“The only thing
that makes it a part of your life is that you keep thinking about it”
Setelah sekian
lama sembunyi, hari ini aku kembali dipaksa untuk melihatmu lagi – ajaibnya,
sudah tidak ada getaran, tidak ada senyuman lagi. Setelah cukup lelah aku
berjalan jauh dalam kisah aku-kamu, kini yang ada hanya satu perasaan sakit
yang teramat sangat di dalam dada ini jika kamu tampak di depan mata.
Hari ini, aku
hanya ingin mengabadikan kenangan yang ada di dalam ingatanku, seorang
perempuan yang mungkin beberapa tahun lagi akan ada di sampingmu atau mungkin
kembali jadi orang asing bagimu. Aku takut suatu hari aku didera lupa ingatan,
untuk itu aku menulisnya sebagai penanda bahwa pada suatu titik dalam
perjalanan hidupku, pernah ada sesosok orang asing yang mengisi malam-malamku.
Tidak hanya satu, melainkan jumlahnya mendekati seribu. Tepatnya tiga ratus
malam. Ya, itu Kamu.
Pada suatu hari
di tanggal 9 November 2015, untuk pertama kalinya aku-kamu mendengar musik
jogja bersama di penghujung malam jogja. Kamu ingat malam itu? Aku memintamu
bercerita tentang hal yang kamu suka dan segala pengalaman2mu. Aku yang di beberapa kesempatan sebelumnya
malas untuk berinteraksi denganmu, malam itu terpaku. Kamu yang selama ini
kukira angkuh, secara tiba-tiba menyihir perasaanku. Bukan karena kamu tampan,
bukan juga karena pakaian yang kamu kenakan.
Malam itu,
tanggal 9 November 2015, binar yang terpancar dari kedua matamu menghanyutkan
konsentrasiku untuk sesaat. Ketika kutelaah lebih jauh, di matamu ada semangat,
ada keceriaan, ada harapan, dan ada sesuatu yang mungkin disebut kharisma. Keacuhanku
terhadapmu seketika sirna. Aku ingin mengenalmu. Aku ingin bertemu denganmu
lagi. Aku ingin mendengar semua celotehmu – karena aku suka caramu membuatku
merasa didengarkan dan tersenyum-tertawa-bahagia melihat semangatmu yang
menggebu. Malam itu aku mulai memikirkan kamu..
Semenjak malam
itu, aku-kamu mulai bicara. Malam-malamku jadi semakin panjang, tidurku makin
larut. Hey, tapi tak apa! Aku senang bahwa waktu itu kamu semakin banyak
bercerita, mengutarakan cita-citamu, merisaukan ketakutanmu, menanyakan
pendapatku akan hal yang membuatmu ragu – semua ini dilakukan atas satu tujuan
mulia: mimpimu untuk memajukan perkumpulan yang sama-sama kita cintai. Pada
rentang waktu itu, kamu sering membuatku kesal karena menunggumu yang tak
kunjung hadir, menanti jawaban atas pesanku yang kerap kau lalaikan, atau sifat
indecisive-mu yang kadang menyulitkanmu untuk memutuskan sesuatu. Tapi dari
kesempatan itu pula aku belajar untuk menyelami resahmu, kecewamu, kelelahanmu,
takutmu, kemarahanmu.. Kesempatan itu pulalah yang makin membuatku rindu ingin
kembali bertemu dan merasakan aura keceriaan dan semangatmu. Satu malam tanpa
kabar darimu, hatiku gelisah..
Pada akhirnya,
suatu takdir sempat memisahkan kita dalam rentang yang (mungkin) tak berjarak.
Kamu ingat waktu itu? Kamu mengirimkanku pesan saat aku hendak berangkat ke
jakarta, aku sempat terdiam dan cukup tidak yakin karna tiba-tiba namamu hadir
di layar ponselku. Aku ingat sekali, padahal sejak tanggal 4 juni 2016 tepat
pertemuan terakhir kita sebelum ramadhan tiba, kita tak pernah lagi saling
bertatap atau mungkin tak pernah lagi saling berkabar. Sedihnya, selama belasan
hari itu kita sulit berkomunikasi.
