Betapa kecewa di balur bahagia. Kau memutuskan untuk memilihku, dan memberanikan hati membuka lembaran baru selepas dia yang dulu pernah ada beranjak pergi dari hidupmu. Maaf bukan bermaksud lancang. Jika memang aku yang kau pilih, dan jika kau sudah bertekad membuka hati untukku, mengapa di hadapan meraka kau bersikap dingin seolah kau masih tetap sendiri? Ironis bukan.
Seolah kehadiranku tak pernah berarti apa-apa bagimu? Seolah semua yang pernah kita lewati hanya sekedar sumpah serapah? Apakah aku egois jika berkata seperti itu? Apakah ini menyiksamu? Jangan membuatku berasumsi terlalu jauh.
Aku mengerti bahwa cinta itu memang perihal percaya, namun saat ini aku tidak tahu sosok seperti apa yang berarti nyata bagimu. Kau harus pahami ini, meski kita dekat dan (mungkin) saling cinta, namun tidak saling memberitahu itu menyakitkan, jadi tolong jangan mebuatku tepasung dalam keadaan yang memaksaku jatuh berkali-kali.

0 komentar:
Posting Komentar