Minggu, 28 Agustus 2016

Mesin Waktu: Kembali Ke Hari Ini – 10 Bulan Yang Lalu.

“The only thing that makes it a part of your life is that you keep thinking about it”
Setelah sekian lama sembunyi, hari ini aku kembali dipaksa untuk melihatmu lagi – ajaibnya, sudah tidak ada getaran, tidak ada senyuman lagi. Setelah cukup lelah aku berjalan jauh dalam kisah aku-kamu, kini yang ada hanya satu perasaan sakit yang teramat sangat di dalam dada ini jika kamu tampak di depan mata.

Hari ini, aku hanya ingin mengabadikan kenangan yang ada di dalam ingatanku, seorang perempuan yang mungkin beberapa tahun lagi akan ada di sampingmu atau mungkin kembali jadi orang asing bagimu. Aku takut suatu hari aku didera lupa ingatan, untuk itu aku menulisnya sebagai penanda bahwa pada suatu titik dalam perjalanan hidupku, pernah ada sesosok orang asing yang mengisi malam-malamku. Tidak hanya satu, melainkan jumlahnya mendekati seribu. Tepatnya tiga ratus malam. Ya, itu Kamu.

Pada suatu hari di tanggal 9 November 2015, untuk pertama kalinya aku-kamu mendengar musik jogja bersama di penghujung malam jogja. Kamu ingat malam itu? Aku memintamu bercerita tentang hal yang kamu suka dan segala pengalaman2mu.  Aku yang di beberapa kesempatan sebelumnya malas untuk berinteraksi denganmu, malam itu terpaku. Kamu yang selama ini kukira angkuh, secara tiba-tiba menyihir perasaanku. Bukan karena kamu tampan, bukan juga karena pakaian yang kamu kenakan.

Malam itu, tanggal 9 November 2015, binar yang terpancar dari kedua matamu menghanyutkan konsentrasiku untuk sesaat. Ketika kutelaah lebih jauh, di matamu ada semangat, ada keceriaan, ada harapan, dan ada sesuatu yang mungkin disebut kharisma. Keacuhanku terhadapmu seketika sirna. Aku ingin mengenalmu. Aku ingin bertemu denganmu lagi. Aku ingin mendengar semua celotehmu – karena aku suka caramu membuatku merasa didengarkan dan tersenyum-tertawa-bahagia melihat semangatmu yang menggebu. Malam itu aku mulai memikirkan kamu..

Semenjak malam itu, aku-kamu mulai bicara. Malam-malamku jadi semakin panjang, tidurku makin larut. Hey, tapi tak apa! Aku senang bahwa waktu itu kamu semakin banyak bercerita, mengutarakan cita-citamu, merisaukan ketakutanmu, menanyakan pendapatku akan hal yang membuatmu ragu – semua ini dilakukan atas satu tujuan mulia: mimpimu untuk memajukan perkumpulan yang sama-sama kita cintai. Pada rentang waktu itu, kamu sering membuatku kesal karena menunggumu yang tak kunjung hadir, menanti jawaban atas pesanku yang kerap kau lalaikan, atau sifat indecisive-mu yang kadang menyulitkanmu untuk memutuskan sesuatu. Tapi dari kesempatan itu pula aku belajar untuk menyelami resahmu, kecewamu, kelelahanmu, takutmu, kemarahanmu.. Kesempatan itu pulalah yang makin membuatku rindu ingin kembali bertemu dan merasakan aura keceriaan dan semangatmu. Satu malam tanpa kabar darimu, hatiku gelisah..

Pada akhirnya, suatu takdir sempat memisahkan kita dalam rentang yang (mungkin) tak berjarak. Kamu ingat waktu itu? Kamu mengirimkanku pesan saat aku hendak berangkat ke jakarta, aku sempat terdiam dan cukup tidak yakin karna tiba-tiba namamu hadir di layar ponselku. Aku ingat sekali, padahal sejak tanggal 4 juni 2016 tepat pertemuan terakhir kita sebelum ramadhan tiba, kita tak pernah lagi saling bertatap atau mungkin tak pernah lagi saling berkabar. Sedihnya, selama belasan hari itu kita sulit berkomunikasi.