Tugu jogja dan
bianglala selepas menatap bintang dibawah kaki langit Jogja. Kamu tidak tahu
bagaimana bahagianya aku menghabiskan hari dengan kamu waktu itu. Kamu ingat?
Kita yang menghabiskan waktu di SKE, sesampainya disana kita langsung naik
bianglala, kemudian aku yang tidak ingin menaiki permainan kursi terbang itu,
lalu kau yang terus saja menantangku. Ah betapa konyolnya kita saat itu. Jujur
aku rindu. Kau ingat saat kita naik sepada putar gantung? Aku pernah merasa
begitu bahagia disampingmu. Kamu yang bercerita tentang segala kesibukan di
organisasi & keinginan mu untuk mengikuti tes Asisten Lab di Jurusanmu dan
Tes Djarummu. Perihal semua yang kau ceritakan aku akan selalu berharap yang
terbaik pada Allah untuk setiap langkah yang kau tuju, kesuksesanmu adalah
kebahagiaanku, entah di akhir langkahmu masih ada aku atau tidak disampingmu,
aku tetap bahagia karena sebelum itu pernah ada aku yang berdiri disampingmu. Selepas
permainan berakhirkita menyusuri jalanan itu – dan kembali memutuskan untuk
naik bianglala sebelum beranjak pulang.
Aku ingat saat di
penghujung sore di bawah kaki langit jogja, kita olahraga bersama di GSP UGM.
Kamu begitu bersemangat, aku yang istirahat lebih dulu dan tiba-tiba ada kamu duduk
disampingku mukamu terlihat kelelahan selepas lari,dan kita kembali dalam
percakapan-percakapan yang teduh.
Pada hari itu,
hari saat kamu memberitahu bawa kau telah lolos menjadi Asisten Lab di
jurusanmu yang selama ini selalu kau impikan. Aku sangat bahagia dengan
keberhasilanmu, aku bahagia karna ada aku disamping tepat sebelum dan sesudah
kau berhasil lolos. Kamu ingat bingkai
yang pernah aku berikan? Kelak, apapun yang terjadi pada hubungan kita semoga
kau bisa tetap menyimpannya untuk untukmu, meski aku tak lagi ada disampingmu. Setidaknya
itu bisa membuatku bahagia karna kau masih mengingatku, entah sebagai masa lalu
yang dirindukan atau tidak.
Kamu masih ingat
ga? Waktu aku sakit, dan kamu tiba-tiba didepan rumah terus bawa coklat?
Kamu pernah
nggak ya memikirkan, kenapa aku melihatmu waktu itu dimasjid dekat rumah?
Kenapa malam itu kita sama-sama sholat di masjid yang sama? Bahwa ternyata
rumah kita hanya cukup dijangkau dengan beberapa langkah saja? Ternyata kita berada dilingkungan yang sama.
Kenapa malam saat di kompas aku-kamu diberi kesempatan untuk banyak
berinteraksi ?
Kamu ingat kita
pernah berencana untuk berpetualang ke gunung andong atau nglanggeran yang
sampai saat ini hanya menjadi sebuah ilusi semata?
Kamu ingat saat
malam ketika aku masih sibuk dengan laporan akhir praktikumku, kamu memilih
untuk menemaniku memastikan bahwa aku akan tetap baik-baik saja? – dan apakah
kamu ingat waktu kamu menghubungiku untuk menemanimu makan malam dan menemanimu
cetak poster, tapi karena keadaan service disana pada malam itu kurang baik,
akhirnya kita harus menunggu hingga larut, dan kamu yang melihat aku yang sudah
mulai mengantuk memutuskan untuk mengantarku langsung pulang.
“Kamu ga jadi
aku temenin makan?”
“udah larut,
kamu juga udah ngantuk, kelihatan dari matamu, kita langsung pulang aja ya.”
“tapi...”
“gapapa, ini
bukan tentang nemenin aku makan, yang penting aku udah bisa ketemu kamu hari
ini.” Ujarmu, dan malam itu, lagi. Kamu membuat aku bahagia.
Aku yakin kamu
masih ingat. setelah kita berpisah hari itu, setelah malam terakhir pertemuan
kita didepan pintu dan hingga kembali ke kota masing-masing.
