah mengirimkan banyak orang-orang baik dalam hidupku..
Kadang aku mengagumi bagaimana hidup bisa membuat segala hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Seperti layaknya merancang pertemuan seorang aku dengan sesosok orang asing yang pertama kali ia lihat di masjid – jangan kira pertemuan di masjid itu adalah pertama kalinya aku melihat kamu, ternyata kamulah yang aku lihat di kegiatan yang pernah kita lewati sebelumnya, hanya saja aku masih belum terlalu sadar. Yes, I realized it was you at the day we meet and I asked about your family - dan menjadikan orang asing itu seseorang yang akan ia kenang seumur hidup sebagai cinta dan sahabat.

Hebatnya lagi, jalan kehidupan bisa merubah sepasang orang asing yang dipertemukan, kemudian menjalin cinta, kandas, lalu kembali menjadi orang asing bagi satu sama lain. Well, aku sejujurnya nggak mau seperti itu. Dosa jika aku sengaja memutus silaturahim antara aku-kamu. Tapi kadang, jika hubungan aku-kamu yang sudah terlampau lama diperam namun belum bisa menjadi hubungan ‘kita’ dan pada akhirnya bersifat destruktif pada satu pihak, aku rasa aku punya alasan pemaaf untuk setidaknya mundur dan belajar untuk ‘fall out of love of you’. Karena pesona kamu terlalu luar biasa, sampai-sampai aku yang malas mengerjakan laporan Kerja Praktek ini kuat untuk menulis kenangan tentang kamu sampai 2000an kata yang sebenarnya equal dengan 4 halaman laporan Kerja Praktek. Aku yakin kalau aku-kamu masih sehangat dulu, pasti bisa jadi penyemangat ngerjain laporanku, dan yakin 1 bulan laporanku beres :)

Hari ini, 4 Agustus , aku menyadari beberapa peristiwa penting yang pernah terjadi dalam kisah aku-kamu ternyata diwarnai dengan berbagai kebetulan yang manis. Entah itu hanya ‘coincidence’ atau mungkin ‘serendipity’. Namun aku berujung pada keyakinan bahwa serangkaian perjalanan kisah aku-kamu dari PERSPEKTIFKU, adalah sebuah ‘destiny’. Kata orang, daun jatuh dari dahan pohon saja sudah ada catatan takdirnya dari Allah, maka tidak mungkin kejadian sehebat ini hanya kebetulan kan? Entah itu memang akan ada kelanjutannya di masa depan (yang saat ini sebenarnya sudah sangat aku ragukan) atau mungkin memang cukup dikenang untuk dihayati hikmahnya.. Baiklah, aku coba ikhlaskan kisah aku-kamu untuk tidak lagi ditunggu. Semoga aku-kamu bisa mencapai impian dan cita-cita and see you in the halfway of fate – if we destined to be in love all over again :’)


Aku.
Yogyakarta, 29 Agustus 2016

Kamis, 25 Agustus 2016

Ketika itu

Ketika itu,kita bertemu,
bertemu diwaktu yang tidak ada dalam jadwal yang sudah kita siapkan.
Kita bertemu tanpa tau apa alasannya.
Kita bertemu tanpa tau apa tujuannya.
Kamu pada saat itu menatapku,
Dan mataku mulai tertuju padamu.

Ketika itu kita mulai saling mengenal,ketika itu kita tak sadar saling pandang,
ketika itu kita lepas kendali dan kamu ingin mengenalku lebih dari sekedar,tanpa tau apa akibatnya dari lirikan kedua malaikat,dan tawa khas setan.

Ketika itu kita seperti entah apa namanya,sering berjalan beriringan,sering temu,dan kita saling tersipu,lalu kita saling tertawa malu tanpa berfikir Sang Penguasa menatap bengis akan tingkah laku kita karna tanpa ikatan halal ketika itu.

Ketika itu,didepan mataku
Aku liat kamu tak lagi menungguku,
Tak lagi menggenggam tanganku,
Kamu tak lagi melirikku,
Kamu tak lagi mempedulikan ku.