Tugu jogja dan bianglala selepas menatap bintang dibawah kaki langit Jogja. Kamu tidak tahu bagaimana bahagianya aku menghabiskan hari dengan kamu waktu itu. Kamu ingat? Kita yang menghabiskan waktu di SKE, sesampainya disana kita langsung naik bianglala, kemudian aku yang tidak ingin menaiki permainan kursi terbang itu, lalu kau yang terus saja menantangku. Ah betapa konyolnya kita saat itu. Jujur aku rindu. Kau ingat saat kita naik sepada putar gantung? Aku pernah merasa begitu bahagia disampingmu. Kamu yang bercerita tentang segala kesibukan di organisasi & keinginan mu untuk mengikuti tes Asisten Lab di Jurusanmu dan Tes Djarummu. Perihal semua yang kau ceritakan aku akan selalu berharap yang terbaik pada Allah untuk setiap langkah yang kau tuju, kesuksesanmu adalah kebahagiaanku, entah di akhir langkahmu masih ada aku atau tidak disampingmu, aku tetap bahagia karena sebelum itu pernah ada aku yang berdiri disampingmu. Selepas permainan berakhirkita menyusuri jalanan itu – dan kembali memutuskan untuk naik bianglala sebelum beranjak pulang.

Aku ingat saat di penghujung sore di bawah kaki langit jogja, kita olahraga bersama di GSP UGM. Kamu begitu bersemangat, aku yang istirahat lebih dulu dan tiba-tiba ada kamu duduk disampingku mukamu terlihat kelelahan selepas lari,dan kita kembali dalam percakapan-percakapan yang teduh.

Pada hari itu, hari saat kamu memberitahu bawa kau telah lolos menjadi Asisten Lab di jurusanmu yang selama ini selalu kau impikan. Aku sangat bahagia dengan keberhasilanmu, aku bahagia karna ada aku disamping tepat sebelum dan sesudah kau berhasil lolos.  Kamu ingat bingkai yang pernah aku berikan? Kelak, apapun yang terjadi pada hubungan kita semoga kau bisa tetap menyimpannya untuk untukmu, meski aku tak lagi ada disampingmu. Setidaknya itu bisa membuatku bahagia karna kau masih mengingatku, entah sebagai masa lalu yang dirindukan atau tidak.

Kamu masih ingat ga? Waktu aku sakit, dan kamu tiba-tiba didepan rumah terus bawa coklat?
Kamu pernah nggak ya memikirkan, kenapa aku melihatmu waktu itu dimasjid dekat rumah? Kenapa malam itu kita sama-sama sholat di masjid yang sama? Bahwa ternyata rumah kita hanya cukup dijangkau dengan beberapa langkah saja?  Ternyata kita berada dilingkungan yang sama. Kenapa malam saat di kompas aku-kamu diberi kesempatan untuk banyak berinteraksi ?

Kamu ingat kita pernah berencana untuk berpetualang ke gunung andong atau nglanggeran yang sampai saat ini hanya menjadi sebuah ilusi semata?
Kamu ingat saat malam ketika aku masih sibuk dengan laporan akhir praktikumku, kamu memilih untuk menemaniku memastikan bahwa aku akan tetap baik-baik saja? – dan apakah kamu ingat waktu kamu menghubungiku untuk menemanimu makan malam dan menemanimu cetak poster, tapi karena keadaan service disana pada malam itu kurang baik, akhirnya kita harus menunggu hingga larut, dan kamu yang melihat aku yang sudah mulai mengantuk memutuskan untuk mengantarku langsung pulang.
“Kamu ga jadi aku temenin makan?”
“udah larut, kamu juga udah ngantuk, kelihatan dari matamu, kita langsung pulang aja ya.”
“tapi...”
“gapapa, ini bukan tentang nemenin aku makan, yang penting aku udah bisa ketemu kamu hari ini.” Ujarmu, dan malam itu, lagi. Kamu membuat aku bahagia.
Aku yakin kamu masih ingat. setelah kita berpisah hari itu, setelah malam terakhir pertemuan kita didepan pintu dan hingga kembali ke kota masing-masing.
Dulu, aku senang bahwa disetiap waktu sibukmu kamu selalu berikan sedikit waktu untuk bertemu denganku. Kamu tidak tahu betapa bahagianya aku melihat kamu yang berbahagia dari jauh dengan senyum dan binar mata yang sama – penuh keceriaan dan semangat.
Perjalanan itu, 10 bulan lalu, inilah rentang waktu paling berkesan dari catatan perjalanan kisah aku-kamu.  Aku yakin kamu masih ingat apa saja yang kita lakukan, bicarakan dan kunjungi pada perjalanan waktu kita beberapa bulan itu.

