Rabu, 12 Oktober 2016

Ibu Bilang Ruang Tanpa Jeda itu; Rindu

Tepat kepulangan saya ketanah rantau.
Melangkahkan kaki meninggalkan Rumah merupakan hal yang tak pernah berubah, selalu berat untuk melangkah. Karena akan ada banyak cerita dan kisah yang perlu dikorbankan. Namun demi cita-cita masa depan, demi sebuah harapan yang kian menggantung tinggi di langit semesta saya percaya dan yakin, bawa apa-apa yang telah di korbankan selama ini akan diganti dengan nikmat yang tiada duga dari Semesta.
Lebih tepatnya, dan lebih pantasnya hal itu patut diberikan kepada Ibu. Biar Semesta yang mengganti setiap bulir doa, tetas air mata, ruam-ruam yang meluas sebab rindu yang kerap membuat beliau menggigil dan khawatir.

Lantas bagaimana jika dalam jeda ratusan kilometer rindu itu ikut merayap? Merekat pada peron-peron yang selalu berhasil mengantarkan kepergian. Menghadirkan tangis juga bahagia untuk sepasang mata yang enggan berpisah.

"Fira lagi apa? Mama kangen, biasanya pulang ada Fira, sekarang jadi sepi.hehe" ujar beliau di tengah percakapan  saya dengan beliau yang mengalir lembut via handphone.

Saya paham betul, bagaimana jarak itu kerap membuat kita harus terpisah dan menahan sakit tersebab rindu, ibu.

Tak perlu khawatir, Bu. Aku pun begitu rindu. Aku selalu rindu, namun ibu hanya perlu bersabar dan yakin bahwa ruang tanpa jeda itu akan segera menemukan muaranya.

Salam rindu dari Yogyakarta.
-Putri Sulungmu-
12 Oktober 2016


0 komentar:

Posting Komentar