جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ بِحُسْنِ صَحَابَتِى قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ
ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « ثُمَّ أَبُوكَ »
“Seorang pria pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Siapa dari kerabatku yang paling berhak aku berbuat baik?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu.’ Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallammengatakan, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ayahmu’.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Lihatlah … betapa kedudukan orang tua sangat agung dalam Islam, sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menempatkannya sebagai salah satu amalan yang paling utama. Lalu, sudahkah kita berbakti kepada kedua orang tua?
Namanya Jihan, seorang anak kecil berusia 5 Tahun berdarah Minang bersama dengan nenek dan ibunya. aku bertemu dengannya di kereta tepat selepas kepergianku beranjak meninggalakan tanah kelahiranku; Jakarta.
28 Dhul'Qada 2016, pukul 06.30 kereta tujuan Jakarta-Yogyakarta melaju. selepas masuk kereta aku langsung mengambil tempat dan langsung membuka buku bacaanku. berhubung waktu perjalanan yang dihabiskan cukup panjang, aku selalu menghabiskannya dengan membaca koleksi buku-bukuku. rasa bosan dan kantuk jadi enggan datang.
sepanjang perjalanan hanya suara peraduan bantalan kereta saja yang berbunyi. aku suka sekali naik kereta, karena selalu berhasil membawaku mengingat kembali kebahagiaan masa kecilku.
***
(suara tangis)....
tiba-tiba aku tersentak dan menghentingkan bacaanku, disana kutemukan ada rinai yang menetes haru jatuh dari pelupuk mata seorang perempuan yang duduk tepat dihadapanku. diam-diam aku masih terus menatapnya, aku masih belum berani bertanya, kenapa ia menangis. aku takut ia akan merasa terganggu karena rasa keingintahuanku.
aku masih terus menatapnya dibalik buku bacaanku. dipangkuannya kutemukan ada seorang anak lagi-laki yang usianya berkisar 5 tahunan sedang tertidur pulas. Sejak awal perjalanan, perempuan itu tak pernah berhenti mencium dan memeluk anaknya. ia terus saja menangis pelan sambil mengusap lembut wajah anaknya.
perempuan itu langsung menghapus air matanya, karena tahu aku yang sejak tadi memperhatikannya.
bagaimana mungkin aku tidak terkejut?
bahkan seorang perempuan (Ibu) yang terlihat lemah diluar memiliki aliran kekuatan yang begitu panjang; Rinainya.
Wanita itu masih terusmenangis memeluk anaknya sambil sesekali menatap kosong kearah jendela kereta.
tanpa sadar pelupuk mataku menggenang rinai. sungguh, aku benar-benar tidak tega melihat ada seorang yang menangis dihadapku.
(Rabb.. apapun yang hendak terjadi pada hati dan keadaan ibu ini, sungguh tiada daya Kekuatan dan Kesabaran melainkan itu ada padaMu) *suarahatiku
perempuan itu langsung menghapus air matanya, karena tahu aku yang sejak tadi memperhatikannya.
bagaimana mungkin aku tidak terkejut?
bahkan seorang perempuan (Ibu) yang terlihat lemah diluar memiliki aliran kekuatan yang begitu panjang; Rinainya.
Wanita itu masih terusmenangis memeluk anaknya sambil sesekali menatap kosong kearah jendela kereta.
tanpa sadar pelupuk mataku menggenang rinai. sungguh, aku benar-benar tidak tega melihat ada seorang yang menangis dihadapku.
(Rabb.. apapun yang hendak terjadi pada hati dan keadaan ibu ini, sungguh tiada daya Kekuatan dan Kesabaran melainkan itu ada padaMu) *suarahatiku
"Bunda, Jihan laper." ujar anak kecil di pangkuan perempuan itu yang tiba-tiba terbangun dalam lelapnya.
"iya nak, ini dimakan dulu rotinya." ujar bundanya sambil memberikan roti pada Jihan.
Jihan masih asik makan roti pemberian bundanya.
"iya nak, ini dimakan dulu rotinya." ujar bundanya sambil memberikan roti pada Jihan.
Jihan masih asik makan roti pemberian bundanya.
***
"Kak, kaka lagi baca buku apa? jihan boleh lihat ga?" ujar jihan, yang mendekat ke arahku sambil memegang buku bacaanku. kebetulan saat itu aku sedang membaca bukunya Ust. Salim A. Fillah "Lapis-Lapis Keberkahan".
"kak, nama kaka siapa?"
"nama kaka Firra dek. kalo nama adek siapa?" sebenarnya aku sudah tau namanya, sejak pertama kali saat dia bangun tidur.
"nama aku Jihan kak. kak, nama lengkap kaka siapa ka?" ujarnya kembali
"nama lengkap kaka Firra Aprindanti dek"
"kak, kaka mau kemana?"
"kaka mau ke jogja dek, emangnya adek mau kemana?" ujarku
"Jihan juga mau ke jogja dong kak, kaka mau ngapain pergi ke Jogja?"
"kaka pergi ke jogja mau kuliah dek. kalo adek mau ngapain pergi ke jogja?
"Jihan mau main kejogja sama bunda, dan nenek. Jihan mau lihat monas di jogja kak. habis itu jihan mau pulang lagi ke padang sama bunda."
(hehehehe)... kami semua langsung tertawa mendengar celoteh polos yang jihan ucapkan.
"Monas itu adanya di Jakarta dek, kalo yang jihan mau lihat di Jogja itu namanya tugu. hanya bentuknya saja yang mirip sama monas." ujarku yang langsung memberikan penjelasan pada jihan
Bundanya jihan hanya terus tersenyum melihat percakapan kami.
"kak, sebentar lagi jihan mau sekolah. soalnya jihan mau jadi pilot."
"wah, bagus dong, berarti nanti kalo sudah masuk sekolah jihan harus semangat ya, terus banyak baca buku juga supaya bisa jadi pilot."
"iya kak, Jihan mau bawa pesawat. terus terbang ajak bunda sama nenek. kalo kaka mau ikut juga boleh kak."
***
waktu sudah menunjukan pukul 11.00, aku terus melanjutkan membaca buku. perjalanan masih terasa lama sekali.
*bersambung
*bersambung

0 komentar:
Posting Komentar