Barangkali kita yang salah menilaisebab yang sengaja memilih pergi tidak meluluberperan sebagai seorang pelukaseakan-akan lupa akan rindu yang tengah ditanamnyapadahal yang sengaja pergi pun tengah menanggung lukanyakalah dengan pilihannyaluput dalam ingatannyamengalah dengan egonya
"sini cium dulu". kata mama sambil mendekatkan badannya ke arahku. aku mendekat sambil memeluknya. mama masih mecium keningku, cukup lama dan masih sama seperti biasa. Aku bisa memeluk mama sehangat ini selepas kepulanganku dan kepergianku kembali ke tanah rantau.
"udah jam 21.00 ma, fira pamit dulu ya. mama jaga kesehatan. fira sayang mama" ujarku.
Tatapan mama tidak pernah berubah, selalu ada rinai yang tengah menggantung di pelupuknya, namun ia tetap tidak pernah ingin menampakkannya dihadapanku.
padahal ini bukan tahun pertama aku merantau, tahun kesekian aku pulang kampung dan akan pergi lagi seperti demikian.
"maaf mama belum bisa nganterin fira sampai stasiun, perjalanan macet jadi km harus buru-buru pesan ojek online supaya ga ketinggalan kereta." kata mama.
"iya, gapapa mah." ujarku.
sungguh, tidak ada yang berbeda dari tatapan mama, tidak ada yang berbeda dari kasih mama.
rasa khawatir yang selama ini mama tahan, tangis yang selama ini mama sembunyikan, rindu yang selama ini mama pendam. semua mama tahan hingga menyesakan dada. Rinai di pelupuk mata itu, aku bisa melihatnya ma.
"hati-hati ya nak, jaga kesehatan, jaga diri, selalu dekat dengan Allah, semoga skripsinya di mudahkan, ilmunya berkah dan bermanfaat. mama selalu doakan yang terbaik buat fira."
Pesan mama yang selalu terngiang jelas di telingaku, dengan suara yang mulai berat, dan rinai yang semakin jelas menggenang.
sungguh, aku telah kalah ma, kali ini rinai nyaris menghampiri kedua pipiku, jatuh bersamaan dengan rindu yang tengah luap dalam dekapanmu.
aku segera berpamitan, tidak ingin mama melihat bahwa aku juga tengah sedih. punggungku beranjak meniggalkan, wajahku basah, aku tertunduk tak sanggup lagi memalingkan wajah.
lagi-lagi aku kalah setiap kali beranjak meninggalkan kampung halaman.
malam itu, malam yang berat sekali.
padahal ini bukan kali pertama, tapi selalu saja berat untuk meninggalkan rumah.
ingin selalu dekat, tidak ingin jauh.
tapi, inilah konsekuensi atas pilihan yang tengah ku ambil.
ada amanah yang tengah menggantung, memanggil untuk segera di selesaikan.
dan aku tak boleh kalah dengan keadaan.
mama, yang selalu sabar menanggalkan egonya sebagai seorang ibu
yang hakikatnya selalu merasa khawatir, yang selalu ingin berdekatan dengan anak-anaknya. begitupun aku, ma.
namun demi anak-anaknya mama rela berjauhan, menahan rindu bercampur isak.
menggantungkan doa di sujud-sujud malamnya, tidak lelah dan terus saja berdoa.
Rindu itu, akan tetap ada ma. biarkan ia tetap ada di bilik kamarmu.
bertambah hingga riuh gemuruh tak lagi menganggu.
Itulah, ia❤
mengapa sejak awal ku katakan, bahwa yang sengaja pergi bukan selalu seorang peluka.
sebab membuat perpisahan, sekalipun terlihat menyenangkan tetap akan selalu menjadi hal yang menyakitkan.
suka ataupun tidak, tidak akan ada yang benar-benar ikhlas pada waktu pertama sebagai pelaku yang lebih dulu sengaja meninggalkan untuk berpisah dengan orang yang dicintai nya.
Yogyakarta, 18 Juli 2017

0 komentar:
Posting Komentar