Dulu, aku senang
bahwa disetiap waktu sibukmu kamu selalu berikan sedikit waktu untuk bertemu
denganku. Kamu tidak tahu betapa bahagianya aku melihat kamu yang berbahagia
dari jauh dengan senyum dan binar mata yang sama – penuh keceriaan dan semangat.
Perjalanan itu,
10 bulan lalu, inilah rentang waktu paling berkesan dari catatan perjalanan
kisah aku-kamu. Aku yakin kamu masih
ingat apa saja yang kita lakukan, bicarakan dan kunjungi pada perjalanan waktu
kita beberapa bulan itu.
Pada rentang
waktu itulah terjadi satu kejadian yang menyentuh hatiku. Jika kamu lupa,
setelah aku ingat-ingat ternyata kejadian itu terjadi tepat saat makan malam
kita di WS. Malam itu, setelah berhari-hari kita tak berkabar dan bertemu. Aku
ingat, waktu itu aku diam saja sembari dalam hati, I secretly wish to God to
pair us up. Dan dalam diamku, aku lihat kamu di hadapanku itu juga diam.
Akhirnya, kita berdua yang tersisa karena sama-sama diam. Aku pikir kau sudah
tak lagi seperti dulu, ada serpihan hati yang tak lagi sanggup aku rangkai
menjadi bingkai utuh milik kita, bahkan tepat pada malam itu. AKU MERASA ASING
DI HADAPMU.
Semakin
jarangnya intensitas berkomunikasi, membuat aku sering rindu kamu. Sedih
rasanya jika ingat kamu disana mungkin kelelahan, atau mungkin didera masalah,
sedangkan aku di sini tidak bisa berbuat apapun. Begitu rindunya, sering juga
aku berdoa agar bisa dipertemukan dengan kamu. Allah memang punya banyak cara,
salah satunya dengan mempertemukan aku-kamu dalam mimpi. Salah satu yang paling
manis adalah mimpi pada tanggal 29 November 2015. Hingga saat ini, ada banyak
hal yang masih selalu mengingatkan aku akan kenangan tentangmu :)
Hari ini, aku
sadar bahwa perjalanan kisah aku-kamu yang telah berlangsung lama ini butuh
direnungkan lagi. Selama kurun waktu 300 hari atau 10 bulan, kamu selalu sempat
aku fikirkan. Meskipun aku sekarang hanya bisa melihat kamu dari kejauhan dan
tidak punya lagi kesempatan bertegur sapa, aku kadang masih kecolongan untuk
mencari tahu kegiatan apa yang kamu jalani, apa kamu sehat, apa keluarga kamu
sehat dan semacamnya. Aku mendengar dari teman-temanmu bahwa kamu lolos tahap
awal Beasiswa Djarum, sungguh detik itu juga saat aku mendengar kabar bahagiamu
itu rinai hadir di pelupuk mataku, sedih bercampur bahagia. Aku bahagia, karena
kamu telah berhasil berada di satu langkah harapan yang selama ini kamu
ceritakan padaku, ternyata doa-doa yang selama ini aku titpkan dalam percakapan
panjangku dengan Allah di dingar olehNya. Hanya saja, perihal kesedihan,
perihal aku-kamu yang taklagi bisa berjalan beriringan. Tak ada aku disaat kamu
sudah mencapai harapanmu, karna mungkin sudah ada sosok lain yang memenuhi
relungmu.
Kadang aku
teringat percakapan kita beberapa saat setelah kamu mendapatkan amanah itu
bahwa kau saringkali harus pulang larut dan sibuk di kampus. Tapi sekarang, aku
melihat kenyataan bahwa aku-kamu berubah seiring waktu dan kamu sudah menjadi
bagian dari orang-orang lain .. Hal ini bukan berarti kamu menjadi buruk, tapi
yang jelas hal ini menciptakan jarak aku-kamu, Seiring waktu, aku merasa
perbedaan antara aku-kamu semakin nyata dan sepertinya itu juga yang
menyebabkan aku-kamu belum punya kesempatan lagi untuk bisa bercanda seperti
dulu. Fikiran-fikiran negatif akan ketidakcocokan aku-kamu juga membuat aku rasanya
malas untuk banyak berharap kamu untuk masih mengingat aku.