Pada rentang waktu itulah terjadi satu kejadian yang menyentuh hatiku. Jika kamu lupa, setelah aku ingat-ingat ternyata kejadian itu terjadi tepat saat makan malam kita di WS. Malam itu, setelah berhari-hari kita tak berkabar dan bertemu. Aku ingat, waktu itu aku diam saja sembari dalam hati, I secretly wish to God to pair us up. Dan dalam diamku, aku lihat kamu di hadapanku itu juga diam. Akhirnya, kita berdua yang tersisa karena sama-sama diam. Aku pikir kau sudah tak lagi seperti dulu, ada serpihan hati yang tak lagi sanggup aku rangkai menjadi bingkai utuh milik kita, bahkan tepat pada malam itu. AKU MERASA ASING DI HADAPMU.
Semakin jarangnya intensitas berkomunikasi, membuat aku sering rindu kamu. Sedih rasanya jika ingat kamu disana mungkin kelelahan, atau mungkin didera masalah, sedangkan aku di sini tidak bisa berbuat apapun. Begitu rindunya, sering juga aku berdoa agar bisa dipertemukan dengan kamu. Allah memang punya banyak cara, salah satunya dengan mempertemukan aku-kamu dalam mimpi. Salah satu yang paling manis adalah mimpi pada tanggal 29 November 2015. Hingga saat ini, ada banyak hal yang masih selalu mengingatkan aku akan kenangan tentangmu :)

Hari ini, aku sadar bahwa perjalanan kisah aku-kamu yang telah berlangsung lama ini butuh direnungkan lagi. Selama kurun waktu 300 hari atau 10 bulan, kamu selalu sempat aku fikirkan. Meskipun aku sekarang hanya bisa melihat kamu dari kejauhan dan tidak punya lagi kesempatan bertegur sapa, aku kadang masih kecolongan untuk mencari tahu kegiatan apa yang kamu jalani, apa kamu sehat, apa keluarga kamu sehat dan semacamnya. Aku mendengar dari teman-temanmu bahwa kamu lolos tahap awal Beasiswa Djarum, sungguh detik itu juga saat aku mendengar kabar bahagiamu itu rinai hadir di pelupuk mataku, sedih bercampur bahagia. Aku bahagia, karena kamu telah berhasil berada di satu langkah harapan yang selama ini kamu ceritakan padaku, ternyata doa-doa yang selama ini aku titpkan dalam percakapan panjangku dengan Allah di dingar olehNya. Hanya saja, perihal kesedihan, perihal aku-kamu yang taklagi bisa berjalan beriringan. Tak ada aku disaat kamu sudah mencapai harapanmu, karna mungkin sudah ada sosok lain yang memenuhi relungmu.