Diwaktu yang telah lalu itu,sebelum kisah kamu tak lagi untukku,
Sebelum kamu meninggalkanku,
Sebelum kamu pergi dan memutuskan tak lagi melanjutkan kisah kita itu,ada yang menyadarkanku,
Sebuah tuntunan yang entah datang dari mana,aku tersadar akan masalalu yang begitu tak pantas dilakukan.

Ketika itu,aku memilih membiarkanmu memilih wanita lain karna alasan cintamu,
cinta?
Iya cinta yang dikata yang lebih bagi wanita itu dari pada untuk ku.Aku relakan dengan beribu ikhlas menguatkan,dengan tangis mengokohkan.

Ketika itu,kamu bukan lagi yang aku mau,aku memilih cinta yang lebih dari sekedar cinta dusta yang dulu kamu beri lalu kamu lupa akan semua tentang kita yang katanya ingin selalu bersama.

Ketika itu,ketika usai cinta dusta kita,aku bersujud dibawah perlindungan-Nya,
karna tersadar begitu sering aku menduakan-Nya dengan cinta yang salah,dengan dosa yang menumpuk tergoda syahwat yang menusuk.

Malaikat menatap dengan senang,
Setan berlalu menyiapkan ancang-ancang bersama untuk menambah kadar bius panah untuk menancapkan tepat pada syahwat di jiwa.

Ketika itu lagi-lagi mungkin akan terjadi,ketika panah itu menancap tepat di jiwa,kepada Sang Pelindung yang Agung akan aku serahkan jiwa,untuk dilindungi-Nya melawan syahwat yang menggoda.

Ketika itu cintaku tak lagi sama,seperti cinta dusta pada kamu yang lalu.


By: Hijrah Cinta

Rabu, 24 Agustus 2016

Tolong, jika suatu saat kau bertemu denganku, jangan pernah tanyakan bagaimana kabarku, karena jawabanku akan selalu sama “Aku baik-baik saja”. 
Tolong, berpura-puralah melihatku sedang bahagia, berpura-puralah bahwa meninggalkanmu adalah hal yang paling baik untukku dan dirimu. Walaupun kau begitu mengenal diriku saat aku terluka. 
Tolong, tetaplah berpura-pura bahwa tidak mencintaimu lagi adalah perkara yang mudah bagiku. Dan tolong berbahagialah, sebab kau tahu betul bahwa kebahagianmu adalah segalanya bagiku.

Senin, 22 Agustus 2016

Prolog dari Senja

Teruntuk jiwa yang gaduh, riuh bergemuruh. Teruntuk raga yang dahaga di telaga kekeringan. Teruntuk sekeping hati yang pergi, kemari dengarlah.. Mari kemari, meski engkau telah menjauh… jauh sejauh jauhnya. Kembalilah..

Merebahlah.. Istirahatkanlah hatimu, sejenak saja. Atau hingga engkau bosan. Hentikan usahamu menyalahkan diri sendiri. Sejenak hentikan usahamu melawan ketetapan-Nya. Sebentar saja, dunia ini hanya sebentar. Tak usahlah engkau menangis untuknya. Karena, dia – dan semua – akan engkau campakkan seusai upacara penguburan jasadmu.
Saat nuranimu pun terdiam, saat hatimu berhenti berbisik-bisik. Saat jiwamu tertindih kesedihan, terluka dengan duka-duka. Saat belantara dadamu itu terasa sesak dan rusuk-rusuk menghimpit. Saat-saat itulah kesanggupanmu untuk menjadi dewasa dididik, karena kita memang harus segera dewasa dan bersahabat dengan kehidupan ini. Kehidupan untuk satu kehidupan yang maha hidup.
Ada saatnya keramahan, ketegaran dan kebaikan yang nampak hanyalah ilusi. Dalam kejujuran hati lah tersimpan kemarahan dan kesedihan.
Salam bahagiaku untukmu. Untuk kalian yang hatinya rendah dan hina di hadapan-Nya.
Saat terbaring atau berdiri, saat semua bersamamu atau saat tak sesiapapun peduli. Saat jiwa itu mulai terdiam, dan istananya tiba-tiba saja sepi, atau gaduh dengan kekhawatiran. Namun engkau masih tegar dan berdiri, menyendiri di sudut-sudut malam pelarian.
Jika saja, pagi ini cahaya matahari tidak menemuimu di tempat yang biasa, maka pastikanlah bahwa ia tidak enggan menyapa. Ia senantiasa setia teguh dan patuh menerangi bumi, laksana nur-illahi yang hangat di setiap jiwa yang mengimani.
Ketahuilah matahari tak pernah enggan menyinari pagimu. Mungkin hari ini takdir lain sedang mencegahnya; awan.
Awanpun takdir-Nya. Maka bersahabatlah dengan mereka, karena semua adalah rencana-Nya. Mungkin awan baru saja melintasi petani di surau kecilnya memberi harapan hujan untuk ladangnya yang kering.
Jangan berprasangka pada-Nya, hanya karena engkau merasa jauh. Ketahuilah, sesungguhnya Rabb-mu tidak pernah menjauh darimu, sedetik pun. Tidak, ia tetap denganmu dengan ke-Maha Sabaran-Nya.
Jangan pula engkau merasa paling tawadhu, padahal disana engkau sedang takabbur. Merasa diri paling dekat.
Bukankah Rabb-mu juga memberi kelonggaran kepada orang orang kuffar dengan hadiah-hadiah kehidupan di hari ini dan sebelumnya?
Tak usahlah peduli dengan mereka yang merendahkanmu. Sesungguhnya Rabb-mu ingin memuliakanmu dengan ke-Maha Muliaan-Nya. Maka segeralah, merendah kepada-Nya. Bertafakurlah di antara malam-Nya. Semampumu saja.
Tak usahlah bertafakur di tengah malam, jika matamu memang kalah mengantuk. Tak usahlah duduk duduk di pojokan masjid, menangis dan mengadu, jika memang dirimu tak mampu. Duduklah di tepian terjalnya tebing kehidupan yang hampir saja menjerumuskanmu. Ataukah saat ini engkau telah terjatuh di lembahnya?
Tak apa, jangan marah. Duduklah di sana dan pikirkanlah. Tanyakanlah kepada nuranimu. Benarkah dirimu telah bersih dari kotoran dosa-dosa? Hingga begitu angkuhnya dan merasa pantas untuk marah dengan musibah ini? Benarkah diri itu telah siap untuk kembali terbangun di alam mahsyar tanpa hisab karena begitu bersihnya?
Ingat kembali tentang berbagai keharaman-keharaman yang pernah atau masih kita lakukan, tentang kewajiban-kewajiban yang pernah kita lalaikan. Bukankah setiap dosa itu pasti dibalasi?
Sungguh.. Tuhanmu ingin mengurangi bebanmu di akhirat nanti saudaraku.
Lihatlah betapa kasih sayang-Nya yang telah meringankan api neraka dengan cicilan musibah ini. Yakinkanlah musibah ini hanya cicilan dosa saja, hanya cicilan Azab. Sakitnya tidak akan melebihi kematian.
Yah, ini hanyalah cicilan wahai saudaraku. Semua keluh kesah yang membasahi hati, itu pun dicatatkan sebagai pengurang dosa.
Jangan bodoh, jangan ingin mati. Mati bukanlah akhir dari penderitaan. Kematian hanyalah awal dari penderitaan abadi jika engkau tidak siap.
Marilah kawan.. Lihatlah dirimu , bukankah ini dunia? Apa yang engkau khawatirkan tentang dunia ini? Dunia ini hanya persinggahan, persinggahan bernama dunia.
Engkau masih berdiri dan bebas di sini. Dirimu masih di dunia, lihatlah dan bersyukurlah. Disini tidak ada tanah yang menghimpitmu. Atau gelap yang membutakanmu. Udara masih gratis. Ini adalah dunia. Dunia yang sering kita dustakan nikmatnya.
Kita masih di dunia kawan, bukan di kuburan. Matahari masih di sana, di tempat yang biasa meski awan menutupinya.
Tersenyumlah meski sakit. Merintihlah, mengadulah kepada-Nya. Rintihanmu memanggil-Nya adalah dzikir. Dzikir adalah mengingat-Nya. Mengingat Rabb yang sering kita lupakan.
Padahal Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wa Sallam telah bersabda, bahwa “Tidak ada hal yang disesali penghuni syurga kecuali satu jam di dunia yang mereka lewati tanpa mengingat Allah..”
Ingatlah lagi pesannya, bahwa “Jika Allah mencintai hamba-Nya maka Ia akan ditimpakan musibah agar Dia mendengar rintihannya..”
Agar kita merintih mengingat-Nya.
Tidak ada kekhawatiran tentang dunia ini saudaraku. Kesabaran itu harus dilatih, dan pelatihan ini tiada akhir. Hamparan dunia ini adalah medannya, medan untuk menguji kesabaran agar kita menjadi benar-benar teruji dan berkualitas tinggi.
Selalu ada kegaduhan di awal cerita tak terduga yang menghampiri kita. Tapi di ujung kesabaran itu sesungguhnya ada nikmat. Di tengahnya ada cahaya harapan. Lamanya rentan waktu penantian.. menanti nanti pertolongan Nya adalah ibadah. Sungguh para malaikat tak pernah lelah mencatatnya sebagai satu ibadah kita yang sempurna disisi-Nya.
Jika tidak dengan guncangan dan musibah-musibah itu, lalu hal apakah lagi yang akan mengingatkan kita? Inilah hal-hal yang seharusnya semakin mendekatkan diri kita kepada-Nya.
Lihatlah dua merpati yang sedang dibelai cinta. Bukankah mereka juga ingin selalu dekat dan berdekatan?
Begitulah para salihin menyikapi musibah saudaraku. Mereka menjadikan musibah demi musibah itu sebuah medan. Sebuah ajang untuk bermesraan dengan-Nya dalam rintihan. Mereka terhanyut hanyut berduaan, beralaskan rintihan menuju lautan ridha-Nya.
Sungai kehidupan ini tidaklah lurus saudaraku. Ia berliku dan tak terduga. Kadang berbatu, kadang terjun menurun. Kadang tenang, kadang rusuh bergemuruh. Kadang gemericik, kadang mendebarkan. Kesemuanya adalah ujian.
Bagi jiwa yang mengetahui bahwa lika-liku itu adalah iradah-Nya, mereka tidak akan pernah mengeluh. Mereka yakin, bahwa semuanya akan berakhir di pantai nan indah. Pelabuhan terakhir yang telah dijanjikan-Nya sebagai balasan bagi mereka yang bersabar.
Sering memang, hidup ini terasa begitu melelahkan. Penantian itu memang teramat berat, hingga Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wa Sallam menghibur kita dengan mutiara katanya yang menggembirakan bahwa “Penantian seorang Muslim menanti-nanti kelapangan itu telah dicatat sebagai ibadah..”
Satu ibadah yang sempurna di sisi-Nya saudaraku..
Intiplah rahasianya. Pasti ada hikmahnya. Lalu nantikanlah.. Di antara gelapnya suasana, di sana ada cahaya membimbing senyum di wajahmu,..
Segera setelah musibah itu mereda, di sana bahumu semakin kokoh dan tegap berdiri. Kakimu tegak dan siap melangkah, wajahmu menunduk dan hatimu tetap basah, bertasbih bersama semesta.
Di sanalah rekahan kebahagiaan memancar dari hatimu. Laksana pelangi di penghujung senja.
Bukankah alam melukis pelangi dari riuh-riuh gemuruh hujan dan cekaman halilintar?