Entahlah, aku
tidak tahu apa aku masih jatuh cinta kepadamu seperti 10 bulan lalu atau cerita
aku-kamu sudah waktunya disudahi. Yang jelas, entah itu aku masih cinta atau
tidak, tapi kamu masih selalu aku fikirkan, khawatirkan, rindukan dan aku
kenang tiap hari. Namamu, ibu, ayah dan adikmu juga diam-diam masih ku sebut di
setiap doaku. Karena kenyataannya, kamu telah mengubah hidupku dan mengajarkan
aku banyak hal tentang kehidupan ini dan kepribadian kamu yang menyenangkan dan
inspiratif tentu tidak mungkin ada tanpa kehadiran sosok keluargamu. You’re
amazing because you have an amazing Dad and Mom, amazing brother and
exceptional path of life – that’s why I have to thank and love all of them as
well.
Allah, terima kasih Engkau telah
mengirimkan banyak orang-orang baik dalam hidupku..
Kadang aku
mengagumi bagaimana hidup bisa membuat segala hal yang tidak mungkin menjadi
mungkin. Seperti layaknya merancang pertemuan seorang aku dengan sesosok orang
asing yang pertama kali ia lihat di masjid – jangan kira pertemuan di masjid
itu adalah pertama kalinya aku melihat kamu, ternyata kamulah yang aku lihat di
kegiatan yang pernah kita lewati sebelumnya, hanya saja aku masih belum terlalu
sadar. Yes, I realized it was you at the day we meet and I asked about your
family - dan menjadikan orang asing itu seseorang yang akan ia kenang seumur
hidup sebagai cinta dan sahabat.
Hebatnya lagi,
jalan kehidupan bisa merubah sepasang orang asing yang dipertemukan, kemudian
menjalin cinta, kandas, lalu kembali menjadi orang asing bagi satu sama lain.
Well, aku sejujurnya nggak mau seperti itu. Dosa jika aku sengaja memutus
silaturahim antara aku-kamu. Tapi kadang, jika hubungan aku-kamu yang sudah
terlampau lama diperam namun belum bisa menjadi hubungan ‘kita’ dan pada
akhirnya bersifat destruktif pada satu pihak, aku rasa aku punya alasan pemaaf
untuk setidaknya mundur dan belajar untuk ‘fall out of love of you’. Karena
pesona kamu terlalu luar biasa, sampai-sampai aku yang malas mengerjakan
laporan Kerja Praktek ini kuat untuk menulis kenangan tentang kamu sampai 2000an
kata yang sebenarnya equal dengan 4 halaman laporan Kerja Praktek. Aku yakin
kalau aku-kamu masih sehangat dulu, pasti bisa jadi penyemangat ngerjain
laporanku, dan yakin 1 bulan laporanku beres :)
Hari ini, 4
Agustus , aku menyadari beberapa peristiwa penting yang pernah terjadi
dalam kisah aku-kamu ternyata diwarnai dengan berbagai kebetulan yang manis.
Entah itu hanya ‘coincidence’ atau mungkin ‘serendipity’. Namun aku berujung
pada keyakinan bahwa serangkaian perjalanan kisah aku-kamu dari PERSPEKTIFKU,
adalah sebuah ‘destiny’. Kata orang, daun jatuh dari dahan pohon saja sudah ada
catatan takdirnya dari Allah, maka tidak mungkin kejadian sehebat ini hanya
kebetulan kan? Entah itu memang akan ada kelanjutannya di masa depan (yang saat
ini sebenarnya sudah sangat aku ragukan) atau mungkin memang cukup dikenang
untuk dihayati hikmahnya.. Baiklah, aku coba ikhlaskan kisah aku-kamu untuk
tidak lagi ditunggu. Semoga aku-kamu bisa mencapai impian dan cita-cita and
see you in the halfway of fate – if we destined to be in love all over again
:’)
Aku.
Yogyakarta, 29 Agustus 2016

Awesome Story
BalasHapusHalo fis, ceritanya fiksi ko Wkwk :)
BalasHapusBase on True Story kali ah fir :))
BalasHapushehe, udah lalu piis. waktunya beranjak hijrah :))
BalasHapuscocok ini jadi penulis hipwee hehe
BalasHapusHehe masih amatir piis.. :D
BalasHapusengga kalah kok fir sama yang udah senior :))
BalasHapus