Kadang aku teringat percakapan kita beberapa saat setelah kamu mendapatkan amanah itu bahwa kau saringkali harus pulang larut dan sibuk di kampus. Tapi sekarang, aku melihat kenyataan bahwa aku-kamu berubah seiring waktu dan kamu sudah menjadi bagian dari orang-orang lain .. Hal ini bukan berarti kamu menjadi buruk, tapi yang jelas hal ini menciptakan jarak aku-kamu, Seiring waktu, aku merasa perbedaan antara aku-kamu semakin nyata dan sepertinya itu juga yang menyebabkan aku-kamu belum punya kesempatan lagi untuk bisa bercanda seperti dulu. Fikiran-fikiran negatif akan ketidakcocokan aku-kamu juga membuat aku rasanya malas untuk banyak berharap kamu untuk masih mengingat aku.
Entahlah, aku tidak tahu apa aku masih jatuh cinta kepadamu seperti 10 bulan lalu atau cerita aku-kamu sudah waktunya disudahi. Yang jelas, entah itu aku masih cinta atau tidak, tapi kamu masih selalu aku fikirkan, khawatirkan, rindukan dan aku kenang tiap hari. Namamu, ibu, ayah dan adikmu juga diam-diam masih ku sebut di setiap doaku. Karena kenyataannya, kamu telah mengubah hidupku dan mengajarkan aku banyak hal tentang kehidupan ini dan kepribadian kamu yang menyenangkan dan inspiratif tentu tidak mungkin ada tanpa kehadiran sosok keluargamu. You’re amazing because you have an amazing Dad and Mom, amazing brother and exceptional path of life – that’s why I have to thank and love all of them as well.
Allah, terima kasih Engkau telah mengirimkan banyak orang-orang baik dalam hidupku..
Kadang aku mengagumi bagaimana hidup bisa membuat segala hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Seperti layaknya merancang pertemuan seorang aku dengan sesosok orang asing yang pertama kali ia lihat di masjid – jangan kira pertemuan di masjid itu adalah pertama kalinya aku melihat kamu, ternyata kamulah yang aku lihat di kegiatan yang pernah kita lewati sebelumnya, hanya saja aku masih belum terlalu sadar. Yes, I realized it was you at the day we meet and I asked about your family - dan menjadikan orang asing itu seseorang yang akan ia kenang seumur hidup sebagai cinta dan sahabat.

Hebatnya lagi, jalan kehidupan bisa merubah sepasang orang asing yang dipertemukan, kemudian menjalin cinta, kandas, lalu kembali menjadi orang asing bagi satu sama lain. Well, aku sejujurnya nggak mau seperti itu. Dosa jika aku sengaja memutus silaturahim antara aku-kamu. Tapi kadang, jika hubungan aku-kamu yang sudah terlampau lama diperam namun belum bisa menjadi hubungan ‘kita’ dan pada akhirnya bersifat destruktif pada satu pihak, aku rasa aku punya alasan pemaaf untuk setidaknya mundur dan belajar untuk ‘fall out of love of you’. Karena pesona kamu terlalu luar biasa, sampai-sampai aku yang malas mengerjakan laporan Kerja Praktek ini kuat untuk menulis kenangan tentang kamu sampai 2000an kata yang sebenarnya equal dengan 4 halaman laporan Kerja Praktek. Aku yakin kalau aku-kamu masih sehangat dulu, pasti bisa jadi penyemangat ngerjain laporanku, dan yakin 1 bulan laporanku beres :)

Hari ini, 4 Agustus , aku menyadari beberapa peristiwa penting yang pernah terjadi dalam kisah aku-kamu ternyata diwarnai dengan berbagai kebetulan yang manis. Entah itu hanya ‘coincidence’ atau mungkin ‘serendipity’. Namun aku berujung pada keyakinan bahwa serangkaian perjalanan kisah aku-kamu dari PERSPEKTIFKU, adalah sebuah ‘destiny’. Kata orang, daun jatuh dari dahan pohon saja sudah ada catatan takdirnya dari Allah, maka tidak mungkin kejadian sehebat ini hanya kebetulan kan? Entah itu memang akan ada kelanjutannya di masa depan (yang saat ini sebenarnya sudah sangat aku ragukan) atau mungkin memang cukup dikenang untuk dihayati hikmahnya.. Baiklah, aku coba ikhlaskan kisah aku-kamu untuk tidak lagi ditunggu. Semoga aku-kamu bisa mencapai impian dan cita-cita and see you in the halfway of fate – if we destined to be in love all over again :’)


Aku.
Yogyakarta, 29 Agustus 2016

7 komentar: