Tak ada yang meniatkan diri untuk terjatuh, tidak akan pernah ada. Aku kepadamu pun sama. Terlambat untukku menahan diri agar tidak terjatuh kepadamu. Yang kutahu kini aku sudah jatuh pada segalamu, entah sedalam apa.
Belum kurasakan sakit, karena jatuhku dibarengi dengan jatuhmu. Nanti bisa saja merasakan sakit, tergoreskan entah apa yang menyebabkan sedikit luka. Namun tenang, katamu; kita akan menyembuhkannya segera dengan lirih maaf dan tulus memaafkan.
Kita benar-benar terjatuh kini, dengan rasa, bersama pula, tidak aku saja atau kamu saja. Semoga seterusnya juga sama. Jatuh sedalam-dalamnya, setiap harinya. Berulang kali, bergulir hari hingga menyenja, menua.

0 komentar:
Posting Komentar