By: Ust. Abu Qawwam
Kita semua pernah punya mimpi.
Punya cita-cita.
Menjadi penghafal Qur'an.
Menjadi penjaga Al-Qur'an.
Menjadi Ahlul Qur'an.
Pada awalnya datang dengan agak malu-malu ke halaqohQur'an karena ingin bisa. Tapi sungkan juga karena merasabelum bisa.
Ingin kayak mereka, menjadi hafizh Qur'an.
Lalu datang tiap pekan.
Membaca Al-Qur'an menjadi nikmat. Hati menjadi lapang.
Dan mimpi pun mulai terjalin. Janji mulai tercipta.
Ingin menjadi penghafal Al-Qur'an. Ingin menjadi ahlul Qur'an.
Lalu waktu terus berjalan. Belajar menjadi keharusan. Jadwalmengajipun ditetapkan. Baca Al-Qur'an dirutinkan. Meski kemudian mulai berlomba dengan kesibukan.
Kalau tidak bertahan, mimpi akan terkikis pelan-pelan. Lalu lama-lama pudar. Akhirnya menyerah oleh keadaan.
"Saya nggak bisa."
"Saya nggak bakat."
"Saya malu mau bergabung lagi..."
***
Duhai jiwa... Jangan kalah oleh semangat setan. Mereka
membangun mimpi mereka di atas dendam dan kebencian.
Tapi ribuan tahun mereka tetap bertahan...
Sementara kita membangun mimpi ini di atas pondasi cinta.
Cinta kepada Allah...
Cinta Rasululah...
Maka buktikanlah bahwa ia lebih kuat dan lebih kokoh...
Target akhirnya adalah surga. Perjalanannya adalah
sepanjang usia. Tidak masalah belajarnya di sini atau di sana.
Yang penting esensinya sama.
Yang harus kita sesali adalah ketika kita berhenti. Tak
melakukan kebaikan itu lagi. Kita mengubah waktu rutin kita
menghafal Al-Quran dengan kegiatan yang tidak lebih baik
darinya...
Padahal maut adalah pasti.
Dan surgaNya adalah kerinduan sejati...
***
Menghafal Qur'an bukan sekedar status sosial atau kegiatan
pengisi waktu senggang.
Menghafal Qur'an adalah pekerjaan seorang Nabi.
Juga tugasnya Malaikat.
Menghafal Qur'an adalah tentang menjaga kalamullah. Di saat
banyak orang meninggalkannya...
Menghafal Qur'an adalah usaha meniti anak tangga setingkat
demi setingkat, menuju tingkatan surga yang tertinggi. Di
mana di ujungnya kita akan bersama Rasulullah dan semua
hamba Allah yang mulia.
Juga bertemu Dzat yang menciptakan langit, bumi dan semua
yang ada di antara keduanya...
Adakah pertemuan yang lebih indah selain pertemuan dengan
Allah di surga tertinggi sembari membawa kalamNya di lisan
dan dalam hati?
***
Kelelahan adalah hal wajar dalam perjalanan. Istirahat
sejenak. Lalu lanjutkan langkah.
Jangan berhenti, atau kita tidak akan sampai ke tempat
tujuan...
Jangan pernah kehilangan cita-cita...
Atau hidup hanya sekadar menunggu mati...
Tetaplah semangat...
Dan senantiasa berdoa...
Semoga Allah meridhai kehidupan kita...
Senin, 24 Oktober 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar