Tidak semua dari kita ditakdirkan untuk lahir dari keluarga dengan pemahaman agama yang baik. Ayah dan Ibu kita mungkin bukanlah sosok yang menginternalisasi prinsip agama sedemikian dalam, bukan sosok yang gemar bergerak menuju majelis, atau mungkin bukan pula sosok yang menjadi tempat dimana kita mengenal Allah untuk pertama kali. Sama halnya, tidak semua dari kita ditakdirkan untuk lahir ditengah-tengah keluarga yang membumikan akidah, mengutamakan tauhid, dan membiasakan ibadah. Keluarga kita mungkin hanya paham perkara yang wajib tanpa sentuhan mengenai perkara yang sunnah.
Lantas, haruskah kita marah? Haruskah kita sibuk protes kepada-Nya dengan mengatakan, “Ya Allah, mengapa bukan Ayah dan Ibu yang pertama kali mengenalkan aku pada shalat Dhuha, puasa Senin-Kamis, shalat Tahajjud, dan menutup aurat?”
Tidak ada apapun yang dapat menjadi pembenaran untuk kita melakukan protes terhadap apa yang sudah menjadi ketetapan-Nya.
Curigalah! Jangan-jangan Allah memang bertujuan menjadikan kita pelita di tengah gulita. Curigalah! Jangan-jangan Allah memang bertujuan menjadikan kita cahaya untuk kegelapan ilmu yang terjadi di sekitar kita. Curigalah! Jangan-jangan Allah memang mempersiapkan kita untuk menjadi ujung tombak rantai-rantai kebaikan. Sebab, ketetapan-Nya selalu baik, selalu menumbuhkan, dan selalu indah kesudahannya.
Bagaimanapun, Allah tetap adil. Lihatlah ke sekeliling! Bukankah kita sedang berada diantara orang-orang yang menyeru kita untuk mengerjakan kebenaran? Bukankah kita sedang berada di lingkungan yang memungkinkan kita untuk banyak belajar? Bukankah Allah dengan baik hati mempertemukan kita dengan kesempatan-kesempatan emas yang menjadikan kita mengenal-Nya lebih dekat?
Sahabatku, rasanya bukan lagi masalah jika kamulah yang justru harus menjadi orang pertama yang mengajak orang-orang yang kamu sayangi untuk lebih mendekat kepada-Nya. Karena kamu adalah pelita. Sungguh, hadirmu adalah pelita.
@NovieoctaPE


0 komentar:
Posting Komentar