Pelangi kebahagiaan adalah hadiah bagi mereka yang lulus. Mereka yang sering berdiam menanti akhir yang indah. Terus bersabar meski sukar.
Tak usahlah mengeluh atas duka duka dan kepedihan. Engkau tidak sendiri kawan, semua jua sedang menanti sang pelangi.
Jika saja kekasihmu tidak bersamamu lagi, di ujung sana masih ada kawan yang menantimu kembali.
Kembalilah kawan, anggaplah pena ini sahabatmu. Sahabat yang baru saja menepuk bahumu, sahabat yang merindumu kembali. Anggaplah pena ini sahabat yang menghampirimu dalam gelap. Seorang yang membawakanmu lilin dan menyalakannya untukmu. Sosok yang mencoba meraih bahumu, membisikanmu, menunjukkanmu, bahwa di sana masih ada jalan.
Anggaplah pena ini sahabatmu, Seseorang yang meraihmu dengan tulus saat bibirmu nanti mulai berkata-kata, “yah, hidup ini memang tidak mudah..”
Sahabat yang tidak menertawakanmu saat engkau salah, yang membenarkanmu saat semua seperti menyalahkanmu. Sahabat yang senang duduk bersamamu saat dunia dan semua seakan menyalahkanmu. Sahabat yang menitikan air mata saat engkau hampir menangis.
Anggaplah pena ini sahabatmu. Sahabat yang tidak pernah menyalahkanmu. Sahabat yang ingin memahamimu ketika dirimu marah. Sahabat yang tidak mampu tersenyum saat dirimu murung. Sahabat yang tak sanggup tertawa saat engkau terluka. Sahabat yang ikut terluka saat kakimu melemah dan terjatuh. Sahabat yang ingin mengingatkanmu lagi tentang masa masa dulu, ketika bahumu tangguh menatap harapan, menuntunmu lagi, melembutkan hatimu, mengingatkanmu saat-saat seperti dulu, ketika engkau terduduk di pojokan masjid menangis memohon ampunan atas dosa dan kesalahan. Sahabat yang ingin menegur dan mengingatkanmu, berdoa di belakangmu, membersihkan namamu dan duri yang menusukmu.
Mari sahabatku, engkau mungkin tak pernah mengenal jari siapa yang lancang menasihatimu ini. Namun bersaudara itu adalah pesan mulia dari panutan kita, Rasulullah Sholallahu Alaihi wa sallam. Mari berjalan berdampingan. Mencari oase di tengah gersangnya kehidupan.. Menuju keabadian.
Sahabat jauh yang mungkin tidak pernah engkau kenal. Sahabat yang bahkan tidak pernah bertemu dalam tatapan. Sahabat yang menatapmu dari kejauhan.
Bukan, aku bukan sahabat sejatimu. Karena sosok itu mungkin tak pernah ada di semesta fana ini
Benar kata Syaikh ‘Athaillah, “Sahabat sejati itu tidak ada kecuali dia yang paling tahu aibmu, dan tidak ada sahabat seperti itu kecuali Tuhanmu Yang Maha Pemurah..”
Anggaplah ini sahabatmu, sahabat yang membenarkanmu, saat semua seperti menyalahkanmu. Semoga persahabatan ini diberkahi-Nya.
Lupakanlah siapa penulisnya, namun dengarkanlah gemericik bisikannya.
Analogi dan diksi sederhana ini, sengaja kualirkan melalui jari, dari danau ketenangan di hatiku untuk kebahagiaanmu.
FRT-
Bekasi, 23 Agustus 2016

Selasa, 16 Agustus 2016

dalam setiap detak yang berjarak
dalam lintasan peron yang penuh denan kebisingan.
dalam jeda sofa yang tak berdetak.
Rabb..
kembali aku menadahkan tangan ini
kembaliku merendahkan hati ini di hadapmu

banyak kata yang ingin terbilang
terlebih, perihal sahabat dalam lingkar ukhwah
terlebih perihal ruang yang selalu aku dan mereka perjuangkan
perihal kader-kader baru yang akan berdatangan

tak lepas aku berharap, semoga keberkahan dan rahmat
senantiasa kau berikan dalam setiap langkah yang kami tuju
semoga pundak kami, senantiasa kuat menopang segala amanahMu

rabb..
inginku hanya satu, semoga engkau selalu memelihara masing-masing dari kami
untuk mencari ridhoMu, dari  pertemuaan yang kau tetap kan dalam lingkar ukhwah 
hingga membawa kami bersama kembali di JannahMu..